jurnalistik.co.id – Di Hull Crown Court, suasana yang tampak biasa justru menyimpan drama besar yang sulit dilupakan. Di tempat yang tidak memiliki kemegahan ruang sidang televisi, sebuah kasus penggelapan dan pengkhianatan terhadap keluarga berujung pada vonis penjara 20 tahun.
Cerita ini berawal jauh sebelum palu hakim diketuk. Pada Maret 2024, sejumlah pelapor mengangkat kekhawatiran terhadap Legacy Independent Funeral Directors kepada Humberside Police, dan dari situlah proses hukum berkembang hingga mencapai tahapan penjatuhan pidana lima hari.
Dalam sidang penjatuhan hukuman yang berlangsung sejak 27 Juli, para korban dan keluarga menunggu dengan napas tertahan. Pengaturan ruang pun dibuat sedemikian rupa agar mereka bisa bertemu dan menyaksikan secara langsung terdakwa yang telah merusak kepercayaan saat masa paling rentan.
Dari laporan awal hingga vonis lima hari
Robert Bush, mantan pemilik Legacy di Hull, akhirnya mengaku melakukan 67 pelanggaran. Pengakuan itu mencakup fraudulent trading, menyangkal 30 orang mendapat pemakaman yang layak dan benar, serta memberikan abu jenazah orang lain kepada sebagian keluarga yang kehilangan.
Skala perkara ini tidak lazim. Polisi mengidentifikasi 300 korban, mulai dari keluarga yang telah membayar Bush untuk paket rencana pemakaman dan layanan, hingga pihak keluarga yang kemudian mempertanyakan apakah abu yang diterima benar-benar milik orang yang mereka cintai.
Lebih jauh lagi, ada pula mereka yang tubuhnya dipercaya untuk dikuburkan atau dikremasi dengan martabat. Dengan daftar korban yang begitu besar, kursi di courtroom four untuk persidangan penjatuhan hukuman lima hari menjadi rebutan, sementara petugas ruang sidang membantu memastikan prioritas diberikan kepada keluarga yang terdampak.
Di luar ruang sidang, kebutuhan dasar keluarga disiapkan: kotak tisu, gelas kertas berisi air, dan sapaan yang menenangkan. Beberapa orang bahkan sudah berusaha menahan air mata sebelum memasuki ruangan untuk mendengar detail yang diyakini akan menghantam mereka secara emosional.
Detail kejahatan yang dipaparkan membuat perasaan putus asa terasa nyata. Di antaranya, Bush membuang bayi prematur yang masih meninggal, Sunny Beverley-Conlin, di lantai dalam sebuah kantong kertas, serta meninggalkan seorang korban dalam keadaan telanjang di lantai dengan dalih “let nature take its course”.
Seorang ibu yang mendengar uraian tersebut mengatakan keterangan-keterangan itu akan “will never leave me”. Di ruang sidang, narasi semacam itu tidak berdiri sendiri, melainkan menegaskan bahwa pengingkaran terhadap martabat manusia terjadi justru pada momen yang seharusnya dilayani dengan hati-hati dan penghormatan.
Perilaku terdakwa dan pertarungan atas keadilan
Saat menjatuhkan putusan, hakim Mr Justice Hilliard menyatakan tidak ada preseden untuk perkara ini. Ia juga mengakui penderitaan yang ditimbulkan sangat berat, dengan kalimat “caused anguish and pain on a scale beyond comprehension”.
Hakim menambahkan bahwa Bush “The defendant was so preoccupied with his own enrichment that he behaved in a shocking and disgraceful way,” dan kata-kata itu menggambarkan cara pandang pengadilan terhadap motif dan karakter perbuatan. Dalam seluruh persidangan yang dilihat, ketidaktersambungan terdakwa terhadap rasa sakit para korban menonjol secara mencolok.
Di persidangan, Bush beberapa kali menunduk dan lebih banyak menatap lantai. Ia berbicara hanya untuk memastikan namanya pada hari pertama, tidak menunjukkan keterbukaan yang diharapkan keluarga saat mereka menghadapkan dampak langsung dari perbuatannya.
Pengadilan juga menyoroti bahwa pengkhianatan ini tidak hanya terjadi pada dokumen atau angka, melainkan menyentuh relasi paling rapuh. Dalam penilaian barisan keluarga, tindakan Bush melawan ekspektasi dasar terhadap seorang direktur pemakaman yang seharusnya hadir dengan kesopanan, bukan pengelabuan.
Berita Terkait
Dalam salah satu pernyataan yang menguatkan dampak itu, Jasmine Beverley, ibu dari Sunny yang meninggal saat masih bayi, mengatakan kepadanya: “I trusted you. I have to live with that.” Kalimat tersebut merangkum bagaimana rasa percaya yang runtuh harus dibayar dengan hidup yang harus terus berjalan.
