Daerah

Bubur Suro atau Tajhin Sora dari Bangkalan yang Mengisi Bulan Muharram

×

Bubur Suro atau Tajhin Sora dari Bangkalan yang Mengisi Bulan Muharram

Sebarkan artikel ini
Mengenal 'Tajhin Sora', Bubur Khas Bangkalan yang Hanya Ada Saat Bulan Muharram Regional 18 Juni 2026
Ilustrasi: Mengenal

jurnalistik.co.id – Bulan Muharram di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, memiliki cara merayakan yang khas. Pada perayaan tahun baru Islam ini, masyarakat setempat biasa saling membagikan bubur kepada tetangga di sekitar.

Bagi sebagian warga, tradisi tersebut bukan sekadar urusan makanan. Bubur yang dibagikan dipercaya mengandung makna sosial dan keakraban yang dijaga dari generasi ke generasi.

Menurut sejarawan di Bangkalan, Hidrochin Sabarudin, masyarakat di wilayah itu mengenal beberapa jenis bubur dengan berbagai makna. Salah satu yang menonjol adalah bubur suro atau Tajhin Sora, yang hanya dibagikan pada bulan Muharram.

Hidrochin menjelaskan bahwa masyarakat lokal juga memiliki sebutan lain untuk hidangan ini. “Masyarakat lokal biasanya juga menyebut dengan tajhin peddis atau bubur pedas,” ucapnya, Rabu (17/6/2026).

Makna Tajhin Sora bagi warga Bangkalan

Secara filosofis, Tajhin Sora diyakini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bangkalan. Hidrochin menyebut bahwa keberadaan tajhin tersebut diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Ia menilai, kemunculan Tajhin Sora merupakan cara masyarakat Bangkalan untuk berbagi pada sesama. Bubur dengan rasa gurih ini dipercaya menjadi simbol kebersamaan sekaligus pemerataan.

“Karena tajhin atau bubur ini kan dari bahan yang padat lalu diolah menjadi makanan yang lebih cair sehingga bisa dibagikan ke banyak tetangga sekitar,” ungkapnya.

Berdasarkan penjelasan Hidrochin, makna kebersamaan itulah yang terus dirawat warga hingga saat ini. Tradisi tersebut tampak dalam kebiasaan saling mengajak, mulai dari proses memasak sampai pembagian kepada lingkungan sekitar.

Tak jarang, dalam mengolah Tajhin Sora, masyarakat mengundang tetangga kanan dan kiri untuk memasak bersama. Melalui kegiatan itu, proses kebersamaan tidak berhenti pada saat bubur sudah jadi, tetapi hadir sejak awal pengerjaan.

Rangkaian proses memasak dan waktu perendaman

Proses memasak Tajhin Sora disebut membutuhkan waktu dan rangkaian yang panjang. Hidrochin menuturkan bahwa warga memulai dengan beras yang telah dicuci bersih.

Setelah itu, beras direndam hingga 2 jam. Langkah ini menjadi bagian dari persiapan sebelum beras dimasak lebih lama sampai teksturnya berubah menjadi lembut.

Beras yang sudah empuk kemudian dimasak bersama santan. Dalam proses berikutnya, warga juga menambahkan daging serta rempah-rempah agar cita rasa bubur terbentuk secara utuh.

Dari rangkaian pengolahan tersebut, Tajhin Sora akhirnya memiliki karakter rasa gurih yang kuat. Warga memandang bahwa perpaduan bahan selama proses panjang itulah yang membuat hidangan terasa sedap ketika disajikan.

Sajian dan kelengkapan topping di setiap mangkuk

Dalam penyajiannya, satu mangkuk bubur disertai topping yang lengkap. Hidrochin menyebutkan bahwa topping yang digunakan meliputi kacang goreng, irisan telur dadar, seledri, acar, serta cabai merah potong.

Kelengkapan topping tersebut membuat setiap sajian memiliki perpaduan rasa dan tekstur. Dengan pilihan irisan dan pelengkap yang beragam, bubur terasa lebih hidup saat disantap bersama.

Di tengah suasana Bulan Muharram, pembagian Tajhin Sora kepada tetangga menjadi momen yang menguatkan hubungan sosial. Warga tidak hanya menyiapkan makanan, tetapi juga menjaga tradisi saling menyapa dan saling berbagi di lingkungan sekitar.

Hidrochin menegaskan bahwa kebiasaan tersebut terus bertahan karena nilai kebersamaannya. Selama makna kebersamaan itu tetap dirawat oleh masyarakat, Tajhin Sora akan terus dikenang sebagai bagian dari perayaan Muharram di Bangkalan.

Dalam praktiknya, warga Bangkalan menjadikan Tajhin Sora sebagai kegiatan komunal yang dimulai jauh sebelum hidangan siap disantap. Tetangga kanan dan kiri dapat ikut terlibat dalam proses memasak, sehingga interaksi di antara warga berlangsung mulai dari menyiapkan bahan hingga bubur dibagikan pada lingkungan sekitar.

Pada bagian pengolahan, warga memulai dari beras yang sudah dicuci bersih, lalu direndam selama sekitar dua jam sebagai tahapan persiapan. Setelah itu, beras dimasak lebih lama hingga teksturnya berubah menjadi lembut, kemudian dipadukan dengan santan. Untuk melengkapi karakter rasanya, masyarakat juga menambahkan daging serta rempah-rempah hingga terbentuk cita rasa gurih yang merata.

Saat disajikan, setiap mangkuk Tajhin Sora tidak datang dengan satu jenis pelengkap saja. Hidrochin menyebut topping yang digunakan meliputi kacang goreng, irisan telur dadar, seledri, acar, serta cabai merah yang dipotong. Variasi isian tersebut membuat sajian terasa lebih lengkap, sekaligus memperkuat suasana saling berbagi ketika bubur dibawa dan diberikan kepada tetangga.