jurnalistik.co.id – Pemerintah menaruh perhatian pada Kota Bitung, Sulawesi Utara, sebagai lokasi pengembangan pusat data (data center) baru di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Bitung memiliki salah satu titik pendaratan kabel bawah laut yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurut Airlangga, potensi tersebut bisa diarahkan untuk mendukung tumbuhnya industri digital. Pemerintah, kata dia, telah mengusulkan agar kawasan industri yang tersedia di Bitung diarahkan untuk pengembangan data center.
Airlangga menyampaikan hal itu dalam Seminar IDPRO di Hotel InterContinental Pondok Indah, Jakarta, pada Rabu (24/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menilai peluang Bitung cukup besar karena posisi konektivitasnya memungkinkan jangkauan hingga kawasan yang lebih luas.
“Landing point satu yang belum tersentuh itu sebetulnya ada di Sulawesi Utara, di Bitung. Jadi itu kesempatan yang besar sebetulnya, karena dari Bitung itu dia ke Hawaii sama bisa ke utara,” ujar Airlangga.
Airlangga juga menyebut Bitung berpeluang menjadi alternatif pengembangan pusat data di luar Pulau Jawa, Batam, dan Bintan yang saat ini menjadi lokasi utama industri tersebut. Ia menilai posisi geografis Bitung strategis untuk melayani pasar yang lebih luas, khususnya kawasan Asia Pasifik.
Dalam konteks itu, konektivitas digital dari Bitung disebut dapat terhubung langsung ke beberapa pusat ekonomi global. Airlangga menyinggung sejumlah tujuan seperti Hong Kong, China, hingga Los Angeles di Amerika Serikat.
“Kalau itu bisa didorong ke pasar selain regional Singapura-Johor, itu bisa langsung juga ke Hongkong, China, LA, dan yang lain,” ucap Airlangga.
Konektivitas dan posisi pasar
Selain konektivitas, Airlangga menekankan faktor lain yang dinilai penting bagi industri data center, yaitu ketersediaan pasokan energi. Ia mengatakan wilayah tersebut memiliki potensi panas bumi, energi surya, serta sumber energi terbarukan lainnya yang semakin dibutuhkan untuk operasional pusat data.
Airlangga menyebut kebutuhan energi menjadi salah satu pertimbangan utama investor sebelum menentukan lokasi investasi. Investor, kata dia, umumnya mempertimbangkan ketersediaan listrik yang andal sekaligus berkelanjutan agar pengembangan dapat berjalan sesuai kebutuhan.
“Jadi supaya kita bisa memacu dengan cepat, daerah itu bisa kita manfaatkan,” kata Airlangga.
Prospek kapasitas pusat data nasional
Secara nasional, Airlangga menyampaikan kapasitas data center Indonesia saat ini mendekati 640 megawatt (MW). Ia juga memperkirakan kapasitas tersebut akan meningkat pesat dalam beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, proyek yang masih berada dalam tahap pengembangan diproyeksikan menambah kapasitas lebih dari 1,6 gigawatt (GW), terutama di Pulau Jawa. Airlangga menegaskan bahwa kapasitas 1,6 GW yang dimaksud “sedang on the pipeline” dan berada di Pulau Jawa.
“1,6 GW itu lagi on the pipeline, itu hanya di Pulau Jawa. Jadi kelihatan juga di Batam kita sedang mengurus untuk ekspansi, demikian pula Bintan,” ungkapnya.
Dengan mempertimbangkan konektivitas serta potensi energi, pemerintah mendorong agar Bitung dapat menjadi bagian dari perluasan ekosistem data center nasional. Langkah ini diharapkan membuka pilihan lokasi yang lebih beragam sekaligus mendukung kebutuhan industri digital yang terus berkembang.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Bitung tidak hanya dilihat sebagai lokasi geografis, tetapi juga sebagai peluang untuk memaksimalkan titik pendaratan kabel bawah laut yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Dari situ, kawasan industri di Bitung diusulkan diarahkan agar mendukung pengembangan data center dan perluasan layanan ke pasar yang lebih luas.
Airlangga juga mengaitkan rencana tersebut dengan kebutuhan investor yang tidak berhenti pada aspek konektivitas. Dalam pandangannya, ketersediaan energi menjadi faktor penentu, sehingga potensi panas bumi dan energi surya di wilayah tersebut relevan untuk memenuhi kebutuhan operasional pusat data yang andal dan berkelanjutan.
Secara skala nasional, kapasitas data center Indonesia disebut telah mendekati 640 megawatt dan diproyeksikan terus bertambah. Ia menjelaskan bahwa pengembangan yang masih berjalan menargetkan penambahan kapasitas lebih dari 1,6 gigawatt, dengan porsi utama berada di Pulau Jawa, sementara ekspansi di Batam dan Bintan juga sedang dikelola untuk perluasan berikutnya.












