Daerah

Asal Usul Desa Pocong di Bangkalan, Bermula dari Teror 40 Hari

0
×

Asal Usul Desa Pocong di Bangkalan, Bermula dari Teror 40 Hari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Asal Usul Desa Pocong di Bangkalan, Berawal dari Teror 40 Hari

jurnalistik.co.id – BANGKALAN — Di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, ada sebuah desa dengan nama yang bagi sebagian orang terdengar unik sekaligus menyeramkan, yakni Desa Pocong di Kecamatan Tragah. Kisah di balik penamaan itu disebut berkaitan dengan peristiwa lama yang masih diingat warga setempat hingga sekarang.

Sejarawan Bangkalan, Hidrochin Sabarudin, mengatakan bahwa nama sebuah desa pada umumnya lahir dari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Hal itu juga, menurut dia, berkaitan dengan Desa Pocong. Dari informasi yang ia peroleh, wilayah tersebut semula belum memiliki nama dan masih didominasi hutan serta semak belukar.

Meski kawasan itu masih sepi, beberapa keluarga sudah lebih dulu tinggal di sana. Situasi kemudian berubah setelah ada seorang warga yang meninggal dunia. Seperti tradisi pada umumnya, jenazah dibungkus kain kafan sebelum dimakamkan.

“Ya selayaknya orang meninggal, jenazah dibungkus kain kafan sebelum dimakamkan,” ujar Hidrochin saat dikonfirmasi, Kamis (28/5/2026).

Namun setelah pemakaman itulah, warga mulai diguncang rasa takut. Pada malam hari, sejumlah orang mengaku melihat penampakan pocong. Sosok itu disebut melompat-lompat melewati hutan, semak belukar, hingga mendekati area permukiman.

“Banyak masyarakat yang ketakutan karena ada pocongan yang berjalan ke sana kemari melewati hutan-hutan, semak belukar bahkan sampai ke pemukiman penduduk,” ungkap Hidrochin.

Teror itu, kata dia, tidak hanya terjadi sekali. Warga menyebut kemunculan pocong berlangsung selama 40 hari berturut-turut. Peristiwa itu membuat suasana desa berubah tegang, terutama saat malam tiba. Banyak warga memilih tetap berada di dalam rumah karena khawatir sosok tersebut akan kembali muncul.

Menurut penuturan Hidrochin, salah satu tokoh desa setempat saat itu bahkan menyebut pocongan yang muncul berasal dari orang yang meninggal beberapa waktu sebelumnya.

“Menurut salah satu tokoh desa setempat kala itu, pocongan berasal dari orang yang meninggal beberapa waktu sebelumnya,” jelasnya.

Setelah lewat 40 hari, penampakan yang selama ini ditakuti warga disebut tidak lagi terlihat. Perlahan, ketakutan warga mulai mereda dan kondisi desa kembali tenang.

“Karena sudah tidak ada yang muncul lagi sehingga warga mulai kembali tenang,” imbuhnya.

Meski sempat reda, cerita serupa disebut kembali muncul setiap kali ada warga yang meninggal dunia. Warga kembali mengaku melihat penampakan pocong yang bergerak hingga ke area permukiman. Situasi itu membuat keresahan kembali terasa di tengah masyarakat.

Dalam kondisi seperti itu, warga akhirnya sepakat mengambil langkah bersama. Mereka membabat hutan dan semak belukar di wilayah tersebut untuk mengurangi kesan angker sekaligus membuat lingkungan sekitar lebih terbuka. Dari rangkaian peristiwa inilah kisah Desa Pocong terus hidup di tengah warga Bangkalan, tidak hanya sebagai cerita mistis, tetapi juga sebagai bagian dari asal usul nama desa yang dikenal hingga sekarang.

Di balik namanya yang terdengar menyeramkan, Desa Pocong pun akhirnya lebih sering dikenang lewat cerita turun-temurun tentang teror 40 hari, penampakan yang meresahkan warga, dan keputusan bersama untuk mengubah lingkungan yang semula berupa hutan dan semak belukar. Cerita itu menjadi penanda bagaimana pengalaman kolektif masyarakat dapat melekat kuat pada identitas sebuah tempat.

Bagi warga setempat, kisah tersebut bukan sekadar legenda. Ia menjadi bagian dari ingatan bersama tentang masa ketika desa masih sunyi, kehidupan belum seramai sekarang, dan rasa takut sempat menguasai malam-malam di kawasan itu. Hingga kini, cerita mengenai asal usul Desa Pocong tetap menjadi salah satu kisah lokal yang paling menonjol dari Bangkalan.