jurnalistik.co.id – Para psikolog anak menilai, cara membangun semangat belajar yang bertumpu pada hadiah maupun sanksi tidak selalu menghasilkan motivasi yang awet. Ketika pola itu menjadi “mekanisme utama”, fokus anak bisa bergeser dari proses belajar itu sendiri.
Dalam praktik sehari-hari, orang tua sering memberi imbalan saat anak mengikuti keinginan, atau menyiapkan hukuman ketika anak dianggap kurang disiplin. Namun, para psikolog menyebut skema semacam itu berisiko membuat anak hanya bergerak karena faktor luar, bukan karena dorongan yang tumbuh dari dalam diri.
Psikolog klinis berlisensi Dr. Ioana Pal, Psy.D., menjelaskan bahwa hadiah dapat mengubah cara anak memaknai aktivitas. “Ketika hadiah menjadi alasan utama di balik suatu perilaku, anak bisa kehilangan minat terhadap aktivitas itu sendiri,” tutur Ioana.
Menurut Ioana, ketergantungan hadiah membuat anak lebih memperhatikan imbalan yang akan diterima, dibanding nilai dari aktivitasnya. “Ia menyebutkan kalau ketergantungan terhadap hadiah dapat membuat anak hanya mau melakukan sesuatu jika ada imbalannya,” serta “Nantinya, motivasi mereka bergeser dari dorongan pribadi menjadi bergantung pada faktor eksternal.”
Jika demikian, yang lebih dibutuhkan adalah pendekatan yang menumbuhkan motivasi melalui rasa memiliki kendali dan pemahaman yang jelas. Psikolog menyarankan orang tua mengarah pada beberapa prinsip kunci yang bisa diterapkan secara bertahap.
Berikan kendali agar anak merasa punya pilihan
Salah satu cara yang dianjurkan adalah memberi anak kendali atas aktivitas yang sedang dijalani, disertai pendampingan orang tua. Psikolog klinis Dr. Amy Kincaid Todey, Ph.D., menekankan bahwa dorongan anak akan meningkat ketika mereka merasa memiliki kendali terhadap apa yang dilakukan.
Dalam psikologi anak, kondisi ini dikenal sebagai otonomi. “Otonomi mengacu pada perasaan memiliki, pilihan, atau suara dalam apa yang mereka lakukan. Ketika anak merasa memiliki kendali atas tindakan mereka, mereka akan lebih terdorong untuk terlibat karena aktivitas tersebut terasa bermakna secara pribadi, bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka,” sebut Amy.
Dengan kerangka itu, orang tua tidak hanya mengarahkan, tetapi juga memberi ruang agar anak ikut “memaknai” aktivitas belajar. Anak yang merasa dihargai kebutuhannya cenderung lebih siap untuk terlibat dari waktu ke waktu.
Kenali hambatan yang membuat motivasi anak turun
Langkah berikutnya adalah mencari tahu apa yang sebenarnya menghambat motivasi anak. Psikolog menyampaikan bahwa anak yang tampak tidak termotivasi belum tentu benar-benar malas.
Berita Terkait
Dr. Amy mengingatkan agar orang tua mengubah fokus bertanya. “Daripada bertanya, ‘Bagaimana saya memotivasi anak saya?’, sering kali akan lebih membantu jika bertanya, ‘Apa yang menghambat motivasinya?’,” jelas Amy.
Ia menambahkan, semangat anak bisa menurun karena sejumlah kemungkinan, misalnya tugas terasa terlalu sulit, terlalu mudah, membosankan, takut gagal, kurang percaya diri, hingga mengalami stres. Karena itu, memahami penyebabnya dipandang sebagai langkah awal sebelum mencari solusi.
Puji usaha, bukan menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran
Orang tua juga dianjurkan mengubah cara memberi apresiasi. Pujian sebaiknya diarahkan pada usaha dan proses yang dijalani anak, bukan pada hasil semata.
Psikolog Dr. Brett A. Biller, Psy.D., menilai usaha merupakan aspek yang berada dalam kendali anak. “Memuji usaha jauh lebih bermanfaat dibandingkan memuji hasil, karena hasil adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Ketika ingin memotivasi anak, usaha adalah aspek yang ingin kita pengaruhi,” tutur Brett.
Dengan memusatkan perhatian pada proses, anak belajar bahwa upaya yang dilakukan bernilai. Pola ini membantu anak membangun makna terhadap aktivitasnya, alih-alih menunggu penghargaan eksternal.
Libatkan anak dan biarkan ia belajar dari konsekuensi
Selain memberi ruang pilihan, psikolog juga menyarankan orang tua menjelaskan alasan di balik aturan atau tugas yang diberikan. Dengan cara itu, anak dapat memahami makna dari aktivitas yang sedang dijalani.
Dr. Holly Schiff, Psy.D., turut menekankan pentingnya tidak selalu terburu-buru menyelamatkan anak dari setiap kesalahan. Menurutnya, konsekuensi alami—seperti lupa membawa jaket lalu merasa kedinginan—sering kali menjadi pelajaran yang lebih bermakna dibandingkan hukuman.
Holly menjelaskan, “Konsekuensi alami dapat menjadi guru yang sangat efektif karena membantu anak melihat hubungan langsung antara pilihan yang mereka buat dan hasil yang mereka alami. Hal itu sering kali terasa lebih bermakna dibandingkan ceramah atau hukuman,” papar Holly kepada Parade.
Ketika anak memahami hubungan sebab-akibat secara langsung, ia dapat belajar tanpa perlu bergantung pada hadiah atau ancaman. Pada akhirnya, motivasi yang terbentuk cenderung lebih berakar karena anak melihat keterkaitan antara tindakan dan hasil.












