jurnalistik.co.id – JAKARTA — Sejak perang Iran meletus pada 28 Februari 2026, puluhan fasilitas dan infrastruktur energi di berbagai titik kawasan Timur Tengah sudah hancur. Serangan ke sektor energi memperburuk pasokan, memicu kekhawatiran dunia, dan membuat pasar global bergerak lebih hati-hati.
Dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran itu kembali muncul setelah serangan dan ancaman terhadap fasilitas energi di kawasan Gulf meningkat di tengah konflik Iran. Jalur tanker diawasi ketat, sementara pelaku pasar menghitung kemungkinan gangguan pasokan minyak dan gas dunia.
Reaksinya sering sangat cepat. Bahkan sebelum kerusakan besar benar-benar terjadi, harga energi biasanya sudah lebih dulu bergerak karena pasar mulai memperhitungkan risiko terhadap aliran energi global.
Jalur energi paling sensitif di dunia
Sebagian besar perhatian global biasanya langsung tertuju pada Selat Hormuz, jalur laut sempit di antara Iran dan Oman yang menangani sekitar 20% perdagangan minyak dunia setiap hari. Bukan hanya minyak, Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar dunia juga sangat bergantung pada jalur itu untuk mengirim gas alam cair ke Asia dan Eropa.
Karena itu, ketika ketegangan meningkat di sekitar Hormuz, pasar energi global hampir selalu ikut bereaksi. Ancaman terhadap jalur tersebut saja sudah cukup untuk membuat pelaku pasar menghitung ulang risiko pasokan.
Kilang dan terminal minyak
Ruwais di UEA, salah satu kompleks kilang terbesar dunia, mengalami beberapa kebakaran akibat puing intersepsi pertahanan udara pada 5 April, menurut pemerintah Abu Dhabi. Di Arab Saudi, Saudi Aramco sempat menghentikan sementara operasi di Ras Tanura, fasilitas pemrosesan minyak terbesar kerajaan dengan kapasitas sekitar 550.000 barel per hari, setelah serangan drone di awal perang.
Samref di Arab Saudi juga terdampak ketika drone dilaporkan jatuh di kilang itu pada 19 Maret. Fasilitas ini sebagian dimiliki Exxon Mobil.
Di Bahrain, Bapco Energies yang berkapasitas sekitar 400.000 barel per hari mengalami kerusakan dan sempat mendeklarasikan force majeure pada sebagian operasi yang terdampak. GPIC juga terbakar setelah serangan drone pada 5 April.
Kuwait Petroleum Corporation mengatakan sejumlah fasilitas milik Kuwait National Petroleum Co. dan Petrochemical Industries Co. mengalami kerusakan signifikan setelah serangan pada 5 April. Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di Mina Al-Ahmadi pada 3 April, dan fasilitas itu sempat terkena serangan dalam dua hari berturut-turut bulan lalu.
Di Kuwait, kebakaran di Mina Abdullah juga berhasil dipadamkan setelah serangan pada 19 Maret. Sementara itu, operasi di fasilitas Lanaz di Erbil, Irak, dihentikan sementara setelah kebakaran akibat serangan drone, menurut Reuters.
Gas dan LNG
QatarEnergy mengatakan fasilitas LNG Ras Laffan terkena rudal Iran yang memicu kebakaran dan kerusakan besar, termasuk di pabrik gas-to-liquids milik Shell. QatarEnergy juga mendeklarasikan force majeure pada sebagian kontrak pasokan LNG jangka panjang.
Di UEA, Abu Dhabi menghentikan operasi di Habshan, fasilitas pemrosesan gas terbesar negara itu, setelah serangan memicu kebakaran. Das Island LNG juga beroperasi pada level rendah akibat kesulitan ekspor melalui Selat Hormuz.
Di Iran sendiri, Israel menyerang fasilitas South Pars pada 18 Maret. Kebakaran membuat beberapa unit produksi dihentikan, menurut Tasnim.
