Internasional

Relawan kemanusiaan dievakuasi ke Inggris usai paparan dugaan Ebola dan dipantau di RS London

×

Relawan kemanusiaan dievakuasi ke Inggris usai paparan dugaan Ebola dan dipantau di RS London

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: UK humanitarian worker monitored for Ebola in London hospital

jurnalistik.co.id – Seorang relawan kemanusiaan dari Republik Demokratik Kongo menjalani pemantauan medis di London setelah kemungkinan paparan yang berkaitan dengan Ebola. Otoritas kesehatan Inggris menyatakan individu tersebut dalam kondisi baik dan dipindahkan semata-mata sebagai langkah kehati-hatian.

UK Health Security Agency (UKHSA) menyebut orang yang dievakuasi merupakan penduduk Inggris, namun namanya tidak diumumkan. Lembaga tersebut memastikan relawan itu tidak memiliki gejala apa pun, dan proses penilaiannya dilakukan di rumah sakit di London.

Rumah sakit yang dimaksud tidak disebutkan. Meski demikian, UKHSA merujuk fasilitas yang memiliki unit isolasi tingkat tinggi dan berperan sebagai pusat nasional untuk penanganan infeksi berbahaya—yakni Royal Free di wilayah London utara.

Pemantauan dan isolasi selama masa inkubasi

UKHSA menyampaikan relawan tersebut tetap dalam kondisi sehat. Namun, karena periode inkubasi Ebola dapat berlangsung antara dua hingga 21 hari, individu yang dievakuasi akan diisolasi selama masa tersebut, sambil terus dipantau secara medis.

Relawan itu bekerja dengan sebuah organisasi kemanusiaan yang mendukung respons terhadap wabah Ebola. Evakuasi dilakukan setelah terjadinya paparan terkait pelayanan kesehatan yang dinilai berpotensi berhubungan dengan penularan Ebola.

Menurut UKHSA, risiko penularan ke masyarakat umum dinilai rendah. Penegasan ini disampaikan Direktur Epidemic and Emerging Infections di UKHSA, Richard Pebody, yang mengatakan, “The risk to the general public remains low.” Ia menambahkan, “This individual has been transferred out of an abundance of caution, and we’re pleased they remain well.”

Secara terpisah, UKHSA juga menyatakan saat ini tidak ada kasus Ebola yang terkonfirmasi di Inggris.

Gambaran penyakit dan cara penularan

Ebola merupakan patogen yang sangat berbahaya. Berbeda dari flu maupun Covid-19, Ebola tidak menular melalui udara. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh.

Gejala Ebola biasanya muncul secara mendadak, dengan awitan yang dapat menyerupai keluhan malaria atau flu, seperti demam, sakit kepala, serta rasa lelah. Seiring berjalannya penyakit, pasien bisa mengalami muntah dan diare, yang pada sebagian kasus dapat berujung pada kegagalan organ.

Pada beberapa pasien—namun tidak semuanya—dapat terjadi perdarahan baik di dalam maupun di luar tubuh. Kondisi ini memperberat perjalanan penyakit dan menjadi bagian dari gambaran klinis yang perlu diwaspadai.

Catatan kasus di Inggris sebelumnya

UKHSA mencatat bahwa pada rentang 2014 hingga 2015, terdapat tiga kasus Ebola yang terkonfirmasi di Inggris. Seluruh kasus pada periode itu melibatkan tenaga kesehatan yang kembali dari Afrika Barat.

Ketiga pasien yang teridentifikasi kemudian pulih, dan tidak terjadi penularan lanjutan di lingkungan setempat.

Situasi wabah di Afrika: Kongo dan Uganda

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 19 Juli, pemerintah Republik Demokratik Kongo telah mencatat 2.423 kasus Ebola yang terkonfirmasi. Dari jumlah tersebut, 967 orang meninggal dunia sejak wabah dinyatakan mulai pada pertengahan Mei.

WHO menyebut sebanyak 469 orang telah pulih. Selain di Kongo, Uganda juga dilaporkan mencatat 20 kasus Ebola yang terkonfirmasi serta dua kematian.

Wabah terbaru disebabkan oleh spesies Bundibugyo dari Ebola. Untuk spesies ini, hingga saat ini belum ada vaksin yang tersedia. Meski begitu, beberapa kandidat vaksin disebut masih dalam pengembangan.

Wabah ini juga digambarkan sebagai wabah ketiga terburuk yang pernah tercatat, sebagaimana disampaikan oleh Kepala WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Dengan kondisi relawan yang tetap dinyatakan tanpa gejala, pihak berwenang menekankan pemindahan dan pengawasan medis dilakukan untuk menjaga kehati-hatian, sekaligus memastikan penanganan sesuai dengan karakter penyakit yang memiliki masa inkubasi panjang.