jurnalistik.co.id – Dua model AI Jepang, Sakana AI, hadir sebagai alternatif setelah pemerintah Amerika Serikat memerintahkan Anthropic memblokir dua modelnya. Startup bermarkas di Tokyo itu meluncurkan Fugu dan Fugu Ultra pada Selasa (23/6/2026).
Peluncuran tersebut menarik perhatian karena Sakana AI menyebut Fugu Ultra mampu menyaingi performa Claude Fable 5 dan Mythos Preview pada sejumlah tes kemampuan AI. Dengan demikian, perusahaan menilai produknya bisa mengisi celah yang ditinggalkan setelah dua model paling canggih milik Anthropic harus dimatikan.
Sebelum mengulas detail produknya, perlu melihat dulu peristiwa yang menjadi pemicunya. Pada 9 Juni 2026, Anthropic merilis Claude Fable 5 dan Mythos 5 sebagai model AI paling canggih mereka pada saat itu.
Tiga hari kemudian, tepatnya 12 Juni 2026, pemerintah AS mengeluarkan surat perintah yang memaksa Anthropic memutus akses ke kedua model tersebut. Alasannya berkaitan dengan kontrol ekspor dan keamanan nasional, khususnya terkait kemampuan kedua model menganalisis kode keamanan siber.
Anthropic kemudian terpaksa mematikan akses Fable 5 dan Mythos 5 untuk seluruh pengguna global. Perusahaan menyatakan tidak ada cara praktis untuk memilah pengguna AS dengan warga negara asing dalam hitungan jam.
Akibatnya, banyak perusahaan dan developer yang sebelumnya membangun aplikasi di atas Fable 5 langsung kehilangan akses. Mereka pun membutuhkan alternatif yang bisa menggantikan fungsi model yang sebelumnya digunakan.
Kebutuhan alternatif mendorong hadirnya Fugu
Tepat 11 hari setelah penonaktifan Fable 5, Sakana AI muncul dengan Fugu. Langkah ini mempertegas bahwa ketika akses ke model tertentu berhenti, kebutuhan untuk menjaga kelangsungan produk berbasis AI menjadi sangat cepat.
Menurut Sakana AI, Fugu bukan sekadar model AI bahasa besar atau Large Language Model (LLM) seperti pada umumnya. Perusahaan menyebut Fugu sebagai “sistem orkestrasi multi-agen yang bisa diakses lewat satu API model”.
Penjelasan tersebut menekankan perbedaan pendekatan dibanding menjalankan satu model besar yang bekerja sendiri untuk menjawab berbagai permintaan. Dalam rancangan Sakana AI, Fugu berperan mengoordinasikan kerja banyak model AI lain.
Tim Sakana AI menjelaskan cara kerjanya dengan analogi dirigen orkestra. Sejumlah model AI yang sudah ada, termasuk dari OpenAI, Google, hingga model open source, ditempatkan sebagai pemain instrumen, sementara Fugu berperan mengatur siapa yang sebaiknya digunakan ketika ada pertanyaan.
Ketika menerima kueri, Fugu akan menentukan model mana yang paling cocok untuk menjawab. Pilihannya bisa hanya satu model, atau beberapa model sekaligus, lalu hasil dari model-model tersebut digabungkan dan disajikan kepada pengguna seakan-akan jawaban itu datang dari satu model AI saja.
Dalam rilis teknis perusahaan, Sakana AI juga menyertakan penjelasan yang berbentuk kutipan langsung. “Fugu adalah LLM yang dilatih untuk memanggil berbagai LLM dalam kelompok agen, termasuk versi dirinya sendiri secara berulang,” jelas tim Sakana AI dalam rilis teknis perusahaan.
Dengan kerangka orkestrasi multi-agen tersebut, klaim Sakana AI pada Fugu dan Fugu Ultra berangkat dari upaya untuk tetap menyediakan kemampuan yang relevan di saat akses ke model tertentu sedang dibatasi. Dari sisi pasar, kemunculan produk Jepang ini sekaligus menjadi jawaban atas kebutuhan yang muncul setelah gelombang pemadaman akses Anthropic mengganggu ekosistem yang sudah terlanjur bergantung pada Claude Fable 5 dan Mythos 5.
Rangkaian kejadian itu menggambarkan perubahan cepat di ekosistem pengembangan AI. Setelah model yang sebelumnya menjadi tumpuan ditutup untuk pengguna global, kebutuhan untuk segera memastikan kesinambungan layanan membuat perusahaan harus mencari teknologi pengganti dalam waktu yang relatif singkat. Di titik inilah Sakana AI menempatkan peluncuran Fugu dan Fugu Ultra sebagai respons yang ditujukan untuk mengurangi dampak pemadaman tersebut.
Dalam konsep orkestrasi multi-agen yang dikemukakan Sakana AI, Fugu tidak hanya “memilih jawaban” dari satu model tunggal. Perannya lebih mirip lapisan pengarah yang memutuskan model mana yang perlu dipanggil saat sebuah kueri datang, termasuk kemungkinan melibatkan lebih dari satu model secara bersamaan. Setelah beberapa model menghasilkan keluaran, Fugu kemudian menyatukan hasilnya agar pengguna merasakan respons sebagai satu rangkaian jawaban dari sistem yang terkoordinasi.
Sakana AI juga menegaskan bahwa Fugu Ultra dirancang untuk mempertahankan performa yang setara pada sejumlah tes kemampuan AI. Dengan menempatkan klaim perbandingan terhadap model lain yang disebut dalam rilis, perusahaan berupaya menunjukkan bahwa produk barunya tidak berhenti pada penggantian fungsi secara dasar, melainkan mencoba menutup celah performa yang ditinggalkan setelah akses ke dua model milik Anthropic dihentikan.






