Internasional

AS Lepaskan Rudal Hellfire ke Kapal yang Menuju Iran di Selat Hormuz

0
×

AS Lepaskan Rudal Hellfire ke Kapal yang Menuju Iran di Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
AS Tembakkan Rudal Hellfire ke Kapal yang Terobos Selat Hormuz, Tujuan ke Iran Global 3 Juni 2026
Ilustrasi: AS Tembakkan Rudal Hellfire ke Kapal yang Terobos Selat Hormuz, Tujuan ke Iran

jurnalistik.co.id – WASHINGTON DC — Pasukan Amerika Serikat menembakkan rudal ke sebuah kapal yang mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran dan melanggar blokade di Selat Hormuz pada Selasa (2/6/2026). Washington kini disebut telah menghentikan secara paksa enam kapal yang mereka klaim berupaya melanggar blokade itu.

Komando Pusat militer AS (Centcom) menyebut kapal yang dihentikan kali ini adalah kapal tanker minyak M/T Lexie berbendera Botswana. Kapal itu dilaporkan tidak bermuatan dan mengabaikan peringatan berulang kali selama periode 24 jam.

“Kapal tanker minyak M/T Lexie berbendera Botswana yang tidak bermuatan, mengabaikan peringatan berulang kali selama periode 24 jam,” kata Komando Pusat militer AS (Centcom) dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Rabu (3/6/2026). “Sebuah pesawat tempur Amerika akhirnya melumpuhkan kapal tersebut dengan menembakkan rudal Hellfire ke ruang mesin kapal,” sambungnya.

Pernyataan Centcom itu tidak menjelaskan apakah serangan tersebut menyebabkan korban jiwa di atas kapal Lexie. Namun, insiden ini menambah daftar panjang kapal terkait Iran yang diserang atau dihentikan oleh pasukan AS.

Sehari sebelumnya, pada Jumat (29/5/2026), militer AS juga menonaktifkan kapal kargo berbendera Gambia setelah kapal tersebut gagal mematuhi peraturan. Rangkaian kejadian itu menunjukkan blokade yang diumumkan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran terus dijalankan dengan tindakan langsung di laut.

Blokade tersebut diumumkan AS setelah perundingan perdamaian di Pakistan gagal mencapai kesepakatan pada April. Sejak itu, Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang terus berada dalam sorotan karena berkaitan dengan lalu lintas kapal menuju dan dari wilayah Iran.

Dalam perkembangan terpisah, militer AS kembali menyerang situs radar dan pengendali drone Iran selama akhir pekan. Centcom menyebut serangan itu dilakukan sebagai tindakan bela diri.

“Komando Pusat AS (Centcom) melakukan serangan bela diri terhadap situs radar dan komando serta kendali drone Iran di Goruk, Iran dan Pulau Qeshm akhir pekan ini,” kata Centcom dalam sebuah unggahan di X, dikutip dari AFP, Senin (1/6/2026).

Serangan itu diklaim sebagai tanggapan atas penembakan jatuh pesawat tak berawak MQ-1 milik AS. Pada saat yang sama, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan mereka telah menargetkan pangkalan yang digunakan oleh militer Amerika Serikat untuk menyerang wilayah Iran, meski lokasi pangkalan tersebut tidak disebutkan dalam pernyataan yang disiarkan IRIB dan media pemerintah lainnya.

Di sisi lain, militer Kuwait mengeklaim pertahanan udara mereka tengah menanggapi serangan pesawat tak berawak dan rudal. Sirene serangan udara bahkan sempat berbunyi di seluruh wilayah Kuwait, menambah ketegangan di kawasan yang sudah memanas akibat saling serang antara AS dan Iran.

Dalam konteks yang sama, rangkaian serangan dan penghentian kapal ini menegaskan bahwa konflik dan aksi balasan di kawasan belum mereda. Dari Selat Hormuz hingga Goruk dan Pulau Qeshm, ketegangan bergerak dari laut ke darat, sementara negara-negara di sekitarnya ikut merasakan dampaknya.

Dengan pola seperti ini, jalur laut di kawasan itu kian tampak tidak hanya menjadi rute perdagangan, tetapi juga arena unjuk kekuatan. Setiap peringatan yang diabaikan, lalu diikuti serangan atau penghentian paksa, memperlihatkan bahwa situasi di Selat Hormuz bergerak dalam siklus respons cepat yang sulit dipisahkan dari dinamika konflik yang lebih luas. Karena itu, perhatian terhadap pergerakan kapal di wilayah tersebut diperkirakan tetap tinggi selama blokade dan aksi balasan masih berlangsung.

Rangkaian insiden yang melibatkan kapal tanker, kapal kargo, serta sasaran radar dan drone juga memperlihatkan bahwa tensi tidak terbatas pada satu titik saja. Serangan di laut dan darat saling berkelindan, sementara pernyataan dari masing-masing pihak menunjukkan belum ada tanda penurunan eskalasi. Dalam kondisi seperti ini, setiap perkembangan baru berpotensi memicu respons lanjutan, sehingga kawasan sekitar Iran dan negara-negara tetangganya tetap berada dalam situasi siaga tinggi.