Peristiwa

Banjir Padang Picu Krisis Air Bersih: Warga Terpaksa Cuci Baju di Sungai Keruh, Lumpur Bikin Rumah Tak Bisa Disiram

×

Banjir Padang Picu Krisis Air Bersih: Warga Terpaksa Cuci Baju di Sungai Keruh, Lumpur Bikin Rumah Tak Bisa Disiram

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Krisis Air Bersih Korban Banjir Padang: Warga Cuci Baju di Sungai Keruh, Lumpur Rumah Tak Bisa Disiram

jurnalistik.co.id – Tiga hari setelah banjir melanda Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, sejumlah warga masih belum dapat kembali menempati rumah mereka. Hingga Kamis (6/8/2026), krisis air bersih membuat proses pemulihan berjalan jauh lebih lambat dari yang mereka harapkan.

Banjir yang terjadi pada Senin (3/8/2026) tidak hanya memutus sebagian akses jalan. Luapan air juga mengganggu layanan air bersih karena infrastruktur intake Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang mengalami kerusakan.

Menurut laporan di lapangan, kelangkaan air bersih muncul setelah banjir berdampak pada tiga intake PDAM yang menyuplai air ke pemukiman warga. Akibatnya, pembersihan sisa-sisa material banjir tidak bisa dikejar dengan cepat.

Warga Lapau Munggu pun harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan yang sama selama beberapa hari. Kondisi ini terasa langsung oleh korban yang ruang-ruangnya masih dipenuhi lumpur pekat dan barang-barang rumah tangga yang ikut tersapu air.

Rumah rusak, air bersih juga tak kunjung kembali

Salah seorang warga terdampak, Nola, menceritakan banjir merusak kediamannya pada Senin lalu. Saat air mulai naik hingga memuncak, ketinggiannya mencapai dada orang dewasa dan bagian belakang rumahnya ikut menjebol.

“Tidak ada yang terselamatkan. Saya bertiga dengan orang tua di rumah. Waktu air naik kami langsung mengungsi. Pas kembali, rumah ternyata sudah jebol,” ujar Nola sambil menunjukkan perabotan dan barang elektronik yang tertutup lumpur pekat.

Selain merusak bangunan, luapan air menyapu lemari pakaian serta dokumen penting milik keluarganya. Bantuan dari kerabat dan rekan-rekannya sejak Rabu kemarin membantu proses pengangkutan lumpur dan kayu, namun rumah Nola belum bisa ditempati sepenuhnya.

Nola menuturkan pembersihan sebenarnya sudah cukup berjalan, tetapi kebutuhan air bersih menjadi hambatan utama. “Ini sudah lumayan bersih, tapi kami terkendala air untuk menyiram lantai. Kalau ada air bersih baru bisa disiram supaya tidak berbau,” katanya.

Keterbatasan air juga berdampak pada kenyamanan tinggal. Ia mengaku saat ini terpaksa tidur di tenda pengungsian selama dua malam, sembari menunggu kondisi rumahnya benar-benar layak.

Pakaian harus dicuci di sungai keruh

Dampak krisis air bersih tidak hanya mempersulit pembersihan rumah, tetapi juga kebutuhan sanitasi sehari-hari. Lindawati—yang akrab disapa Linda—terpaksa berjalan puluhan meter menuju aliran sungai yang masih keruh untuk menyelamatkan pakaian yang terendam lumpur.

Linda mengakui ada risiko ketika mencuci di tepi sungai, apalagi cuaca mulai mendung. Namun ia mengaku tidak punya pilihan lain karena khawatir pakaian yang tertimbun lumpur terlalu lama akan rusak dan tidak dapat dipakai lagi.

“Ini baju untuk bepergian, sayang kalau dibuang. Jadi segera saya bersihkan. Kalau baju harian, mana yang masih bisa dipakai saja yang dicuci,” ungkapnya.

Ia tetap menjalani situasi tersebut meski hati dipenuhi kecemasan. “Air bersih tidak ada, mau bagaimana lagi. Cuma sungai keruh ini satu-satunya jalan,” tutur Linda.

Dengan kondisi itu, Linda membedakan pakaian mana yang masih layak dikenakan dan mana yang harus segera dibersihkan. Bagi keluarga korban, upaya tersebut menjadi bagian dari strategi agar barang yang tersisa tidak cepat rusak.

Distribusi air sudah ada, namun belum mencukupi

Sejumlah warga masih mengandalkan bantuan pasokan air bersih dari pemerintah daerah agar pemulihan bisa segera bergulir. Mereka berharap proses pembersihan rumah serta kebutuhan sanitasi harian dapat segera teratasi.

Dalam pantauan, distribusi air bersih sudah dilakukan di lokasi melalui tandon BPBD Kota Padang. Namun tandon tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan korban bencana di Lapau Munggu dan sekitarnya.

Karena itu, warga terus menunggu uluran tangan, baik melalui instansi terkait maupun mekanisme penanganan darurat. Mereka berharap pemerintah daerah dapat mengalokasikan air bersih, termasuk lewat dukungan dari damkar atau BPBD, untuk membantu membersihkan lumpur sisa banjir.

Bagi korban, air bersih menjadi kebutuhan yang menentukan cepat atau lambatnya rumah kembali berfungsi. Tanpa pasokan yang memadai, proses pembersihan tetap berjalan pelan, sementara sebagian warga harus menunda aktivitas di rumahnya dalam beberapa hari ke depan.