Nasional

Nama teratas lintas generasi Milenial hingga Alpha: Slamet hingga Muhamad Al Fatih

×

Nama teratas lintas generasi Milenial hingga Alpha: Slamet hingga Muhamad Al Fatih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nama Paling Populer di Generasi Milenial hingga Alpha: Dari Slamet sampai Muhamad Al Fatih

jurnalistik.co.id – Teguh Setyabudi, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), memaparkan daftar nama yang paling banyak dipakai pada tiap generasi di Indonesia. Paparan itu disampaikan dalam Rakornas Dukcapil 2026 sekaligus rilis data kependudukan bersih Semester I Tahun 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Teguh menegaskan bahwa penamaan tidak sekadar pilihan administratif, tetapi juga memuat makna. Ia menyebut, “Nama adalah suatu harapan, suatu doa,” sebagaimana dikutip dari siaran Youtube Dirjen Dukcapil, Senin (4/8/2026).

Hasil pengolahan Dukcapil juga memperlihatkan bahwa preferensi nama mengikuti dinamika usia. Mulai dari generasi paling muda hingga yang tertua dalam cakupan data, beberapa nama tertentu muncul sebagai yang teratas.

Nama terpopuler pada Generasi Alpha

Untuk Generasi Alpha, yakni yang lahir pada rentang 2013 hingga 2024, nama laki-laki yang tercatat paling banyak adalah Muhamad Al Fatih dengan 29.351 penduduk, disusul Muhamad Rafa Azka P sebanyak 11.468 penduduk. Pada kelompok perempuan, nama terpopuler adalah Siti Aisyah yang dipakai 15.441 penduduk, dan Aisyah Ayudia I dengan 14.143 penduduk.

Generasi Z: nama laki-laki dan perempuan teratas

Beralih ke Generasi Z (lahir 1997 hingga 2021), nama laki-laki yang paling banyak digunakan adalah Ardiansyah dengan 18.221 penduduk serta Aldi sebanyak 17.996 penduduk. Untuk perempuan, nama terpopuler pada generasi ini adalah Sri Wahyuni dengan 26.541 penduduk dan Siti Aisyah sebanyak 25.046 penduduk.

Generasi Milenial: dominasi nama tertentu

Pada Generasi Milenial laki-laki (lahir 1981 hingga 1996), nama Herman menjadi yang paling banyak, dengan 44.421 penduduk, sementara Sutrisno menyusul 42.300 penduduk. Untuk Milenial perempuan, nama Nurhayati tercatat paling tinggi dengan 89.799 penduduk, diikuti Sri Wahyuni yang mencapai 80.567 penduduk.

Generasi X dan Baby Boomer

Di Generasi X (lahir 1965 hingga 1980), nama laki-laki terpopuler adalah Sutrisno dengan 65.737 penduduk, sedangkan Mulyadi digunakan oleh 52.325 penduduk. Untuk perempuan Generasi X, Nurhayati menjadi yang terbanyak dengan 105.618 penduduk, dan Sulastri menyusul 85.550 penduduk.

Sementara itu, pada kelompok Baby Boomer (lahir 1946 hingga 1964), nama Slamet tercatat sebagai yang paling banyak dengan 38.262 penduduk. Diikuti Sutrisno sebanyak 28.311 penduduk, Aminah dengan 37.153 penduduk, serta Nurhayati yang mencapai 36.900 penduduk.

Data yang disampaikan Dukcapil juga menunjukkan adanya pencatatan nama dari figur luar negeri. Teguh menyebut, “Ada misalnya Olivia, Olivia Rodrigo, ada cukup banyak, 142 ribu. Ada Justin Bieber (18.551 penduduk). Ada Ariana Grande (15.281 penduduk) misalnya, Ariana. Ada Selena Gomez (5.533 penduduk). Ada Taylor Swift (153 penduduk) misalnya. Cukup banyak yang menggunakan itu (nama artis luar negeri).”

Menurut Teguh, tren tersebut terkait perubahan preferensi penamaan dari waktu ke waktu. Ia menyampaikan bahwa nama-nama lokal semakin jarang dijumpai pada usia yang lebih muda, “Nama-nama lokal itu sudah mulai tergantikan. Sekarang mungkin untuk anak-anak yang usia 5 tahun, 10 tahun di Pulau Jawa katakanlah, sulit mencari yang namanya Joko, atau yang namanya Sutrisno, atau Slamet.”

Pemaparan ini menempatkan nama pada posisi yang strategis dalam dokumen kependudukan. Teguh juga menyinggung adanya aturan baru dari pemerintah terkait penulisan nama dalam dokumen seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Dengan demikian, pembacaan terhadap data nama terpopuler tidak hanya menggambarkan selera, tetapi juga memberikan potret perubahan budaya penamaan lintas generasi.

Lebih lanjut, Teguh menempatkan penamaan sebagai cerminan cara pandang masyarakat terhadap identitas. Ketika pilihan nama bergeser dari waktu ke waktu, pola yang terlihat di data Dukcapil seolah menunjukkan perubahan selera dan nilai yang dianut keluarga, terutama jika dilihat berdasarkan rentang usia.

Di sisi lain, kemunculan nama-nama dari figur luar negeri memperlihatkan bahwa pengaruh budaya populer ikut mewarnai kebiasaan penamaan. Dukcapil bahkan mencatat sejumlah nama seperti Olivia dan sederet artis lain, sehingga daftar teratas tidak hanya didominasi nama lokal, melainkan juga nama yang dikenal luas dari media.

Pada saat yang sama, ada perubahan cara pencatatan di dokumen kependudukan yang disebut Teguh, termasuk terkait penulisan nama pada KTP dan KK. Karena itu, membaca data nama terpopuler menjadi lebih dari sekadar daftar—ia membantu memahami bagaimana preferensi masyarakat berpadu dengan aturan administrasi dalam sistem kependudukan.