Teknologi

WP2Shell: Celah Kritis WordPress Dieksploitasi, Hacker Bisa Mengambil Alih Website

×

WP2Shell: Celah Kritis WordPress Dieksploitasi, Hacker Bisa Mengambil Alih Website

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Waspada! Bug Kritis di WordPress Bisa Bikin Website Dibajak Hacker

jurnalistik.co.id – Kerentanan keamanan pada WordPress kembali menjadi perhatian karena dua celah berbahaya yang dilaporkan tengah dimanfaatkan oleh peretas. Kerusakannya tidak hanya bersifat teoritis; serangan yang memanfaatkan celah ini disebut dapat berujung pada pengambilalihan penuh situs.

Peneliti keamanan siber menyebut dua celah tersebut dengan nama WP2Shell. Keduanya tercatat sebagai CVE-2026-60137 dan CVE-2026-63030, dan rilisnya berlangsung tak lama setelah pengungkapan oleh pihak yang menemukan masalah.

Penemuan awal berasal dari Searchlight Cyber. Dari analisis dampaknya, celah memengaruhi WordPress versi 6.9.0 hingga 6.9.4, serta WordPress versi 7.0.0 hingga 7.0.1. Dengan kata lain, situs yang masih berada di rentang versi tersebut berada pada area risiko yang perlu segera ditangani.

Yang membuat WP2Shell makin mengkhawatirkan adalah kemudahan eksploitasi yang dilaporkan. Menurut Searchlight Cyber, serangan tidak bergantung pada plugin tertentu dan tidak membutuhkan akses pengguna terdaftar.

“Serangan ini tidak memiliki prasyarat dan dapat dieksploitasi oleh pengguna anonim pada instalasi WordPress standar tanpa plugin,” ungkap Searchlight Cyber.

Dalam praktiknya, kemudahan seperti ini berpotensi memperluas jumlah target. Serangan tidak harus menunggu adanya perangkat tambahan, dan pelaku tidak perlu melalui tahapan autentikasi untuk memulai upaya eksploitasi.

Selain aspek kemudahan, kedua celah yang berbeda juga disebut memiliki fungsi yang saling melengkapi. Jika berdiri sendiri, masing-masing celah sudah bernilai tinggi untuk dimanfaatkan. Namun, kombinasi keduanya dapat memberikan akses penuh kepada penyerang.

Untuk CVE-2026-60137, sifat masalahnya adalah SQL Injection dengan tingkat keparahan tinggi. Sementara itu, CVE-2026-63030 dikategorikan sebagai Remote Code Execution (RCE) yang masuk kategori kritis. Perbedaan ini penting karena SQL Injection berhubungan dengan manipulasi kueri, sedangkan RCE membuka kemungkinan mengeksekusi kode berbahaya pada server.

Ketika CVE-2026-60137 dan CVE-2026-63030 digabung dalam skenario serangan, peretas dapat menjalankan kode berbahaya tanpa harus melakukan login. Dampak akhirnya diarahkan pada pengambilalihan penuh terhadap situs WordPress yang menjadi target.

Walau Searchlight Cyber memilih tidak mempublikasikan rincian teknis untuk menekan penyalahgunaan, tidak berarti celah ini tetap diam. Disebutkan bahwa pihak lain sudah merilis proof-of-concept (PoC) eksploitasi, sehingga upaya pemanfaatan dapat dilakukan lebih cepat oleh pelaku yang mencari pola serangan.

Kabar ini turut diperkuat oleh laporan dari sejumlah perusahaan keamanan. Patchstack melaporkan telah mendeteksi upaya eksploitasi terhadap celah yang dimaksud. Laporan serupa juga dikonfirmasi oleh Hexastrike yang menemukan aktivitas serangan melalui sistem honeypot miliknya, sekaligus terlibat dalam penanganan beberapa insiden yang timbul akibat eksploitasi tersebut.

Selain dua perusahaan itu, WatchTowr juga menemukan indikasi aktivitas eksploitasi yang sejenis. CEO WatchTowr, Benjamin Harris, menilai potensi dampaknya sangat luas karena WordPress digunakan oleh ratusan juta situs web di seluruh dunia.

Harris juga menyoroti perubahan pola waktu antara pengungkapan kerentanan dan munculnya serangan di lapangan. Menurutnya, jeda yang dulu relatif lebih panjang kini menjadi lebih singkat.

“Dulu eksploitasi biasanya muncul setidaknya 24 jam setelah kerentanan diumumkan. Kini, berkat bantuan AI, contoh eksploitasi bisa muncul hanya dalam hitungan jam,” ujar Benjamin Harris.

Catatan tersebut menggambarkan tantangan baru bagi pengelola situs: respons teknis harus lebih cepat karena siklus dari pengungkapan ke upaya pemanfaatan tidak lagi berjalan lama. Di situasi seperti ini, pembaruan sistem menjadi langkah yang menentukan apakah situs bisa terlindungi sebelum dieksploitasi.

Langkah mitigasi dan pembaruan darurat

Merespons situasi tersebut, WordPress merilis pembaruan keamanan melalui versi 6.9.5 dan 7.0.2. Rilis ini dibuat sebagai pembaruan darurat untuk menutup kerentanan yang disebut tengah dieksploitasi.

Mengingat tingkat risiko yang dinilai tinggi, tim WordPress juga mengaktifkan pembaruan otomatis untuk situs yang masih menjalankan versi terdampak. Kebijakan ini bertujuan mengurangi kemungkinan situs tertinggal di versi yang rentan.

Di sisi lain, Cloudflare turut melakukan mitigasi dengan menambahkan aturan keamanan baru untuk mendeteksi upaya eksploitasi pada situs pelanggan yang belum sempat diperbarui. Dengan demikian, pada lapisan jaringan atau edge, upaya eksploitasi diharapkan dapat teridentifikasi lebih awal.

Dengan mempertimbangkan eskalasi pemanfaatan dan kecepatan kemunculan contoh eksploitasi, pengguna WordPress diimbau segera memastikan situs mereka telah diperbarui ke versi terbaru. Serangkaian langkah mitigasi dari WordPress dan penyedia layanan keamanan menunjukkan bahwa masalah ini ditangani dengan prioritas tinggi.

Untuk mengurangi risiko pengambilalihan, fokus utamanya adalah memastikan instalasi WordPress tidak lagi berada pada rentang versi yang disebut terdampak. Pembaruan ke 6.9.5 dan 7.0.2 menjadi acuan yang disampaikan dalam rilis darurat tersebut.

Dalam konteks serangan yang dilaporkan dapat dimulai oleh pengguna anonim pada instalasi standar tanpa plugin, pengelola situs tidak dapat mengandalkan asumsi bahwa “tidak ada plugin” berarti aman. Karena itu, respons yang paling relevan adalah pembaruan perangkat lunak secepat mungkin, sesuai anjuran yang dikeluarkan saat kerentanan ini mulai dieksploitasi.

Pada akhirnya, kasus WP2Shell memperlihatkan bagaimana kerentanan WordPress dapat berkembang menjadi masalah operasional yang nyata ketika eksploitasi mulai terpantau oleh berbagai perusahaan keamanan. Kecepatan respons pengelola situs akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah situs tetap terlindungi setelah celah tersebut diketahui dan dimanfaatkan.