Daerah

Kemarau Berkepanjangan, Debit 11 Mata Air di Banyuwangi Turun Maksimal 30 Persen

×

Kemarau Berkepanjangan, Debit 11 Mata Air di Banyuwangi Turun Maksimal 30 Persen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kemarau Panjang, Debit 11 Mata Air di Banyuwangi Menyusut hingga 30 Persen

jurnalistik.co.id – Banyuwangi sedang menghadapi kemarau panjang yang mulai memengaruhi ketersediaan air baku. Berdasarkan pemantauan, debit 11 mata air yang menjadi pemasok air baku mengalami penurunan hingga 30 persen.

Meski debit berkurang, BPBD Banyuwangi menyatakan kondisi tersebut belum sampai mengganggu pasokan air bersih untuk masyarakat. Pengamatan dilakukan bersama Perumda Air Minum (PUDAM) Banyuwangi untuk memetakan perkembangan setiap titik sumber.

Partana, Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, menjelaskan bahwa penyusutan debit paling besar terjadi pada mata air yang berada di Kecamatan Licin dan Glagah. Penurunan ini terpantau dari hasil validasi bersama pihak PUDAM.

“Hasil validasi bersama Direktur PUDAM menunjukkan 11 titik sumber mata air mengalami penurunan debit kurang lebih 30 persen. Namun berdasarkan keterangan Direktur PUDAM, kondisinya masih dalam kategori aman,” kata Partana, Senin (3/8/2026).

Menurut BPBD, penurunan debit tersebut perlu dicermati karena musim kemarau diprakirakan berlangsung hingga akhir 2026. Dengan curah hujan yang semakin rendah, persediaan sumber air juga cenderung ikut menurun, sehingga debit mata air berpotensi terus mengalami penurunan.

Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan puncak musim kemarau di Banyuwangi terjadi pada Juli hingga September. Artinya, periode dengan risiko berkurangnya ketersediaan air diperkirakan berada pada rentang waktu tersebut.

Selain soal suplai air baku, kemarau panjang juga dikhawatirkan berdampak pada sektor pertanian. Sebab, kegiatan pertanian bergantung pada pasokan air irigasi yang berasal dari sejumlah embung maupun sungai.

Koordinasi antisipasi kekurangan air

Untuk mengantisipasi potensi masalah, BPBD Banyuwangi melakukan koordinasi dengan Dinas Pengairan dan Dinas Pertanian. Langkah itu ditujukan agar pengelolaan air dan pola tanam dapat disesuaikan sebelum kekurangan air menjadi lebih berat.

Dinas Pengairan diminta melakukan kajian teknis terhadap embung serta sungai yang menjadi sumber irigasi. Kajian tersebut diperlukan untuk memastikan rencana pengelolaan air berjalan efektif saat kemarau berlangsung.

BPBD juga mendorong optimasi penampungan sisa air hujan di embung-embung yang tersedia. Dengan pendekatan itu, cadangan air diharapkan bisa dimaksimalkan untuk menjaga ketersediaan saat kebutuhan meningkat di lapangan.

Sementara itu, Dinas Pertanian didorong menyesuaikan pola tanam. Langkah penyesuaian juga mencakup pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

Selain memilih varietas yang kuat menghadapi kondisi kering, petani juga diarahkan menggunakan tanaman dengan masa panen yang lebih singkat. Harapannya, waktu tanam dan panen dapat disusun agar lebih adaptif terhadap pasokan air yang berpotensi menurun.

Partana mengatakan, strategi tersebut diharapkan dapat membantu petani menghadapi musim kemarau tanpa mengalami gagal panen. Upaya penyesuaian di sisi air dan di sisi budidaya diposisikan sebagai langkah mitigasi agar dampak kemarau tidak melebar.

Dengan pemantauan debit mata air yang masih berada pada kategori aman, perhatian kini diarahkan pada kecenderungan jangka panjang hingga akhir 2026. Pelaksanaan kajian, optimasi embung, serta penyesuaian pola tanam menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air baku dan ketahanan pangan di Banyuwangi.

Pihak BPBD menyebut pemetaan perkembangan setiap titik sumber dilakukan agar perubahan debit bisa diikuti sejak awal. Dengan begitu, respons saat musim kemarau masuk fase puncak bisa lebih terukur berdasarkan hasil pengamatan dan validasi.

Karena risiko penurunan ketersediaan air diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026, langkah antisipasi tidak hanya difokuskan pada kondisi saat ini. Upaya menjaga keberlanjutan pasokan juga disiapkan untuk menghadapi kebutuhan irigasi yang bergantung pada embung maupun sungai.

Penyesuaian di sektor pertanian dipandang sebagai bagian dari mitigasi yang saling melengkapi. Ketika air untuk pengairan berpotensi menurun, pengaturan waktu tanam dan pemilihan tanaman yang lebih adaptif diharapkan membantu proses budidaya tetap berjalan dan mengurangi risiko kegagalan panen.