Bisnis & Ekonomi

Bitcoin (BTC) Menguat ke 60.000 USD usai Pernyataan Kevin Warsh soal Inflasi

×

Bitcoin (BTC) Menguat ke 60.000 USD usai Pernyataan Kevin Warsh soal Inflasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bitcoin (BTC) Rebound ke 60.000 Dollar AS, Usai Pernyataan Ketua The Fed soal Inflasi

jurnalistik.co.id – Bitcoin kembali bergerak menguat setelah Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, menyatakan bahwa risiko inflasi dinilai sudah mereda. Pernyataan itu datang dalam forum Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) di Sintra, Portugal, dan mendorong pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi.

Pada Rabu (2/7/2026) waktu setempat, harga Bitcoin menembus level 60.000 dollar AS. Setelah sempat melemah sebelumnya, aset kripto tersebut kembali diperdagangkan di atas ambang psikologis itu.

Menurut data CoinDesk yang disebut dalam laporan tersebut, Bitcoin menguat lebih dari 2 persen dalam 24 jam terakhir. Pergerakan itu dipautkan langsung dengan cara Warsh membingkai prospek inflasi dan fokus utama kebijakan moneter The Fed.

Dalam panel diskusi tahunan ECB, Warsh tidak memberikan petunjuk mengenai keputusan suku bunga The Fed berikutnya. Ia menekankan bahwa pembuat kebijakan masih akan menelaah berbagai data ekonomi yang masuk menjelang pertemuan The Fed empat pekan mendatang.

Warsh menyatakan bahwa inti dari kebijakan bank sentral AS tetap pada stabilitas harga. Ia juga menegaskan komitmen untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.

“Risiko inflasi telah menurun. Jika ada rumah tangga, pelaku usaha, maupun pelaku pasar keuangan yang mengira bank sentral akan merasa nyaman dengan target inflasi di atas 2 persen, maka mereka akan kecewa. Kami akan mewujudkan stabilitas harga di Amerika Serikat,” ujar Warsh dikutip dari CoinDesk, Kamis (2/7/2026).

Dorongan tersebut membuat prospek kebijakan moneter dipersepsikan lebih tegas dalam menjaga sasaran inflasi. Dengan demikian, pasar menangkap sinyal bahwa toleransi terhadap inflasi di atas target tidak akan menjadi opsi kebijakan.

Di luar isu inflasi, Warsh juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai faktor yang berpotensi mengubah struktur perekonomian Amerika Serikat. Ia menilai lonjakan investasi pada sektor AI saat ini mendorong peningkatan belanja modal atau capital expenditure (capex), yang masih terutama terlihat dari sisi permintaan.

Namun, Warsh memperkirakan dampak berikutnya adalah bertambahnya kapasitas dari sisi penawaran ekonomi. Dengan kata lain, investasi AI tidak hanya berpengaruh pada aktivitas jangka pendek, tetapi juga dapat mengubah kemampuan produksi di periode setelahnya.

Warsh membedakan kondisi saat ini dengan fase sebelumnya ketika banyak perusahaan lebih banyak menggunakan pendekatan rekayasa keuangan. Ia menyebut pembelian kembali saham (share buyback) sebagai contoh strategi yang lebih dominan pada periode itu.

Menurut Warsh, kini perusahaan cenderung meningkatkan investasi karena meyakini AI mampu meningkatkan kapasitas produksi. Perubahan perilaku korporasi itu, bila benar-benar menghasilkan perluasan sisi penawaran, disebutnya akan membawa implikasi yang sangat besar terhadap kebijakan moneter.

Meski demikian, Warsh menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti. Penilaiannya menunjukkan bahwa hubungan antara investasi AI, ekspansi kapasitas, dan respons kebijakan moneter masih memerlukan waktu untuk terlihat lebih jelas.

Bahas cara bank sentral memberi sinyal kebijakan

Forum ECB di Sintra juga dihadiri Presiden ECB Christine Lagarde, Gubernur Bank Sentral Inggris Andrew Bailey, serta Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem. Dalam pembahasan yang lebih luas, para pejabat bank sentral sepakat bahwa saatnya bank sentral mengurangi penggunaan panduan kebijakan (forward guidance) yang terlalu eksplisit.

Lagarde menyampaikan bahwa ia menyesali pernah merasa “terikat dan terdorong” oleh pendekatan forward guidance. Ia kemudian memperkenalkan konsep “framework guidance”, yaitu pendekatan di mana ECB menjelaskan kerangka dan pertimbangan dalam mengambil keputusan, tanpa memberikan sinyal arah suku bunga yang telah ditetapkan sebelumnya.

Warsh menyampaikan pandangan yang sejalan. Ia menilai prioritas utama Federal Reserve adalah menghasilkan kebijakan yang tepat, sehingga kualitas keputusan tidak boleh dikompromikan oleh instrumen komunikasi yang justru menghambat proses pengambilan keputusan terbaik.

Dengan posisi tersebut, perdebatan tentang komunikasi kebijakan menjadi bagian penting dari konteks pasar dan kebijakan moneter. Ketika bank sentral mengubah cara menyampaikan arah kebijakan, interpretasi pelaku pasar terhadap prospek inflasi dan suku bunga juga berpotensi bergeser.

Di tengah dinamika tersebut, pernyataan Warsh mengenai inflasi yang dinilai telah menurun ikut menjadi pemicu langsung penguatan harga Bitcoin. Kombinasi antara komitmen pada target 2 persen dan sikap yang tidak memberikan panduan suku bunga secara spesifik membuat pasar membaca ruang kebijakan sebagai lebih terarah.

Hingga laporan ini dibuat, sinyal itu juga tersambung dengan narasi tambahan Warsh soal AI dan kemungkinan dampaknya pada struktur ekonomi. Walau demikian, karena Warsh menyebut kesimpulan masih terlalu dini, pasar tetap menunggu data dan perkembangan berikutnya dari agenda pertemuan The Fed dalam empat pekan mendatang.