jurnalistik.co.id – Di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Nawati (75) tetap berupaya bertahan di lapaknya, meski suasana di lokasi wisata yang jauh dari keramaian membuat hari-harinya makin berat. Ia duduk di atas lapak kayu yang sudah lapuk, menahan panas dan debu yang beterbangan, sambil menunggu pengunjung datang.
Setiap hari, ia menata diri di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Tempatnya berada di area wisata “Api Tak Kunjung Padam”, yang membuat rutinitas jualannya ikut terseret sepi, termasuk saat ia harus berpindah lapak karena tergusur pedagang lain.
Nawati mengaku sudah berjuang puluhan tahun untuk hidup dari menjual jagung. Ia sering kali harus menyesuaikan tubuhnya yang renta agar tetap bisa bertahan; sesekali ia merebahkan badan, bahkan dalam waktu sekitar sepuluh menit dapat berganti posisi duduk.
Tubuhnya tidak lagi kuat untuk duduk lama. Namun, harapannya tetap sederhana: di setiap biji jagung yang terjual ada kemungkinan untuk pulang dengan uang guna biaya makan.
Bertahan dari pagi hingga pukul 22.00
Ia memulai aktivitasnya sejak pagi dan bertahan hingga pukul 22.00. Dalam kondisi normal, waktu panjang itu masih bisa terasa sebagai upaya mencari nafkah, tetapi belakangan tempat wisata yang sepi justru menambah jarak antara usahanya dan hasil yang ia harapkan.
“Sekarang sulit dan sepi. Bisa untung Rp 10.000 sehari itu sudah banyak,” kata Nawati kepada Kompas.com.
Menurutnya, ia membeli dan menjual kembali jagung untuk pengunjung di lokasi tersebut. Jika jagung laku, ia bisa mendapat untung; bila tidak, ia harus menanggung kerugian yang muncul dari modal yang sudah dikeluarkan.
Untung Rp 500 per biji, tapi tidak selalu habis terjual
Masalahnya, hasil yang ia terima tidak besar. Setiap biji jagung hanya memberinya untung Rp 500, dan upaya itu tidak selalu menghasilkan penjualan hingga tuntas.
Ia menceritakan bahwa jika yang terjual sedikit, uang dari penjualan kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian seperti membeli telur. “Saya membeli jagung ke orang dan dijual lagi di sini. Satu biji hanya untung Rp 500, itupun sulit laku semua,” ucapnya.
Selain soal jumlah yang terbatas, Nawati juga menghadapi risiko jagung yang tidak bisa bertahan lama. Jagung yang tidak cepat terjual bisa mengering bahkan busuk, sehingga pada akhirnya bisa menjadi rugi lagi.
Ia menjelaskan bahwa sepi membuatnya harus menyesuaikan jumlah dagangan. Sebelumnya ia bisa menyediakan sampai 50 jagung, tetapi kini ia mengurangi menjadi 20 biji karena khawatir tidak laku.
Kalau 20 biji pun tidak seluruhnya habis, Nawati mengakui ia akhirnya harus menerima kenyataan bahwa jagung mentah bisa kering. “Kalau tidak laku, jagung mentah bisa kering. Ya dimakan sendiri dan bingung cari modal lagi untuk beli dan dijual,” tutur Nawati.
Suami tidak bisa bekerja, sehingga ia memaksa diri
Di tengah tekanan ekonomi itu, ada kondisi keluarga yang membuat pilihan Nawati semakin sempit. Ia menyebut suaminya sudah tibak bisa bekerja, sehingga mau tidak mau ia harus memaksakan tubuhnya yang renta untuk tetap bertahan hidup.
Ia hanya bisa mengandalkan hasil jualannya untuk kebutuhan harian. Hasil penjualan tersebut menurutnya cukup untuk membeli beras dan lauk sehari-hari, sementara tiga anaknya sudah sibuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing.
“Mau tidak mau harus jualan. Makan untuk besok cari sekarang, begitu seterusnya,” ucap Nawati.
Dengan rutinitas yang panjang dan angka untung yang kecil, Nawati berusaha menjaga keberlangsungan hidup dari hari ke hari. Di tengah sepinya lokasi wisata, ia tetap bertahan karena tidak ada jalan lain selain melanjutkan jualan jagung hingga malam, sembari terus berharap lapaknya tidak kosong sepenuhnya.












