jurnalistik.co.id – Langkah Inggris di Piala Dunia 2026 hampir runtuh di Atlanta, sebelum Harry Kane menyalakan momen-momen penentu yang mengubah arah pertandingan melawan DR Congo. Di stadion futuristik yang berada di bawah atap, Inggris akhirnya lolos ke babak 16 besar berkat dua gol Kane, termasuk gol kemenangan yang datang menjelang akhir.
Menurut Phil McNulty, aksi penyelamatan Kane bukan sekadar koleksi gol, melainkan titik terbesar dalam kariernya bersama timnas Inggris. Ia menggambarkan situasi ketika Inggris tertinggal lama, nyaris jatuh ke skenario memalukan dengan skala yang mengingatkan pada kekalahan Euro 2016 dari Islandia maupun kegagalan Inggris di Piala Dunia 1950 melawan Amerika Serikat.
Ritme laga sempat memihak DR Congo. Inggris kesulitan mengurai pertahanan lawan hingga Kane tampil sebagai penentu ketika waktu tinggal tersisa. Dengan sekitar 15 menit di papan, Kane mengirimkan sundulan melewati kiper Lionel Mpasi, yang sejak awal berkali-kali menunjukkan ketangguhan melalui serangkaian penyelamatan gemilang.
Gol penyeimbang lalu keputusan akhir
Ketika pertandingan mendekati menit-menit krusial, Kane kembali mengambil peran yang sama seperti yang kerap ia lakukan. Tepat sekitar empat menit sebelum peluit akhir, ia mempersembahkan kilatan brilian untuk memastikan Inggris menuju panggung besar babak 16 besar di Stadion Azteca, Mexico City, menghadapi tuan rumah bersama Meksiko.
Gol kedua itu lahir dari umpan Anthony Gordon yang tampil sebagai pengganti dan memberi dampak langsung. Gordon terlibat pada dua gol serta mampu menggeser bola dari pengawalan pemain DR Congo sebelum melepaskan tendangan kaki kanan yang meluncur deras dan mengarah tinggi, melewati Mpasi yang “hampir tidak punya waktu” untuk bereaksi.
Ledakan reaksi Inggris menjadi pemandangan yang membaur dengan rasa lega. McNulty menilai, dari performa yang sempat tampak buruk, semuanya berbalik menjadi kemenangan dramatis melalui tangan kapten mereka sendiri. Ia juga mengaitkan kemenangan ini dengan tekanan yang seharusnya terus menguat—baik bagi Thomas Tuchel maupun bagi Football Association yang sejak awal menaruh keyakinan besar terhadap misi memenangkan Piala Dunia 2026.
Tuchel: Golden Boot jadi sprint, Kane jadi pusat
Usai laga, Tuchel menempatkan Kane dan persaingan top skor dalam kerangka yang ia yakini akan berlangsung sengit. Ia mengatakan: “They are all sharks. They smell blood.” Tuchel juga menambahkan refleksinya tentang pola permainan di turnamen ini: “These big guys at this World Cup, do they watch each other? And then they go ‘not with me, then I score, then I do a hat-trick, then you go’. What is going on? Crazy.”
Dalam penilaian yang lebih personal, Tuchel memuji Kane sebagai pemimpin. “Harry is so, so good. He’s our captain. He’s our leader. He decides football matches with unbelievable finishes and did it here twice. The second one was just a brilliant goal.”
Secara statistik, Kane kini mengoleksi lima gol di Piala Dunia 2026. McNulty menyebut perebutan Golden Boot menjadi sprint di antara Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Lionel Messi. Di sisi rekor, Kane bergerak melampaui Pele untuk menempati posisi keenam bersama di daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan total 13 gol. Ia juga menyamai Ferenc Puskas, legenda Hungaria, di peringkat kesembilan dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk level internasional.
