Peristiwa

Awang Terpaksa Bertahan di Teras Minimarket Grogol Petamburan, Memeluk Asa untuk Anaknya

×

Awang Terpaksa Bertahan di Teras Minimarket Grogol Petamburan, Memeluk Asa untuk Anaknya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tangisan Awang: Bertahan Hidup di Teras Minimarket, Memeluk Asa untuk Sang Anak

jurnalistik.co.id – Muhammad Awang (42) bertahan hidup di teras minimarket di wilayah Grogol Petamburan, Jakarta Barat, selama tiga tahun terakhir bersama anaknya, Gilang Ramadhan (6).

Kondisi ekonomi membuat Awang memilih tidur di teras minimarket, beralaskan tikar, agar tetap bisa menjaga dan mendampingi sang anak setiap hari.

Ia mengaku, keputusan itu bukan pilihan mudah, melainkan jalan yang akhirnya harus dijalani demi kebutuhan dasar dan harapan agar anaknya bisa sekolah.

Awang menceritakan awal mula ia bisa berada di depan minimarket bersama Gilang.

Sebelum tinggal di sana, ia bekerja sebagai sopir.

Menurut Awang, pada suatu waktu seorang driver ojek online melihatnya menggendong anak yang saat itu masih berusia sekitar tiga tahun di pinggir jalan dekat minimarket.

Driver tersebut kemudian menawarkan agar Awang bisa tidur di depan minimarket.

Awang menerima tawaran itu sebagai tempat bernaung sementara, ketika kemampuan untuk mendapatkan hunian yang layak sudah sangat terbatas.

Ia menjelaskan bahwa sebelum tidur di teras minimarket, ia tinggal bersama istri dengan cara mengontrak rumah di Jakarta.

Namun setelah mereka bercerai, Awang pindah ke rumah saudaranya di Jakarta.

Awang mengingat momen itu ketika Gilang lahir dan ia memilih mengurus anak sendirian.

“Pas si Gilang lahir, saya cerai sama bini saya. Itu anak umur 1,5 tahun,” kata Awang.

Sejak saat itu, Awang menjalani hari sebagai penjaga parkir sambil mengasuh Gilang yang belum sekolah.

Dalam sehari, ia biasanya memperoleh pemasukan sekitar Rp 60.000 dari pekerjaan tersebut.

“Duitnya ya buat makan, sama paling ya buat jajan si kecil,” katanya sambil berlinang air mata.

Bagi Awang, uang yang terkumpul tidak cukup untuk merencanakan masa depan anak secara lebih luas.

Ia menggambarkan bahwa penghasilan dari parkir hanya mampu menutup kebutuhan harian, terutama untuk makan dan kebutuhan kecil anak.

Di tengah keterbatasan itu, ia tetap berupaya agar Gilang tidak mengalami nasib serupa.

Awang menyatakan tekadnya kuat untuk menyekolahkan anaknya.

Ia mengaku berusaha menguatkan diri agar tetap bisa menjalankan tanggung jawab sebagai ayah.

“Saya enggak mau (anak seperti saya nasibnya). Tekad saya, saya mau didik anak saya, saya besarin,” tutur dia.

Namun, rencana untuk pendidikan tidak selalu bisa berjalan karena persoalan biaya.

Awang menyebut bahwa pemasukan dari parkir tidak mencukupi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan hunian lain yang lebih layak.

“Kalau dipikir-pikir (penghasilan dari parkir) enggak cukup ya, dicukup-cukupin gitu ya,” tutur dia.

Ia juga menjelaskan bahwa menabung untuk sekolah tidak mudah dilakukan.

Awang menilai, bahkan untuk membayar sewa kontrakan atau kos saja sudah terasa berat.

Akibatnya, ia tetap bertahan di depan minimarket agar bisa memastikan Gilang tetap berada dalam pengawasannya.

Dalam kondisi seperti itu, Awang mengandalkan pemasukan harian dari pekerjaan parkir.

Ia mengatakan penghasilan tersebut ia gunakan untuk kebutuhan makan, serta keperluan agar sang anak tetap bisa mendapatkan jajan.

Di waktu tertentu, ia juga berharap bantuan datang dari orang-orang yang memberi.

Awang menyebut hari Jumat menjadi momen ketika kadang ada tambahan dari pemberian yang ia terima.

“Ya kadang-kadang kalau hari Jumat, kan Jumat berkah gitu, ada yang kasih gitu ya. Yang penting halal buat anak saya,” ungkap dia.

Bagi Awang, yang terpenting adalah kemampuan bertahan dan pemenuhan kebutuhan harian bagi Gilang dengan cara yang halal.

Di teras minimarket, Awang tidur bersama anaknya beralaskan tikar.

Tempat itu sekaligus menjadi ruang ketika ia harus mengatur waktu, menjaga anak, dan menyesuaikan diri dengan ritme kegiatan sekitar minimarket.

Ia memilih bertahan di sana karena tidak punya alternatif yang lebih aman dan memadai.

Gilang, yang kini berusia enam tahun, menjadi pusat perhatian utama Awang dalam setiap keputusan yang ia ambil.

Dalam cerita Awang, ia tetap berupaya agar anaknya bisa terus melangkah menuju sekolah.

Meski hidup yang dijalaninya belum berubah, harapan agar Gilang memperoleh pendidikan tetap ia pelihara setiap hari.