jurnalistik.co.id – Di Jakarta, Minggu (14/6/2026), seorang pesepeda perempuan asal Iran menyusuri sejumlah ruas jalan ibu kota bersama komunitas pesepeda.
Perjalanan lintas Asia itu membawanya melintasi beberapa titik, mulai dari kawasan Sudirman, Kota Tua, hingga Cikini.
Di sepanjang rute, ia bergerak dalam rombongan pesepeda yang mengawalnya, sambil sesekali berinteraksi dengan warga dan pesepeda lain yang ditemuinya.
Pantauan di lokasi menunjukkan, perhatian kerap mengarah kepadanya saat berada di tengah aktivitas bersepeda bersama.
Ia mengenakan jersey berwarna hijau, putih, dan merah yang identik dengan warna bendera negaranya. Penampilan tersebut dilengkapi helm putih dan celana panjang bersepeda berwarna hitam.
Sepeda yang ia gunakan merupakan sepeda touring yang telah dimodifikasi untuk perjalanan jarak jauh.
Di sisi kiri dan kanan sepedanya terdapat beberapa tas besar berwarna hitam yang berfungsi membawa perlengkapan perjalanan. Tas tambahan juga terpasang di bagian depan setang.
Selain perlengkapan utama, terlihat pula sejumlah aksesori serta perangkat navigasi yang menempel pada sepedanya.
Total beban yang dibawa mencapai sekitar 60 kilogram, mulai dari perlengkapan bersepeda, pakaian, hingga kebutuhan sehari-hari selama perjalanan.
Jalur panjang yang ditandai bendera-bendera kecil
Hal yang paling menonjol adalah enam bendera kecil yang berkibar di sepedanya selama mengayuh.
Bendera-bendera tersebut mewakili negara-negara yang telah ia lintasi, yakni China, Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
Di bagian belakang sepeda juga tampak bendera Iran yang dibawanya selama perjalanan.
Dengan pilihan penanda tersebut, kegiatan bersepeda lintas negara tidak hanya terlihat dari jarak yang ditempuh, tetapi juga dari simbol perjalanan yang dibawa langsung di sepeda.
Keramahan saat menyapa dan melayani permintaan foto
Di tengah aktivitas mengayuh, Arezoo beberapa kali menyapa pesepeda lain serta warga yang ditemuinya di sepanjang rute.
Ekspresinya terlihat dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya saat berinteraksi.
Tak hanya menyapa, ia juga berhenti ketika ada permintaan foto bersama.
Berbagai momen singkat itu terjadi di sela-sela perjalanan dari satu titik ke titik lain di Jakarta.
Dengan ritme perjalanan yang tetap dijalankan, jeda untuk menyapa dan dokumentasi menjadi bagian dari cara ia melanjutkan perjalanan lintas Asia yang dibawanya dengan pesan perdamaian.
Jersey dengan warna bendera negaranya, helm putih, celana panjang bersepeda hitam, serta susunan tas dan perangkat navigasi memperlihatkan persiapan untuk menempuh jarak jauh.
Beban sekitar 60 kilogram yang dibawa menunjukkan bahwa perlengkapan yang dipersiapkan bukan hanya untuk aktivitas bersepeda, tetapi juga untuk kebutuhan harian selama perjalanan.
Sementara enam bendera kecil yang mewakili China, Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, dan Indonesia, serta bendera Iran di bagian belakang sepeda, menegaskan perjalanan yang ia jalani hingga tiba di Jakarta.
Di saat rombongan bergerak melintasi Sudirman, Kota Tua, dan Cikini, interaksi yang ia bangun—mulai dari sapaan hingga permintaan foto—terlihat sebagai cara untuk hadir langsung di tengah keramaian kota selama perjalanan berlangsung.
Kehadiran Arezoo di tengah rombongan membuat perjalanannya mudah dikenali, terutama ketika aktivitas bersepeda berlangsung di ruas-ruas yang menjadi pusat keramaian kota. Di momen-momen tertentu, ia tampak tetap menjaga ritme sambil menyesuaikan diri dengan situasi sekitar, sehingga interaksinya terasa terjalin secara natural.
Di balik penampilannya, susunan perlengkapan pada sepeda juga menjadi penanda kuat bahwa ia menyiapkan perjalanan jarak jauh. Sepeda touring yang telah dimodifikasi dipadukan dengan beberapa tas besar hitam di sisi kiri-kanan, tas tambahan di bagian depan setang, serta aksesori dan perangkat navigasi yang menempel pada unit tersebut.
Penanda perjalanan itu semakin lengkap dengan bendera-bendera kecil yang berkibar selama ia mengayuh. Enam negara—China, Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, dan Indonesia—ditampilkan sebagai rangkaian jejak yang ingin ditunjukkan, sementara bendera Iran di bagian belakang sepeda menegaskan asal perjalanan yang dibawanya hingga sampai di Jakarta.
Meski fokus utama tetap pada aktivitas bersepeda, sapaan dan momen dokumentasi bersama menjadi bagian yang berulang di sela perpindahan dari satu titik ke titik berikutnya. Ekspresi yang tersaji melalui senyum saat berinteraksi, lalu berhenti ketika ada permintaan foto, memperlihatkan cara ia menghadirkan pesan perdamaian melalui pendekatan yang ramah dan bersahabat.