Stasiun pengatur tekanan gas dan bangunan administratif terkait di Isfahan juga menjadi target serangan AS-Israel, menurut Fars. Di Shah, UEA, operasi dihentikan setelah serangan drone Iran pada 16 Maret memicu kebakaran di ladang gas Shah.
Ladang minyak dan industri
Kementerian Minyak Irak mengatakan ladang minyak Majnoon menjadi target serangan, meski tanpa detail tambahan. Di Arab Saudi, ladang minyak Shaybah yang berkapasitas sekitar 1 juta barel per hari beberapa kali menjadi target drone, meski belum ada laporan kerusakan besar.
Proyektil juga menghantam area PLTN Bushehr pada 27 Maret, menurut Fars. Iran mengatakan tidak ada kerusakan pada fasilitas utama.
Di UEA, Emirates Global Aluminium mengatakan fasilitas Al Taweelah mengalami “kerusakan signifikan” akibat serangan Iran pada 28 Maret. Bahrain Aluminium Bahrain mengatakan sedang mengevaluasi tingkat kerusakan setelah serangan Iran.
Sementara itu, Mobarakeh Steel di Iran menghentikan seluruh produksi setelah serangan merusak sejumlah unit penting, menurut Nour News.
Pelabuhan dan jalur pelayaran
Di Arab Saudi, aktivitas pemuatan di pelabuhan Laut Merah Yanbu kembali dibuka pada 19 Maret setelah sempat dihentikan akibat serangan Iran. Di UEA, pelabuhan Fujairah beberapa kali menghentikan operasi akibat serangan drone, padahal lokasinya penting karena berada di luar Selat Hormuz.
DP World juga sempat menghentikan sementara operasi di pelabuhan kontainer terbesar Dubai, Jebel Ali, sebagai langkah pencegahan. Di Khor Fakkan, puing intersepsi pertahanan udara jatuh pada 5 April dan memicu kebakaran.
Pelabuhan Sohar di Oman kembali beroperasi setelah sebelumnya ditutup akibat serangan drone. Terminal ekspor minyak Mina Al Fahal juga kembali dibuka pada 12 Maret setelah sempat ditutup sebagai langkah pencegahan.
Salalah di Oman menghentikan operasi setelah serangan pada 28 Maret, menurut Inchcape Shipping Services. Di Bahrain, unit APM Terminals milik Maersk menghentikan operasi di pelabuhan Khalifa Bin Salman pada 12 Maret.
Di Iran, serangan AS-Israel menargetkan pelabuhan Shahid Haghani di Bandar Abbas dekat Selat Hormuz, menurut Tasnim.
Kenapa pasar langsung panik?
Harga minyak sering naik bahkan sebelum kerusakan besar benar-benar terjadi. Pasar biasanya langsung menghitung kemungkinan terburuk, mulai dari ekspor yang terganggu, tanker yang tak bisa lewat dengan aman, sampai ancaman penutupan Selat Hormuz.
Itulah sebabnya ancaman terhadap fasilitas energi Gulf saja sering cukup untuk mengguncang pasar global. Pada 2019, serangan terhadap fasilitas Abqaiq Saudi Aramco sempat memangkas sekitar 5% pasokan minyak global dalam waktu singkat.
“Energy markets trade on fear as much as actual disruption,” kata Bob McNally, pendiri Rapidan Energy Group.
Dunia masih sangat bergantung pada energi Teluk
Di tengah pertumbuhan kendaraan listrik dan energi terbarukan, kawasan Gulf tetap menjadi salah satu pusat energi paling penting di dunia. Konsumsi minyak global masih berada di atas 100 juta barel per hari.
Qatar masih memasok LNG untuk Asia dan Eropa, sementara Arab Saudi dan UEA tetap menjadi pemain utama energi global. Karena itu, gangguan di beberapa titik energi di kawasan gurun Timur Tengah masih bisa terasa sampai ke harga bensin, biaya logistik, dan inflasi dunia.
“Banyak orang bicara soal akhir era minyak, tetapi ekonomi global saat ini masih berjalan menggunakan energi fosil,” kata Helima Croft dari RBC Capital Markets.












