Hukum & Kriminal

Ismael “El Mayo” Zambada Divonis Penjara Seumur Hidup di AS

×

Ismael “El Mayo” Zambada Divonis Penjara Seumur Hidup di AS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Notorious drug cartel leader Ismael Zambada sentenced to life in US prison

jurnalistik.co.id – Seorang hakim di Amerika Serikat memutuskan bahwa Ismael “El Mayo” Zambada akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji. Keputusan ini muncul dua tahun setelah tokoh berpengaruh di jaringan narkoba itu dibawa ke AS lewat operasi jebakan yang dirancang secara rinci.

Pria berusia 76 tahun tersebut dinyatakan bersalah di pengadilan federal AS dan menerima hukuman penjara seumur hidup yang bersifat wajib. Selain itu, ia juga diperintahkan membayar denda sebesar $15 miliar (setara sekitar £11 miliar).

Zambada dikenal sebagai salah satu figur paling ditakuti dari kartel narkoba Meksiko. Ia mendirikan Kartel Sinaloa bersama Joaquin “El Chapo” Guzmán, dan kemudian memimpin jaringan yang menjadi salah satu mesin pengiriman narkoba skala besar ke AS.

Penangkapan dan kesepakatan pengakuan

Pada 2024, putra El Chapo, Joaquin Guzmán Lopez, membawa Zambada dengan keyakinan bahwa perjalanan itu dilakukan ke bagian utara Meksiko untuk memeriksa landasan udara ilegal. Namun, alih-alih mendarat sesuai rencana di wilayah Meksiko, pesawat tersebut justru mendarat di Texas dan Zambada akhirnya ditangkap.

Tahun berikutnya, Zambada mencapai kesepakatan pengakuan bersalah (plea deal). Dalam kesepakatan itu, ia mengakui keterlibatan dalam penyelundupan narkoba serta tuduhan konspirasi, sebagai imbalan atas penghindaran hukuman mati.

Pada Senin, hukuman dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Distrik AS Brian Cogan dalam persidangan di Pengadilan Federal Brooklyn. Pengakuan bersalah Zambada membawa konsekuensi hukum berupa masa penjara seumur hidup, sehingga vonis tersebut tidak memberi ruang untuk penentuan durasi lain.

Jaksa menegaskan bahwa perintah pembayaran $15 miliar mencerminkan keuntungan dari perdagangan narkoba yang terkait dengan perannya sebagai pemimpin utama perusahaan kriminal tersebut. Menurut keterangan dari pihak Kejaksaan, jaringan itu telah menghasilkan pendapatan besar melalui peredaran narkoba ke AS.

Joaquin Guzmán Lopez sendiri juga ditangkap pada Juli 2024 dan sudah mengajukan pengakuan bersalah atas dakwaan narkotika di pengadilan federal. Akan tetapi, sampai sekarang ia belum dijatuhi putusan hukuman.

Dalam skema plea deal, Zambada secara resmi menerima perannya dalam membangun jejaring kriminal yang luas. Jejaring tersebut disebut telah mengirim dalam jumlah besar kokain dan obat-obatan lain ke Amerika Serikat sejak Zambada ikut mendirikan Kartel Sinaloa pada akhir 1980-an.

Joseph Nocella Jr, Jaksa Agung AS untuk Distrik Timur New York, menyatakan, “Ismael Zambada Garcia spent nearly four decades poisoning American communities to make billions of dollars in profit and ordering the murders of anyone who stood in his way.” Ia menambahkan, “Today, that chapter closes for good.”

Dampak di internal kartel

Dalam dokumen yang diajukan untuk tahap pemidanaan, penuntut menyebut Zambada sebagai “salah satu—jika bukan yang paling—produktif dan kuat” di antara para pelaku perdagangan narkoba. Klaim itu dilaporkan dalam memo putusan oleh jaksa, merujuk pada pemberitaan CBS sebagai mitra AS BBC.

Sejak Zambada ditahan, Kartel Sinaloa disebut tengah berperang di dalam dirinya sendiri. Ketegangan itu disebut menyebar luas di negara bagian Sinaloa, dan ratusan orang dilaporkan hilang dalam pertarungan antara dua faksi yang saling bersaing.

Kekerasan dan pertumpahan darah juga memunculkan dampak setelah El Chapo ditangkap serta diekstradisi ke AS pada 2016. Dalam periode itu, faksi-faksi di kartel bersaing demi menguasai wilayah, sembari menghadapi gang narkoba lain yang melihat kelemahan sebagai celah.

El Chapo, yang juga menjadi bagian dari sejarah berdirinya kartel bersama Zambada, saat ini menjalani hukuman penjara seumur hidup di AS. Kondisi tersebut turut memengaruhi dinamika kekuasaan dan strategi internal jaringan yang pernah berada di bawah kendali El Mayo.

Persoalan lain yang muncul setelah Zambada bersedia mengaku bersalah adalah tempat ia akan menjalani masa hukumannya. Ia meminta agar dipindahkan ke penjara yang memiliki fasilitas rumah sakit, dengan alasan ia membutuhkan perawatan medis terkait kesehatan yang memburuk karena faktor usia.

Dari informasi yang beredar, Zambada diketahui dalam kondisi kesehatan yang buruk selama beberapa tahun terakhir. Kendati demikian, pihak penuntut federal justru mendorong agar ia ditahan di tingkat keamanan yang lebih tinggi, dengan argumen bahwa Zambada tetap menimbulkan ancaman keamanan bahkan saat berada di balik penjara dan berpotensi tetap mengarahkan operasi ilegal.

Pihak Federal Bureau of Prisons akan memutuskan secara akhir lokasi penahanan Zambada. Meski demikian, ia dinilai nyaris pasti akan meninggal dunia dalam tahanan di AS.

Konteks kebijakan AS dan langkah di Meksiko

Pada hari pertama masa jabatan kembali, Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk meningkatkan tekanan terhadap Meksiko dan kartel. Rencana itu mencakup penetapan perusahaan kriminal sebagai kelompok teroris.

AS juga menuduh gubernur Sinaloa bersekongkol dengan pelaku perdagangan narkoba. Sementara itu, pemerintah Meksiko disebut mengambil langkah yang lebih agresif terhadap kartel dan mengirim ribuan pasukan ke Sinaloa.

Makna hukuman bagi Kartel Sinaloa

Meski vonis seumur hidup dijatuhkan, dampaknya terhadap Kartel Sinaloa dipandang tidak jelas. Pada kemungkinan terbesar, situasi tidak akan banyak berubah, karena kejahatan terorganisasi di Meksiko bergerak cepat, dan orang-orang yang dulu menjadi kaki tangan Zambada disebut sudah beradaptasi tanpa sosoknya.

Begitu juga, hukuman terhadap El Mayo tidak diperkirakan secara signifikan mengubah arus kokain dan fentanyl yang masuk ke Amerika Serikat. Dalam sistem yang sudah mapan, selalu ada figur lain yang siap mengambil alih peran dari bos kriminal yang sejauh ini sangat berpengaruh, termasuk ketika nama besar itu adalah El Mayo Zambada.