jurnalistik.co.id – Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan kabar biaya perang AS melawan Iran dan menekan anggota Senat agar menyetujui tambahan anggaran. Ia mengaitkan permintaan itu dengan kebutuhan menjaga operasi militer, termasuk kemampuan membayar personel dan memperbarui perlengkapan.
Kesaksiannya pada sidang Komite Alokasi Anggaran Senat sempat berkali-kali terganggu oleh demonstran anti-perang. Pada akhir sesi, suasana berubah menjadi adu teriak antara Hegseth dan seorang senator.
Hegseth memulai kesaksian hari Selasa dengan pernyataan, “we live in a dangerous world”. Ia menyebut kondisi tersebut menuntut respons yang tegas dan cepat, sembari menegaskan momen pendanaan yang ia ajukan berada pada waktu yang genting.
Pada saat bersaksi, AS sedang menjalankan serangan untuk hari ke-11 berturut-turut. Di sisi lain, Iran juga melakukan serangan sebagai balasan kepada AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Biaya perang dan permintaan dana baru
Hegseth mengatakan perang dengan Iran sejauh ini telah menelan biaya sekitar 37,5 miliar dolar AS. Angka itu, menurutnya, meningkat hampir 8 miliar dolar dibanding estimasi terakhir pada bulan Mei.
Dalam keterangannya kepada Komite Alokasi Anggaran, ia menyampaikan kebutuhan agar anggota parlemen meloloskan tambahan 87 miliar dolar dana kongres. Dari jumlah tersebut, 67 miliar dolar diarahkan untuk operasi di kawasan Timur Tengah.
Hegseth menekankan urgensi permintaannya dengan mengatakan, “Without these funds, we face critical shortfalls that threaten our ability to also simply pay our service members, rapidly replenish equipment and munitions, and sustain vital operations without disruption”. Ia juga menyebut setiap dolar yang disetujui akan dipakai untuk membangun “lethality” kekuatan militer AS dan “reinforce peace through strength”.
Ia menambahkan bahwa jika pendanaan tidak terpenuhi, pelatihan bagi anggota militer baik saat ini maupun ke depan perlu dipangkas. Dalam argumentasinya, Hegseth berulang kali menyalahkan pemerintahan mantan Presiden Joe Biden karena, menurutnya, militer mengalami kekurangan pembiayaan.
Ketua komite dari Partai Republik, Susan Collins, mempertanyakan dampak apabila kebutuhan anggaran tidak terpenuhi. Dari kubu Demokrat, Patty Murray menolak permintaan tersebut dengan mengatakan bahwa langkah itu “does not make a lot of sense”.
Ketika ditanya senator Demokrat Dick Durbin mengenai perkiraan biaya perang melawan Iran sejauh ini, Hegseth menyebut angka 37,5 miliar dolar. Menurut dua sumber Demokrat dan satu sumber lain yang mengetahui persoalan itu, biaya sebenarnya dinilai jauh lebih tinggi, karena estimasi saat ini tidak memasukkan biaya seperti pembangunan untuk pangkalan AS yang mengalami kerusakan.
Hegseth juga berhujah bahwa bila pendanaan disetujui, permintaan tersebut merupakan “generational investment”. Ia menggambarkan tujuan anggaran itu agar AS tidak “playing catch-up” dengan militer negara lain.
Berita Terkait
Dalam catatan historis, tidak ada estimasi resmi pemerintah mengenai biaya finansial perang sejak 12 Mei, ketika pejabat senior Pentagon menempatkan angka di 29 miliar dolar. Sebelumnya, Pentagon pernah memberi tahu legislator bahwa biaya perang pada minggu pertama mencapai sekitar 11,3 miliar dolar.
Gangguan protes dan perdebatan lintas kubu
Sidang Selasa diwarnai gangguan singkat dari demonstran. Meski begitu, kesaksian Hegseth tetap berlanjut sebelum berakhir dengan pertukaran kata yang sengit.
Saat membahas posisi Gedung Putih, senator Demokrat Kirsten Gillibrand menuduh pemerintahan saat ini mencari “unlimited money for bombs” dari Kongres, sementara warga Amerika kesulitan untuk “feed their families”. Ia juga mempertanyakan mengapa Hegseth meminta puluhan miliar dolar untuk perang yang menurut Presiden sudah “won”.
Dalam penutup sidang, Gary Peters, senator Demokrat dari Michigan, menilai Hegseth “failure” dan mengatakan pemerintahan Presiden telah “created another ‘forever war’”. Hegseth kemudian menanggapi dengan “shame on you” serta menambahkan bahwa Peters memiliki “Trump derangement syndrome”.
Menurut laporan yang sama, mayoritas Demokrat menolak pendanaan tambahan tersebut. Di kubu Republik pun muncul ketidakpuasan, khususnya dari kalangan yang mengusung disiplin fiskal dan ingin pemotongan belanja di area lain sebagai kompensasi.
Bagaimanapun, jadwal kerja Kongres juga menjadi penghambat. Dewan Perwakilan Rakyat dijadwalkan meninggalkan kota pada Kamis, sementara kedua kamar tidak kembali rapat bersama sebelum September. Bahkan bila suara mayoritas bisa dikumpulkan, diperlukan waktu beberapa bulan sebelum Pentagon menerima dana yang diminta.
Serangan berlanjut dan daftar korban terbaru
Di tengah sidang, Presiden Trump memuat daftar perang AS yang lebih panjang dan lebih berdarah di Truth Social. Ia menulis bahwa dalam perang AS melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari, 18 orang telah meninggal.
Pada Selasa, Pentagon mengumumkan kematian Sersan Michael Emmanuel Swinton, seorang prajurit AS berusia 30 tahun, yang meninggal di Irak. Pentagon juga menyatakan Sersan Angel Rampersad, 28 tahun, diyakini tewas di Yordania.
Sehari sebelumnya, militer mengidentifikasi dua personel AS lain yang gugur dalam pertempuran di Yordania, yakni Pfc Isabella Gonzales (19) dan Letnan Satu Tyler Feehan (25). Perkembangan itu terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata yang pernah dicapai pada April, namun tidak bertahan dan membuat permusuhan kembali menyala pekan lalu.
Trump dijadwalkan terbang ke sebuah pangkalan udara di negara bagian Delaware pada Rabu pagi, saat peti jenazah prajurit dengan bendera AS tiba untuk kepulangan. Sidang Hegseth juga disebut sebagai penampilannya yang pertama di Capitol Hill sejak permusuhan dengan Iran kembali berlangsung.












