jurnalistik.co.id – Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam kesebelas yang beruntun pada Selasa malam. Langkah itu terjadi di tengah peringatan Teheran kepada AS agar tidak menargetkan fasilitas nuklirnya.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan gelombang serangan tersebut “dirancang untuk terus menurunkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial” di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran melaporkan sistem pertahanan udara diaktifkan di ibu kota Teheran.
Ledakan juga disebut terjadi di sejumlah wilayah, yakni Tabriz, Chabahar, Konarak, serta Bushehr. Bushehr diketahui menjadi lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Iran sebelumnya telah membalas serangan terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutu AS di kawasan. Peringatan balik itu mengemuka setelah Donald Trump menyatakan AS akan segera menyerang sebuah situs nuklir bawah tanah dekat Natanz.
Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada April. Namun, pertikaian kembali berlangsung pekan lalu, ketika kedua negara terlibat persaingan mengenai kendali atas jalur vital Selat Hormuz.
Centcom mengatakan pasukannya menargetkan pusat operasi militer Iran, kemampuan maritim, hanggar pesawat, fasilitas penyimpanan drone, serta infrastruktur logistik militer. Centcom juga menuduh Iran menyerang “lebih dari 30 kapal dagang” yang melintas di Selat Hormuz selama tiga bulan terakhir.
Dalam keterangannya, Centcom menyebut serangan yang “tidak semestinya” itu telah membahayakan ratusan pelaut tak bersalah dan melemahkan kebebasan navigasi. Centcom menegaskan jalur tersebut tetap “terbuka untuk transit kapal komersial”.
Pada Rabu dini hari, militer Kuwait menyatakan pertahanan udaranya terlibat dalam upaya menghadang serangan drone yang berasal dari Iran. Sementara itu, Bahrain dan Yordania juga mengaku telah mencegat serangan drone maupun rudal.
Sebelumnya, Trump menyebut target berikutnya dapat berupa kompleks yang dikenal sebagai “Pickaxe Mountain”. Situs bawah tanah itu disebut sebagai lokasi tempat Iran diduga membangun fasilitas pengayaan yang belum diumumkan.
Berita Terkait
Dalam pertemuan Gedung Putih dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun, Trump mengatakan, “We’ll be hitting that area pretty soon, and very heavily,” sebelum menambahkan bahwa ia tidak biasanya mengumumkan target. Trump juga menyatakan, “there’s not a thing they can do about it”.
Komando militer Khatam Al-Anbiya Iran menyatakan pihaknya akan mempertimbangkan serangan semacam itu sebagai “perluasan perang di kawasan”. IRIB melaporkan pernyataan tersebut juga memuat ancaman serangan terhadap “all the interests of America, the allies and supporters”.
Trump turut mengancam akan “take care of” kelompok Houthi di Yaman apabila kelompok yang didukung Iran itu menindaklanjuti rencana blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Seorang pejabat media Houthi sebelumnya mengatakan mereka menutup Selat Bab al-Mandab—gerbang selatan Laut Merah—untuk kapal-kapal Arab Saudi.
Ketegangan di wilayah tersebut membuat jalur pengiriman semakin strategis. Laut Merah menjadi penting bagi pengapalan minyak dari Arab Saudi, terutama di tengah perang antara AS–Israel melawan Iran yang membuat penutupan efektif Selat Hormuz berlangsung.
Setelah pengumuman Houthi, dua kapal tanker yang baru memuat minyak mentah Arab Saudi untuk tujuan China dan India dari pelabuhan Yanbu, melakukan putar balik pada Selasa. Vanguard, kelompok manajemen risiko maritim asal Inggris, menyatakan kedua kapal kemudian mengarah ke Terusan Suez.
Ancaman dari pihak Houthi dikhawatirkan dapat menambah gangguan pada pelayaran internasional. Perang di kawasan itu juga telah membuat harga bahan bakar dunia berfluktuasi secara signifikan.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Juni antara Iran dan AS. Dokumen tersebut bertujuan menghentikan operasi militer dan membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus menjajaki kesepakatan untuk mengakhiri perang dalam tempo 60 hari berikutnya.
Namun, sekitar tiga pekan setelah MoU ditandatangani, Trump menyatakan gencatan senjata “over”. Pernyataan itu muncul setelah serangan Iran terhadap kapal-kapal di Hormuz, serta serangan balasan AS.
Di sisi lain, perang yang berlangsung dengan Iran juga disebut berdampak pada kebutuhan anggaran AS. Sekretaris Pertahanan Pete Hegseth mengatakan pada Selasa bahwa perang tersebut sejauh ini telah menelan biaya sekitar $37,5 miliar (ÂŁ28 miliar), meningkat hampir $8 miliar dibanding estimasi terakhir pada Mei.
Dalam keterangannya di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat, Hegseth menyebut pelatihan militer harus dikurangi bila legislator tidak menyetujui tambahan pendanaan darurat. Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan situasi eskalasi yang terus berlangsung di kawasan tersebut.












