jurnalistik.co.id – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan pemugaran Candi Prambanan akan membuka lapangan kerja, mulai dari para pemugar dan tukang batu hingga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon melalui video yang ia unggah di akun Instagram pribadinya, @fadlizon, pada Selasa (14/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa proyek pemugaran tidak hanya berorientasi pada pelestarian bangunan, tetapi juga pada penyediaan pekerjaan di lapangan.
Fadli Zon mengatakan, “Dan ini tentu akan membuat lapangan kerja baru bagi para pemugar, tukang-tukang, kemudian pembantu tukang-tukang, tukang batu,”
Pelatihan untuk tukang dan siswa SMK
Menurut Fadli Zon, keterlibatan tenaga kerja dapat mencakup tukang hingga tenaga-tenaga muda dari lingkungan pendidikan kejuruan. Ia menyebut adanya kemungkinan pelibatan siswa SMK jurusan pembangunan setelah dilakukan pelatihan.
Fadli Zon menuturkan, “Termasuk saya kira tenaga-tenaga muda mungkin teman-teman dari SMK Pembangunan, bagi yang berminat ya kita akan melakukan pelatihan,”
Dengan pola tersebut, ia memosisikan proses pemugaran sebagai ruang belajar praktik. Pelatihan yang dimaksud diarahkan agar peserta siap terlibat dalam pekerjaan penyusunan candi.
Di sisi lain, konservasi dan restorasi Candi Prambanan telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri India Narenda Modi pada Rabu (8/7/2026) pekan lalu. Proyek tersebut menargetkan pekerjaan pemugaran di dalam kompleks candi.
Dalam rencana restorasi, terdapat 224 candi kecil atau perwara yang akan direstorasi. Prabowo juga menyampaikan keinginannya agar pemugaran dapat diselesaikan lebih cepat, dengan tenggat sebelum 2029.
Berita Terkait
Prabowo mengatakan, “Di dalam proses pemugaran Candi Prambanan ini kalau bisa sebanyak-banyaknya, kalau bisa ya seluruhnya bisa berdiri,”
Fadli Zon menyinggung bahwa cara restorasi candi yang konvensional membutuhkan waktu lebih lama. Ia menjelaskan, untuk satu perwara saja, proses tersebut bakal memakan waktu satu tahun lebih, sehingga jika dikerjakan dengan pendekatan konvensional akan memerlukan waktu sampai 200 tahun untuk menyelesaikan seluruhnya.
Karena itu, proyek pemugaran akan ditempuh dengan pendekatan yang dipercepat di perbatasan Sleman dan Klaten. Fadli Zon menyampaikan bahwa batu-batu yang berserak akan dipindai terlebih dahulu untuk mengidentifikasi penyusunan hingga membentuk kembali struktur yang utuh.
Ia menambahkan, “Nah, batu-batu yang tidak tersedia, kita bisa gunakan batu-batu baru. Batu baru ini tapi sesuai tentu dengan jenisnya. Semaksimal mungkin, kita akan gunakan batu-batu aslinya yang ada yang berserakan di sana,”
Dengan langkah pemindaian, pekerjaan penyusunan diharapkan lebih cepat karena proses identifikasi bentuk utuh dilakukan lebih awal. Pada saat yang sama, pernyataan Fadli Zon tentang pelatihan juga menunjukkan bahwa proyek pemugaran dirancang untuk memberi ruang keterlibatan tenaga kerja lokal.
Secara keseluruhan, narasi yang disampaikan Fadli Zon merangkai dua tujuan: mempercepat restorasi Prambanan melalui metode yang lebih efisien, sekaligus membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi tukang batu dan siswa SMK melalui pelatihan penyusunan.
Fadli Zon juga menggambarkan bahwa manfaat proyek tidak berhenti pada pengerjaan inti, tetapi menjangkau berbagai lapisan kebutuhan tenaga di lapangan. Ia menyinggung keterlibatan tukang, pembantu tukang, hingga pekerja batu, serta menempatkan peran generasi yang lebih muda sebagai bagian dari rencana pelaksanaan.
Dalam narasi yang ia sampaikan, pelatihan menjadi jembatan agar peserta tidak hanya memahami teori, melainkan mendapatkan bekal praktik sebelum benar-benar ikut dalam kegiatan pemugaran. Ia menyebut adanya peluang pelibatan dari siswa SMK jurusan pembangunan setelah proses pembinaan, sehingga pekerjaan bisa diisi lebih terencana.
Sejalan dengan itu, Fadli menghubungkan percepatan restorasi dengan target penyelesaian yang diharapkan lebih singkat. Konservasi dan restorasi Candi Prambanan disebut telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri India Narenda Modi, dengan fokus pekerjaan pemugaran termasuk restorasi 224 candi kecil atau perwara serta upaya agar pekerjaan dapat selesai sebelum 2029.
Ia menambahkan bahwa pendekatan yang lebih konvensional dinilai memerlukan waktu lebih lama. Karena itu, proyek akan menggunakan metode percepatan di perbatasan Sleman dan Klaten, dimulai dari pemindaian batu-batu yang berserakan untuk mengenali susunan hingga kembali membentuk struktur yang utuh, lalu bila ada batu yang tidak tersedia dapat diganti dengan batu baru yang tetap disesuaikan jenisnya.