Kemenangan di Atlanta turut mengukuhkan sejarah peran Kane. Ia menjadi pemain Inggris pertama yang mencetak dua gol dalam satu pertandingan knockout Piala Dunia sejak Gary Lineker saat melawan Kamerun pada 1990. Dengan tambahan ini, Kane kini mengemas lima gol di babak knockout Piala Dunia; hanya Lineker yang lebih banyak untuk Inggris dengan enam gol. McNulty menutup bagian paling mencolok dengan catatan performa musim ini: Kane mencapai 72 gol dalam 62 pertandingan untuk klub dan timnas, dengan rincian 11 gol untuk Inggris dan 61 gol untuk Bayern Munich.
Puji konsistensi dari Bellingham dan Gordon
Dalam sorotan lain, usia 32 tahun ternyata tidak mengurangi kapasitas Kane. McNulty menilai Kane “semakin membaik seiring bertambahnya usia”, bukan hanya lewat kemampuan mencetak gol, tetapi juga melalui variasi umpan dan kepemimpinan lewat teladan. Jude Bellingham menyampaikan bahwa ia akan menoleh ke nama Kane bertahun-tahun ke depan sebagai sosok yang membuatnya bangga: “Anyone can score a good goal. Anyone at this level can put the ball in the top corner, but it’s the consistency which with he does it. Every day in training. Every game. It’s phenomenal. He plays at such a high level.”
Gordon melanjutkan pujiannya dengan kalimat yang menegaskan dampak keseharian berada di dekat pemain kelas dunia: “It’s amazing to be around him every day. When you are around someone at the elite level, he’s at the very top of football. He’s having a season that has only ever been beaten by Lionel Messi – the greatest player of all time.” Ia menambahkan: “That speaks to the level he’s playing at. When you’re around someone like that, you want to pick up as many habits, and watch everything he does, to see why he’s at that level.”
Gordon juga menyoroti etos kerja Kane: “It’s no accident. How hard he works. He does it with passion. He does it with seriousness. He never, ever messes about. It’s amazing to be around him and he’s definitely an inspiration to all of us.”
Kane bicara soal mimpi, teladan, dan tanggung jawab
Di akhir penjelasan, Kane menegaskan bahwa setiap langkah di turnamen ini berangkat dari kedekatannya dengan mimpi masa kecil. Ia mengatakan: “I remember being a kid and watching England growing up, watching the World Cup and dreaming of being here one day.”
Ia menambahkan bahwa ia berusaha membawa fokus itu saat masuk lapangan: “I try not to forget that when I’m walking onto the pitch. I try and be the best version of myself. I know there are millions of boys and girls around the world watching a tournament like this.” Kane menutup dengan prinsip yang menjadi motto: “Leading by example is one of my biggest traits and my biggest mottos I try to live by. Whenever I’m on that pitch I try and do my best for the country.”
Setelah Atlanta, peta laga bergeser ke Mexico City dan “panas” atmosfer Stadion Azteca. Meksiko hanya kalah dua kali dalam 88 pertandingan kompetitif terakhir di kandang. Inggris juga membawa memori terbaru yang pahit di venue itu, yaitu momen “Hand Of God” milik Diego Maradona pada perempat final Piala Dunia 1986 melawan Argentina. Calon lawan bertabur ambisi: Meksiko tercatat memiliki 70 kemenangan dari 89 pertandingan kompetitif serta menjalani 10 laga Piala Dunia tanpa kekalahan di stadion tersebut.
Dengan perpindahan ke ketinggian setelah pertandingan di Dallas dan Atlanta yang dimainkan di stadion tertutup, serta setelah jeda di Boston dan Stadion New York New Jersey yang diwarnai hujan mendinginkan, Inggris menghadapi tugas besar di Meksiko. Namun seperti yang terbukti di Atlanta, harapan Inggris seolah bertumpu pada satu nama: ketika Harry Kane berada di lapangan, peluang itu selalu terasa hidup.












