jurnalistik.co.id – Pagi Jumat, 10 Juli 2026, suasana di rumah terasa berubah begitu cepat setelah kabar duka menyapa: Rachmat Gobel menghadap Sang Ilahi beberapa jam sebelumnya.
Kepergiannya membuat ruang-ruang terasa mendadak buram, seperti bunyi-bunyi riuh yang biasanya hadir di pagi hari ikut mereda tanpa bisa dicegah.
Rachmat Gobel tercatat sebagai anggota DPR RI, dan selama periode 2019–2024 ia pernah menjabat Wakil Ketua DPR RI.
Ia juga pernah menjadi menteri serta dikenal sebagai pengusaha yang dinilai sukses.
Dalam catatan informasi yang menyertai berita ini, Rachmat Gobel wafat di RS Brawijaya pada usia 63 tahun, lalu dimakamkan di TMP Kalibata.
Banyak peran melekat padanya—jabatan, pengalaman, dan kiprah di ruang publik—namun yang paling kuat justru meninggalkan kesan personal yang hangat.
Di mata penulis kolom ini, Gobel selalu tampil dengan senyum yang “terkulum”, sebuah ekspresi yang membuat orang di dekatnya merasa nyaman sejak awal bertemu.
Keramahtamahan itu tampak bukan hanya pada sapaan, tetapi juga pada cara ia bertutur dengan kelembutan yang menenangkan.
Wajahnya kerap ceria, menebar rasa damai dan kenyamanan, sehingga lawan bicara sering kehilangan daya untuk sekadar menjaga jarak.
Penulis juga menggambarkan bahwa kelembutan tutur Gobel kerap membuat pihak yang berbicara dengannya merasa risih—bukan karena tidak enak, melainkan karena sulit menerima perlakuan yang terlalu jauh dari batas kesantunan.
Dalam kesehariannya, Gobel disebut tidak senang diiringi sorak-sorai dan tidak nyaman ketika dipenuhi puja-pujian.
Ia memilih untuk menempatkan diri secara setara dengan siapa pun, tanpa membuat orang lain merasa harus “menunduk” hanya karena perbedaan posisi.
Rasa rendah diri itu berjalan bersama sikap yang rapi dalam menjaga keseimbangan, termasuk dalam kebiasaan tidak membiarkan dirinya tampak “tinggi” di hadapan orang lain.
Berita Terkait
Penulis menegaskan bahwa pengendalian diri seperti itu tidak mudah ditiru, sebab Gobel tidak pernah kehilangan kontrol yang bisa membuat keseimbangan goyah.
Karakter tersebut terlihat dari cara ia berurusan dengan konflik maupun perbedaan: ia tidak mahir mengumbar maki, tidak gemar menyebar fitnah, dan tidak terbiasa melontarkan cela.
Dengan kata lain, energi marah tidak ia salurkan ke tindakan menindih pihak lain, karena ia tidak memiliki kebiasaan untuk merancang dampak buruk dari emosi.
Ketika menghadapi keadaan apa pun, Gobel digambarkan menyelesaikan masalah dengan ketenangan yang luar biasa.
Ia tidak bergerak dengan terburu-buru atau sekadar menumpuk jawaban saat tekanan datang, melainkan memusatkan diri pada upaya mencari jalan yang bisa diterima.
Di ruang pertimbangan, ia juga tidak mudah memvonis dan menghakimi.
Penulis menuliskan bahwa Gobel selalu berhati-hati saat menimbang serta menentukan pilihan, seolah ada kendali yang menyatu antara hati, badan, dan pikiran.
Kecermatan itu kemudian membawanya pada kebiasaan lain yang tidak kalah menonjol: ia lebih sering menjadi pendengar yang baik ketimbang pembicara yang ingin menguasai arah percakapan.
Gobel lebih memilih manggut-manggut sambil tersenyum, dibanding berbicara dengan nada vonis terhadap orang atau keadaan tertentu.
Jika ada hal yang tidak sejalan dengan nalar maupun yang menyentuh kedalamannya, sikapnya tidak berupa pidato keras, melainkan cukup dengan kepala yang digelengkan.
Dalam gambaran penulis, ia tidak mengibarkan api kemarahan, tidak mengayun kata-kata yang berniat menjatuhkan, dan tetap menahan diri ketika situasi menuntut ketegasan.
Di setiap keadaan, termasuk yang terasa mengekang hati nurani, ia tetap digambarkan tenang.
Itulah warisan yang terasa paling jelas dari Rachmat Gobel: tutur yang menenangkan, cara menghadapi persoalan tanpa gejolak berlebihan, dan pilihan untuk menjaga keseimbangan sebelum mengambil sikap.











