jurnalistik.co.id – Warga Bekasi mengeluhkan kualitas air PDAM yang kerap berubah keruh sejak Kali Bekasi tercemar. Dampaknya bukan hanya mengganggu pasokan air bersih, tetapi juga membuat rumah tangga harus menambah pengeluaran untuk mendapatkan air layak pakai.
Di kawasan RT 08/RW 08, Kelurahan Perwira, Kecamatan Bekasi Utara, air yang semula mengalir bersih kemudian tampak berlumpur dan berbau menyengat sebelum berangsur membaik kembali. Kondisi itu terjadi dalam beberapa hari terakhir dan diceritakan masih terasa meski aliran akhirnya kembali jernih.
Penurunan kualitas air baku Perumda Tirta Patriot disebut berkaitan dengan pencemaran Kali Bekasi. Selain membuat pasokan air bersih tidak berjalan normal, perubahan kualitas air ini juga mendorong pelanggan untuk mengurangi penggunaan air PDAM dalam aktivitas sehari-hari, terutama untuk kebutuhan konsumsi.
Sugiyoto (68), warga setempat, mengatakan keluarganya harus membeli air isi ulang ketika aliran berubah keruh. Ia menuturkan bahwa setiap kali kondisi air tidak jernih, kebutuhan rumahnya minimal mencapai dua hingga tiga galon per pembelian.
“Kalau air lagi keruh, kami sama sekali enggak berani pakai buat masak. Jadinya beli air isi ulang, kalau minum beli air kemasan,” kata Sugiyoto saat ditemui Kompas.com di sekitar rumahnya, Kamis (6/8/2026).
Menurut Sugiyoto, keluarga tetap membayar tagihan PDAM seperti biasa, namun harus menanggung biaya tambahan karena harus mencari sumber air alternatif. Dalam praktiknya, air yang disediakan PDAM tidak lagi dianggap aman untuk keperluan memasak, sehingga pengeluaran rumah tangga menjadi berlipat.
“Jelas bertambah. Kami tetap bayar PDAM, tapi juga harus beli air isi ulang dan air minum kemasan. Jadi pengeluarannya dobel,” ujarnya.
Ia mengakui kualitas air di lingkungan mereka sebenarnya sudah lama kerap berubah-ubah. Namun, Sugiyoto menyebut masa paling berat terjadi dalam sekitar dua pekan terakhir ketika air yang mengalir tampak keruh seperti bercampur lumpur.
Berita Terkait
Ketika kondisi paling buruk itu berlangsung, keluarganya tidak hanya menghindari penggunaan air untuk memasak. Warga juga memilih menunda kegiatan yang memerlukan air bersih, seperti mencuci pakaian, sampai aliran kembali terlihat jernih.
“Kalau air lagi keruh banget, kami enggak berani mencuci. Takut pakaian malah kotor. Jadi tunggu sampai airnya bening,” kata Sugiyoto.
Meski pada akhirnya air sudah kembali jernih, keluhan tersebut belum dianggap selesai. Sugiyoto berharap Perumda Tirta Patriot melakukan pemeriksaan kualitas air secara rutin, bukan hanya mendatangi lokasi untuk mencatat meteran.
“Jangan hanya datang mencatat meteran. Airnya harus benar-benar dijaga kualitasnya supaya warga bisa menikmati air bersih,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Sarkam (64) selaku Ketua RT 08/RW 08, Kelurahan Perwira. Ia menyatakan warga sebenarnya sudah lebih dulu merasakan masalah ini, tetapi kualitas air yang paling parah terjadi pada sekitar dua minggu terakhir.
Sarkam menuturkan bahwa dari waktu ke waktu, air PDAM memang kerap dianggap kurang bagus. Namun, pada periode belakangan, perubahan kualitas air menjadi lebih ekstrem hingga membuat warga semakin berhati-hati dalam menggunakan air untuk kebutuhan rumah.
“Memang dari dulu kualitas air PDAM di sini kurang bagus. Tapi yang paling parah sekitar dua minggu terakhir,” kata Sarkam.
Bagi warga, kejelasan informasi dan kepastian kualitas menjadi bagian yang sama pentingnya dengan kelancaran aliran. Ketika air tiba-tiba keruh, warga memilih mengurangi risiko dengan membeli air isi ulang maupun air kemasan, yang pada akhirnya terasa langsung dalam pengeluaran harian.
Di tengah keluhan tersebut, warga berharap pengelola layanan dapat memastikan pengawasan kualitas air berjalan konsisten. Dengan begitu, pelanggan tidak perlu lagi menunggu kondisi membaik atau mengandalkan alternatif ketika air PDAM berubah keruh.












