jurnalistik.co.id – Andy Serkis membela keputusan casting pemeran Lord of the Rings yang dinilai kurang beragam. Dalam wawancara dengan BBC News, ia mengulas kritik yang muncul terkait komposisi pemain yang diumumkan sejauh ini.
Serkis, yang selama ini dikenal sebagai “master of motion capture” lewat perannya sebagai Gollum di trilogi Lord of the Rings, mengatakan bahwa film barunya tidak bertujuan melakukan “penyesuaian” semata untuk memenuhi standar politik. Ia juga menyebut, detail cerita yang diangkat memiliki konteks yang melekat pada dunia Tolkien.
Film terbarunya, The Hunt for Gollum, direncanakan tayang di bioskop pada waktu Natal tahun depan. Serkis menegaskan proyek ini berada di antara The Hobbit dan trilogi Lord of the Rings, serta merupakan pendalaman psikologi dan sejarah karakter Gollum sebelum ia menjadi Gollum.
Ia juga menggambarkan bahwa kisahnya memuat pertanyaan penting dari Gandalf tentang asal-usul cincin yang sebelumnya dimiliki Bilbo Baggins. Serkis menambahkan bahwa “The hunt takes place in two different dimensions really and that’s about as far as I can say at the moment.”
Dalam arus besar pengumuman pemeran yang sudah diumumkan, Serkis menilai wajar jika pertanyaan soal keberagaman terus muncul. Hingga saat ini, nama-nama besar yang disebut meliputi Jamie Dornan, Kate Winslet, Anya Taylor-Joy, Leo Woodall, serta bintang yang kembali seperti Elijah Wood dan Sir Ian McKellan—semuanya berkulit putih.
“Tolkien himself was influenced a lot by Norse mythology, there’s a lot of that feeling,” ujar Serkis. Ia lalu menggambarkan The Shire sebagai ruang yang terasa sangat “putih” dalam nuansa dan persepsinya.
Ia melanjutkan dengan penjelasan bahwa dunia kisah tidak banyak membahas apa yang terjadi di luar batas The Shire. “They’re not very concerned about what goes on beyond the borders of The Shire, but they know they don’t want people coming in,” kata Serkis.
Serkis mengakui bahwa kritik-kritik terkait topik ini sudah ada sejak lama. “Yes, there have been criticisms,” ujarnya, sembari menekankan bahwa film ini “somewhat acknowledging that.” Namun, menurutnya, film tidak akan berubah menjadi pendekatan “polically correct just-casting-for-the sake-of-casting-and-ticking-boxes.”
“So, it’s only where relevant basically,” kata Serkis. Ia menambahkan bahwa meski beberapa bintang utama sudah bergabung, pengumuman casting lanjutan masih akan datang dalam beberapa bulan ke depan.
Terkait rancangan produksi lanjutan, Serkis juga mengonfirmasi bahwa ia tidak akan menjadi sutradara untuk film Lord of the Rings kedua yang baru, Shadow of the Past. Film itu ditulis oleh pembawa acara asal Amerika, Stephen Colbert, dan Serkis menyatakan keterlibatan Colbert akan menghadirkan cerita yang menarik.
Saat menghubungkan pembelaannya pada isu keragaman dengan perjalanan karier, Serkis menegaskan bahwa ia sejak lama memperjuangkan kesetaraan. Ia menyebut, pada 2018 ia mengatakan bahwa menjadi salah satu dari sedikit aktor kulit putih di Black Panther memberinya pemahaman baru tentang pengalaman menjadi minoritas etnis di lokasi syuting.
Ia lalu membandingkan dengan fakta bahwa film-film Lord of the Rings sebelumnya dibuat pada masa ketika “colour-blind casting” belum menjadi praktik yang umum. Karena itu, komposisi pemeran yang didominasi kulit putih dinilai berulang, termasuk pada rencana film yang tengah dipersiapkan.
