Teknologi

Ambisi China Membangun Peradaban Luar Angkasa: Kirim Embrio ke Orbit

0
×

Ambisi China Membangun Peradaban Luar Angkasa: Kirim Embrio ke Orbit

Sebarkan artikel ini
Ambisi China Bangun Peradaban di Luar Angkasa, Kirim Embrio ke Orbit Tekno 8 Juni 2026
Ilustrasi: Ambisi China Bangun Peradaban di Luar Angkasa, Kirim Embrio ke Orbit

jurnalistik.co.id – China meluncurkan langkah nyata menuju reproduksi manusia di luar Bumi dengan mengirimkan embrio buatan ke orbit. Embrio tersebut berada di Stasiun Luar Angkasa Tiangong selama lima hari sebagai bagian dari eksperimen ilmiah yang menilai kemungkinan perkembangan embrio di lingkungan luar angkasa.

Eksperimen ini disebut sebagai yang pertama di dunia untuk menguji reproduksi manusia di luar angkasa. Embrio dibuat dari sel punca manusia, bukan melalui proses pembuahan sungguhan.

Menurut laporan yang dikutip Gizmodo, embrio buatan itu dibawa ke Tiangong pada 10 Mei. Selanjutnya, seluruh sampel dibiarkan berkembang di orbit Bumi rendah selama periode pengamatan yang telah ditetapkan.

Proyek ini dipimpin oleh para peneliti dari Chinese Academy of Sciences. Yu Leqian, pemimpin proyek, menyampaikan bahwa embrio buatan disiapkan sebagai model untuk mempelajari perkembangan awal manusia.

Yu Leqian menyebut, “Embrio buatan manusia ini dibuat dari sel punca manusia sebagai bahan bakunya,” kata Yu Leqian, pemimpin proyek eksperimen tersebut, dalam sebuah pernyataan resmi.

Dalam pernyataan yang sama, ia menegaskan batasan embrio buatan tersebut. “Ini bukan embrio manusia sungguhan dan tidak memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi individu. Namun, ia dapat berfungsi sebagai model untuk mempelajari perkembangan awal manusia.”

Embrio buatan yang dikirim terbagi dalam dua jenis model untuk merepresentasikan fase perkembangan embrionik yang berbeda. Kelompok sampel pertama dikulturkan pada sel rahim agar mereplikasi tahap kritis ketika embrio menempel pada dinding rahim.

Sementara itu, kelompok sampel kedua ditempatkan di dalam sebuah chip mikrofluida. Chip tersebut meniru proses saat satu lapisan sel mulai mengatur ulang dirinya menjadi lapisan-lapisan berbeda yang pada akhirnya membentuk jaringan dan organ tubuh.

Setiap embrio disimpan dalam ruang tersendiri di dalam wadah kultur. Setelah menghabiskan lima hari di orbit, seluruh sampel dibekukan untuk kemudian dibawa kembali ke Bumi guna dianalisis.

Untuk memastikan hasil pembanding, sampel identik juga dikembangkan secara bersamaan di laboratorium di Bumi. Perbandingan antara sampel luar angkasa dan sampel di darat menjadi kunci dalam menilai pengaruh lingkungan orbit terhadap perkembangan embrio.

Yu menyatakan harapannya melalui perbandingan tersebut. “Kami berharap dengan membandingkan perkembangan sampel luar angkasa dan sampel darat, kami dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan embrio manusia di lingkungan luar angkasa, serta mengatasi risiko dan tantangan yang mungkin dihadapi manusia selama menghuni luar angkasa dalam jangka panjang,” ujar Yu.

Periode perkembangan embrio yang diamati di Tiangong setara dengan sekitar 14 hingga 21 hari setelah pembuahan. Rentang waktu ini digambarkan sebagai jendela yang sangat krusial karena pada fase tersebut organ-organ manusia mulai terbentuk.

Karena itu, kelainan yang terjadi selama periode perkembangan ini dapat berdampak langsung pada perkembangan janin selanjutnya. Dengan kerangka perbandingan sampel di orbit dan di Bumi, eksperimen ini diarahkan untuk memahami apa yang bisa berubah saat tahapan awal pembentukan tubuh terjadi di luar angkasa.

Peneliti juga menempatkan embrio buatan dalam kondisi pengamatan yang terkontrol, dengan tiap sampel berada pada wadah kultur terpisah. Setelah periode paparan di orbit selesai, sampel tidak langsung dihentikan begitu saja, melainkan dibekukan terlebih dahulu sebelum proses analisis berikutnya dilakukan.

Dalam rancangan percobaan, dua pendekatan pemodelan digunakan untuk mewakili tahapan berbeda dari perkembangan embrionik. Salah satu model meniru situasi ketika tahap awal menempel dan berinteraksi dengan lingkungan sel rahim, sedangkan model lainnya memanfaatkan chip mikrofluida untuk menirukan perubahan bertahap menuju lapisan-lapisan yang nantinya berujung pada pembentukan jaringan.

Dengan menyandingkan hasil yang diperoleh selama pemeliharaan di Stasiun Tiangong dan pembanding yang tumbuh di laboratorium Bumi, tujuan utamanya adalah menilai sejauh mana kondisi lingkungan orbit memengaruhi perkembangan pada jendela waktu yang dianggap sangat menentukan. Pada fase ini, kelainan yang muncul dapat memberi dampak berantai pada tahap perkembangan berikutnya, sehingga perbandingan tersebut dipakai untuk memahami faktor risiko serta tantangan yang mungkin muncul saat manusia hidup jangka panjang di luar angkasa.