Setelah pemaparan pengakuan bersalah, banyak pertanyaan tetap mengemuka meski kasus semakin dekat ke akhir. Tim hukum terdakwa juga sempat berupaya menghentikan proses, sementara keluarga menunggu jawaban tentang apa yang benar-benar terjadi terhadap orang-orang yang mereka kuburkan.
Pengakuan bersalah Bush datang bertahap. Pada Oktober 2025, ia mengaku bersalah atas sekitar setengah dari 67 dakwaan, dengan inti pengakuan bahwa ia telah menipu keluarga terkait pemakaman yang benar dan memberikan abu yang salah.
Namun pada saat yang sama, ia juga menolak bahwa ia gagal menyediakan pemakaman yang layak. Situasi ini membuat keluarga dan jurnalis sama-sama “scratching their heads” karena sulit memahami bagaimana dua posisi itu bisa berdampingan.
Pada April 2026, Bush mengubah pengakuannya menjadi bersalah untuk seluruh 67 dakwaan. Ia masuk ruang sidang dengan sikap yang konsisten pada beberapa pertemuan sebelumnya, menolak agar keluarga dapat melihat wajahnya, dengan mengenakan black ski snood dan black baseball cap yang menutupi banyak bagian wajah hingga hanya mata yang terlihat.
Salah satu anggota keluarga mengatakan hal itu membuat mereka merasa “utterly disrespected that he refused to look me in the eyes”. Sementara sebagian keluarga merasa terbebas dari proses persidangan yang akan panjang, yang lain justru berharap bisa mengajukan pertanyaan langsung di pengadilan tentang apa yang menimpa orang-orang mereka.
Pada tahap-tahap awal persidangan, rencana hukum pun berulang kali disusun dengan kemungkinan yang berbeda-beda. Dalam setiap hearing, perubahan pengakuan menjadi bayangan yang selalu mengganggu, terutama ketika proses yang dijadwalkan berpotensi mengubah nasib keluarga.
Upaya menghentikan persidangan dan pertanyaan yang belum terjawab
Menjelang keputusan akhir, pengajuan keberatan juga muncul dalam kerangka yang berbeda. Pada Desember 2025, tim hukum Bush berusaha agar kasus dibatalkan, dengan argumen bahwa terdakwa tidak mungkin mendapatkan persidangan yang adil karena jumlah pemakaman yang pernah ia tangani terlalu besar untuk membentuk juri yang benar-benar tidak memihak.
Mereka menyebut Bush telah menggelar sekitar 2.000 pemakaman. Hakim kemudian meminta rincian berupa postcodes di mana Bush menjalankan pemakaman, sekaligus menilai apakah juror dapat didatangkan dengan bus dari wilayah-wilayah pinggiran.
Upaya berikutnya adalah menilai bahwa perhatian media yang intens membuat persidangan mustahil dilakukan secara adil dan proses seharusnya dihentikan. Hakim menolak dengan tegas dan mengatakan pemberitaan itu “fair, accurate and within the rules”.
Dengan vonis yang dijatuhkan, hakim kemudian menyimpulkan bahwa tidak pernah ada perkara yang memengaruhi begitu banyak orang dan begitu dalam. Saat menjatuhkan hukuman penjara 20 tahun, ia menyatakan bahwa ia tidak pernah “ever known offences affect so many people – and so many people so deeply”.
Di pihak pertahanan, barister Richard Wright KC menempatkan penjelasan dalam kerangka berbeda dengan menyebut bahwa “greed, incompetence and an inability to keep up with his own failings” mendorong kejahatan tersebut. Setelah sekitar tiga setengah hari pernyataan dampak korban, keterangan yang disampaikan tim mitigasi singkat, dan perhatian kemudian beralih pada konsekuensi hukumnya.
Dengan demikian, yang tetap membekas bagi mereka yang mendengar bukti bukan semata jenis pelanggaran, melainkan bagaimana Bush mengkhianati keluarga ketika mereka berada di posisi paling rapuh. Di balik semua prosedur sidang, pengadilan menekankan bahwa penderitaan yang ditimbulkan tidak sebanding dengan keseriusan sebuah layanan pemakaman.
Hakim juga menyinggung sikap keluarga setelah sidang berakhir. Di luar pengadilan, mereka saling memeluk, berdiri berdampingan, dan menuntut adanya regulasi, sebagai wujud harapan agar orang lain tidak harus menanggung rasa sakit yang sama.
Kepada publik, kasus ini menyoroti industri pemakaman yang belum teratur secara penuh di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara. Persidangan juga memunculkan pertanyaan apakah dua otoritas lokal telah memenuhi seluruh tanggung jawab mereka terkait pendaftaran kematian, serta mendorong respons dari perdana menteri yang berjanji meninjau aturan yang mengatur industri pemakaman.












