jurnalistik.co.id – Ayah Musa Ahmed, bocah 7 tahun yang meninggal setelah insiden penyelamatan di laut West Mersea, menyampaikan penghormatan terakhir kepada putranya. Ia mengatakan Musa “never failed to bring happiness” kepada orang-orang di sekitarnya.
Menurut keterangan ayahnya, Musa dan lima kerabat mengalami kesulitan di air pada 22 Juli. Mereka sebelumnya berangkat dari London Timur menuju kawasan pantai di Essex.
Dalam duka yang disampaikan kepada BBC, Shahin Ahmed menggambarkan putranya sebagai sosok yang khas dan membawa kebahagiaan. Ia menyebut Musa memiliki “a unique and happy personality, a sphere of joy”.
Shahin Ahmed juga menuturkan bahwa hubungan Musa dengan orang-orang di sekelilingnya terasa istimewa. “Everyone who knew him had a unique relationship with him. He made every person feel special and never failed to bring happiness,” ujarnya.
Masih dalam ungkapannya, Shahin Ahmed menambahkan bahwa Musa dikenal sebagai orang favorit banyak orang. Ia mengatakan Musa membuat setiap orang merasa seperti menjadi “favoritnya”, sekaligus membawa suasana hati yang baik bagi lingkungan sekitar.
Shahin Ahmed turut merujuk pada nilai Islam dan menyatakan bahwa Musa “embodied” sifat-sifat yang ia kaitkan dengan Nabi Muhammad. Pernyataan itu disampaikan dalam bagian penghormatan setelah Musa meninggal pada Selasa malam.
Insiden ini terjadi di lokasi kejadian di pantai sekitar Pulau dekat Colchester. Polisi pertama kali menerima laporan darurat pada pukul 17:35 BST pada 22 Juli.
Korban lainnya yang juga meninggal adalah sepupu Musa yang berusia 15 tahun, Sameeha Rahman, serta ibunya, Shelina, yang berusia 41 tahun. Keduanya dilaporkan tenggelam di lokasi kejadian.
Berita Terkait
Shahin Ahmed menyampaikan bahwa rombongan keluarga yang seluruhnya masih memiliki hubungan kekerabatan tersapu oleh arus yang sangat kuat. Kepolisian menyatakan mereka telah melakukan “significant efforts to help each other”.
Proses pertolongan juga melibatkan upaya dari warga. Craig Bowe, yang saat itu menyewa kabin pantai untuk ulang tahun putrinya, mengatakan ia sempat membantu Musa menaiki perahu penyelamat (lifeboat). Namun ia menyebut kondisi Musa “not in a good way”.
Sementara Musa diberangkatkan melalui penerbangan ambulans (airlift) ke London untuk perawatan, tiga korban lainnya dibawa dengan ambulans ke rumah sakit yang berbeda. Para penyidik kemudian berbicara dengan orang-orang yang berada di pantai untuk memahami bagaimana tragedi itu bisa terjadi.
Ratusan orang berkumpul untuk mengenang para korban. Sekitar 100 orang menghadiri vigil pada Rabu malam untuk mengingat ketiga korban.
Di sisi lain, pemerintah daerah menyampaikan rencana pemasangan tanda peringatan di lokasi pantai. Colchester City Council dan West Mersea Town Council sama-sama menyatakan bahwa rambu peringatan akan dipasang di pantai tersebut pada musim panas ini.
Dalam setiap bagian cerita yang ia sampaikan, Shahin Ahmed menempatkan Musa sebagai figur kebahagiaan yang terus hidup lewat ingatan. Ia menegaskan bahwa meski Musa sudah tiada, cara Musa memperlakukan orang lain tetap tinggal dalam ingatan keluarga dan mereka yang mengenalnya.
Ayah Musa, Shahin Ahmed, menyoroti bahwa peristiwa berawal saat Musa dan lima kerabat berada dalam situasi sulit di perairan pada 22 Juli. Berangkat dari London Timur menuju pesisir Essex, rombongan kemudian menghadapi arus yang sangat kuat.
Menurut gambaran yang disampaikan, upaya pertolongan dilakukan bersama: kepolisian menyatakan ada “significant efforts” untuk saling membantu, sementara sejumlah warga turut bergerak. Craig Bowe mengaku sempat membantu Musa naik ke lifeboat, meski kondisinya saat itu digambarkan tidak dalam keadaan baik.
Setelah tragedi terjadi dan laporan darurat masuk pukul 17:35 BST, penyidik melanjutkan penelusuran dengan berbicara kepada orang-orang di lokasi. Sementara itu, ratusan warga berkumpul untuk mengenang; sekitar 100 orang menghadiri vigil pada Rabu malam, dan pemerintah daerah juga merencanakan pemasangan tanda peringatan di pantai pada musim panas ini.