Berita Terkait
Wawancara ini sekaligus menjadi panggung Serkis membahas proyek lain yang akan segera dirilis. Ia berbicara kepada BBC News menjelang perilisan film animasi layar lebar versi modern dari George Orwell berjudul Animal Farm, yang ia sutradarai.
Animal Farm versi tersebut menampilkan jajaran pengisi suara bergaya “all-star cast,” termasuk Seth Rogen sebagai Napoleon, Woody Harrelson sebagai Boxer si kuda dari The Shire, serta sejumlah nama lain seperti Kieran Culkin, Jim Parsons, Glenn Close, Kathleen Turner, dan Steve Buscemi. Serkis sendiri ikut memberikan suara untuk Randolph si ayam jantan.
Serkis menjelaskan bahwa buku Animal Farm memberinya kesan kuat saat masih anak-anak. Ia mengatakan, “I remember vividly reading it on the 273 bus to Ealing from my home in Ruislip, when I was about 11 or 12 years old,” lalu menambahkan bahwa kisah itu membuatnya merasakan kesedihan mendalam terhadap utopia yang “gradually falling apart.”
Ia menggambarkan momen itu sebagai pengalaman emosional yang membekas. “It was one of the first young adult books that affected me emotionally and made me terribly sad for this utopia that had been created by these animals,” katanya.
Serkis kemudian menyebut bahwa idenya untuk membuat versi animasi modern muncul kira-kira 35 tahun setelah momen membaca itu. Ia mengatakan, saat membuat Rise of the Planet of the Apes, ia berpikir, “there has not been an animated, modern film version of Animal Farm.” Dari situlah, menurutnya, proyek itu mulai berangkat.
Menurut Serkis, timnya juga menyadari bahwa adaptasi ini akan memicu beragam respons. “We knew it was going to be polarising, and some people won’t like it,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia menyebut beberapa perubahan adaptasi yang membuat cerita terlihat berbeda dari buku aslinya. Film ini menghadirkan protagonis baru, Lucky si anak babi, yang disuarakan oleh Gaten Matarazzo. Serkis juga mengatakan alegorinya bergerak lebih ke kritik anti-kapitalis, menambah satu babak ketiga lagi lengkap dengan akhir bahagia, serta memasukkan lelucon “fart jokes.”
Menjawab soal pilihan komedi, Serkis tertawa dan menegaskan, “Well, everybody loves a good fart joke, regardless of your age.” Ia menyebut film tersebut pernah diuji dengan anak-anak, bahkan hingga usia sekitar enam tahun, dan mendapat respons penilaian yang tinggi.
Namun, Serkis juga menghadapi kritik dari pengulas film. New York Times menilai filmnya “lost in the mud” dan menyimpulkan, “It’s drowning in ideological confusion, which wouldn’t be such a big deal, except that this is Animal Farm.” Sementara itu, Wall Street Journal menyebut film “mucks up Orwell,” dengan pendapat bahwa “As comedy, the movie is feeble, and as allegory for the socioeconomically literate it is heavy-handed.”
Serkis tidak menyangkal adanya kritik, tetapi ia menegaskan bahwa sifat Orwell memang berkaitan dengan kemampuan mengaduk pikiran dan membuat orang berdiskusi. “Part of the nature of Orwell was being someone who stirs it up, who makes people think and gets people talking,” katanya.
Ia menambahkan bahwa film ini sengaja diarahkan agar dapat berbicara kepada penonton yang seluas mungkin. “We have purposefully gone out of our way to make it a movie that can speak to as broad an audience as possible.”
Serkis juga menyatakan bahwa keberatan utamanya datang dari penonton yang menjatuhkan penilaian tanpa benar-benar menyaksikan film. Menurutnya, keputusan di beberapa tempat—khususnya di Amerika—banyak dipengaruhi oleh trailer, bukan oleh film utuh.
Animal Farm dijadwalkan tayang di bioskop Inggris pada Jumat, 17 Juli. Pada hari yang sama, Serkis tetap kembali pada tugasnya: mengarahkan kelanjutan kisah di instalmen berikutnya dalam salah satu waralaba film terbesar.






