jurnalistik.co.id – British American Tobacco (BAT) akan memangkas hampir seperlima tenaga kerja global sebagai bagian dari program penghematan besar. Perusahaan yang memproduksi Lucky Strike dan Dunhill menyebut pemangkasan tersebut menargetkan total sekitar 9.000 pekerjaan.
Menurut pengumuman yang disampaikan, BAT akan menghilangkan 5.500 peran kerja, dengan tambahan 3.500 pekerjaan dialihkan melalui outsourcing. Perusahaan juga menegaskan bahwa pemangkasan tidak akan berdampak pada pasar Amerika Serikat.
BAT menyatakan langkah ini sudah mulai berjalan dan ditargetkan selesai pada akhir tahun ini. Perusahaan menilai perubahan tersebut akan membuat bisnisnya “more agile, cost disciplined and technology enabled”, sejalan dengan strategi yang sebelumnya mereka umumkan.
Di awal tahun ini, BAT telah menyebut rencana penghematan untuk memperkuat fokus perusahaan agar “more digital and AI-focused”. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan berupaya menggeser posisi dari rokok konvensional ke produk alternatif berbasis produk konsumsi nikotin generasi berikutnya.
Perusahaan menyoroti bahwa penjualan rokok tradisional terus menyusut seiring semakin banyak perokok beralih ke vape dan nicotine pouches. Di sisi lain, BAT mengarahkan pertumbuhan pada alternatif tersebut, termasuk lini Vuse untuk vape dan Velo untuk nicotine pouches.
Namun, BAT juga mengakui bahwa performa penjualan dan margin keuntungan perusahaan selama beberapa tahun terakhir tidak sekuat yang diharapkan. Seiring peralihan pasar, BAT menghadapi tantangan yang tidak hanya berasal dari perubahan perilaku konsumen, tetapi juga dari kondisi biaya dan regulasi di berbagai wilayah.
Dalam konteks Amerika Serikat—yang menjadi pasar terbesar BAT—perusahaan menyebut penjualan ikut terkena dampak biaya hidup. BAT menjelaskan bahwa perubahan ini terjadi ketika sebagian konsumen beralih ke merek yang lebih murah, sehingga tekanan terhadap penjualan semakin terasa.
BAT juga menyebut adanya kenaikan bea/pungutan (duties) serta regulasi yang lebih ketat di beberapa pasar. Di saat yang sama, regulator AS dinilai mengambil sikap tegas terhadap persetujuan lisensi untuk produk baru seperti vape, yang berujung pada penundaan peluncuran.
BAT menyatakan penundaan tersebut turut memicu masuknya produk ilegal buatan produsen asal China dalam jumlah yang meningkat. Perusahaan menilai arus produk ilegal itu ikut membebani penjualan serta menekan pangsa pasar.
Dan Coatsworth, head of markets di AJ Bell, memberikan komentar mengenai proses transisi industri rokok. Ia mengatakan, “The tobacco industry has found the transition from cigarettes to next-generation products to be a slow one,” serta menambahkan, “Vaping is now commonplace, yet product manufacturers are battling challenging market conditions caused by a proliferation of illegal products.”
Lebih lanjut, perusahaan menjelaskan dampak program efisiensi terhadap struktur organisasinya. BAT saat ini mempekerjakan sekitar 47.000 orang di seluruh dunia, sehingga pemangkasan yang diumumkan menjadi bagian dari upaya mengubah model biaya dan operasi.
BAT memperkirakan pengurangan biaya tersebut dapat menghasilkan penghematan sekitar ÂŁ600 juta per tahun pada periode hingga 2028. Target tersebut menjadi salah satu alasan inti di balik keputusan pemangkasan tenaga kerja, termasuk pengalihan sebagian peran melalui outsourcing.
Dalam pernyataan yang disampaikan, CEO BAT, Tadeu Marroco, menegaskan perusahaan akan memandang perubahan ini sebagai langkah untuk menjaga daya saing. Marroco juga menyatakan, “These changes affect many of our colleagues, and we are focused on supporting them through this transition with care and respect, as we position the business for the future.”
Keputusan BAT datang di tengah lanskap industri yang terus bergerak menuju produk-produk alternatif. Di saat yang sama, pasar menghadapi ketidakpastian terkait persetujuan produk baru, sehingga strategi penguatan layanan dan teknologi menjadi semakin penting bagi perusahaan.
BAT menutup pengumuman dengan menyebut langkah pemangkasan sudah mulai diterapkan dan akan diselesaikan hingga akhir tahun ini. Bagi perusahaan, program ini menjadi tahap lanjutan untuk mendukung rencana digitalisasi serta penguatan fokus pada kecerdasan buatan, sejalan dengan pergeseran dari rokok konvensional menuju produk nikotin modern.












