jurnalistik.co.id – Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, kembali membuka kisah lama yang sempat mewarnai kariernya di Juventus terkait rencana transfer Cristiano Ronaldo pada 2018. Ia mengungkap penolakannya saat itu, sekaligus menjelaskan rangkaian keputusan yang akhirnya membawanya berlabuh ke Nerazzurri.
Marotta menyebut dirinya tidak sependapat dengan perekrutan Cristiano Ronaldo ke Juventus pada 2018. Namun, menurutnya, penentangan tersebut tidak otomatis mengakhiri masa tugasnya di klub yang saat itu ia pimpin.
“Saya tidak setuju dengan perekrutan Cristiano Ronaldo, tetapi masa saya di Juventus tidak berakhir karena itu,” katanya. Pernyataan itu datang ketika Marotta menyoroti dinamika pengambilan keputusan di dalam organisasi klub, yang pada akhirnya tetap mengarah pada realisasi transfer tersebut.
Dalam kesempatan berbeda, Marotta juga menyinggung prinsip pengelolaan yang ia yakini. “Ketika pemilik klub melangkah maju, manajer harus mundur selangkah,” ujar Marotta. Kalimat itu dipakai untuk menggambarkan bagaimana posisi manajerial harus menyesuaikan arah saat keputusan puncak sudah diambil.
Meski menentang, Juventus pada akhirnya tetap mendatangkan Ronaldo. Konsekuensinya, Marotta kemudian meninggalkan posisinya sebagai CEO Juventus pada Oktober 2018. Hanya dua bulan setelah itu, Marotta hengkang dan bergabung dengan Inter Milan.
Sebelum berkarier bersama Inter, Marotta dikenal sebagai salah satu figur di balik delapan tahun kesuksesan Juventus di Liga Italia sejak 2010 hingga 2018. Kini, ia masih menempatkan satu target besar: menjaga Inter tetap kompetitif di Eropa dan berupaya memenangkan trofi Liga Champions.
Dalam narasinya, Marotta mengaitkan tujuan tersebut dengan capaian yang sudah diraih Inter. Ia menyebut kesuksesan Inter Milan meraih tiga trofi Liga Italia, yakni pada musim 2020-2021, 2023-2024, dan 2025-2026. Ia juga menyinggung bahwa gelar Liga Italia musim 2025-2026 terasa spesial karena Inter berada di bawah kendali pelatih baru, yaitu Cristian Chivu.
Marotta turut mengingatkan bahwa Inter terakhir kali menjuarai Liga Champions pada musim 2009-2010, ketika masih dipimpin oleh Massimo Moratti. Dengan latar tersebut, kisah penolakan Ronaldo dan peralihan kariernya ke Inter menjadi bagian dari perjalanan panjang yang ia kaitkan dengan ambisi Liga Champions.
Selain membahas Liga Champions, Marotta juga menyinggung momentum di kompetisi domestik. Ia menyatakan Inter sukses merebut trofi Coppa Italia 2025-2026 usai mengalahkan Lazio 2-0 pada partai final. Pertandingan Lazio vs Inter Milan digelar di Stadion Olimpico, Roma, pada Kamis (14/5/2026) dini hari WIB, dan Inter tampil sebagai pemenang dengan skor akhir 2-0.
Marotta mengaku siap pensiun jika Inter Milan mampu memenangi trofi Liga Champions. Ia menilai pernyataan tersebut lahir dari perjalanan yang sudah ia jalani bersama tim-tim yang ia tangani, termasuk sejumlah laga puncak di kompetisi elite Eropa.
Marotta menyebut bahwa saat memimpin Juventus dan Inter, ia total empat kali menemani timnya untuk tampil di final Liga Champions. Inter Milan, menurutnya, dua kali lolos ke final di bawah kepemimpinannya, yakni pada musim 2022-2023 dan 2024-2025. Namun pada dua kesempatan itu, Inter harus menerima kekalahan dari lawan yang berbeda.
Pada final musim 2022-2023, Inter kalah dari Manchester City dengan skor 0-1. Sementara pada final musim 2024-2025, Inter takluk dari Paris Saint-Germain dengan skor 0-5, saat kala itu tim masih dilatih oleh Simone Inzaghi.
Marotta juga mengingat perjalanan Juventus yang pernah ia pimpin, yang turut membuat totalnya genap di angka empat final. Juventus, katanya, juga masuk dua final Liga Champions pada 2014-2015 dan 2016-2017. Pada periode tersebut, Si Nyonya Besar bertekuk lutut dari dua raksasa Spanyol, yaitu Barcelona pada 2015 dan Real Madrid pada 2017.
Di bagian akhir, Marotta menegaskan harapan sekaligus alasan kesiapan dirinya berhenti dari peran profesional bila target itu tercapai. “Impian saya selanjutnya? Terlalu mudah untuk mengatakan Liga Champions,” katanya. “Tentu saja saya ingin memenangkannya bersama Inter. Tim saya telah bermain di empat final dan kalah di semuanya. Jika kami memenangkan Liga Champions, saya bisa pensiun,” imbuhnya.












