jurnalistik.co.id – Dalam waktu yang berdekatan, Chelsea mengeluarkan dana besar untuk Morgan Rogers, sementara pihak Aston Villa kini membahas opsi meminjam Alejandro Garnacho. Perbedaan skema ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana Chelsea tetap bisa memenuhi batasan keuangan, dan mengapa Villa memilih jalur pinjaman ketimbang pembelian penuh.
Rogers sendiri ditebus Chelsea dengan nilai £117m—menjadikannya rekor sebagai pemain Inggris termahal—setelah sebelumnya berstatus milik Aston Villa. Namun, satu hal yang langsung mengemuka adalah kemampuan Chelsea menjaga keseimbangan finansial di bawah aturan UEFA.
Bagaimana Chelsea bisa membiayai Rogers?
Chelsea diketahui berada di ambang batas belanja sesuai regulasi keuangan UEFA. Mereka pernah dijatuhi denda £2,6m karena pelanggaran, tetapi £1,7m di antaranya dapat dihapus jika klub menurunkan pengeluaran dan/atau meningkatkan pendapatan pada musim berikutnya.
Kondisi finansial Chelsea juga disebut membaik dibanding tahun lalu, ketika mereka mendapatkan denda £26,7m dan masuk ke kesepakatan penyelesaian selama empat tahun dengan UEFA. Sumber menyebut Chelsea menjual sekitar £300m pemain pada musim sebelumnya—catatan rekor Liga Premier—dan mereka menargetkan angka penjualan serupa dalam periode kali ini.
Secara angka, Chelsea telah mengantongi lebih dari £120m dari penjualan pemain, serta membelanjakan sekitar £164m hingga £210m. Angka itu bergantung pada apakah penandatanganan pra-kontrak seperti Geovany Quenda, Emmanuel Emegha, dan Valentin Barco ikut dihitung, selain transaksi Rogers dan Marco Palestra sejak Xabi Alonso mulai menjadi manajer.
Menurut kerangka yang diterapkan klub, penumpukan skuad dipandang sebagai investasi yang bisa dicairkan saat diperlukan. Bahkan, Transfermarkt menilai nilai skuad Chelsea mencapai £1,3bn—hanya kalah dari Manchester City di Premier League, sekaligus menjadi keempat tertinggi di Eropa. Di sisi lain, mereka tetap membawa beban utang yang besar: laporan terbaru untuk periode 2024–25 menunjukkan rekor rugi £262m di tingkat perusahaan klub di Liga Premier, dengan rugi £701m di level perusahaan induk. Imbasnya, total liabilitas di grup mencapai lebih dari £1bn.
Meski begitu, pihak dekat kelompok kepemilikan menyebut model investasi yang melibatkan penyedia pinjaman pihak ketiga tersusun rapi, umum pada organisasi olahraga elit, dan diarahkan pada keberlanjutan jangka panjang. Klub juga memproyeksikan kenaikan pendapatan besar pada laporan berikutnya hingga mencapai rekor klub sebesar £700m.
Football finance expert Kieran Maguire menyoroti bagaimana aturan dapat dimanfaatkan dalam ruang yang tersedia. Ia menyebut, “So, 85% is their PSR compliance with the Premier League but that does give them a slight advantage. If you look at the small print of the Premier League’s SCR rules, you can spend up to 115% of revenue on your player costs because that takes you up to what we refer to as the red zone. “Provided you’re in the red zone and don’t go beyond it, you still end up effectively paying a tax on additional costs, rather than having a points deduction. “Chelsea would have looked at the rules and established it. I’m sure they are looking to sell more players.”
Kenapa Chelsea tetap bisa berbelanja, meski skuadnya membengkak?
Setelah mendatangkan Rogers, Chelsea masih disebut menjelajahi opsi transfer tambahan. Mereka sempat melakukan pembicaraan untuk bek tengah Crystal Palace, Maxence Lacroix. Chelsea juga dikaitkan dengan mantan bek Manchester City John Stones, serta bek Jacobo Ramon dari Como.
Bersamaan dengan itu, Chelsea dikabarkan berdiskusi dengan Rayo Vallecano terkait potensi perekrutan full-back Pep Chavarria, yang diperkirakan menelan biaya antara £25m hingga £40m. Rangkaian belanja ini datang setelah Chelsea lebih dulu “mengunci” empat perekrutan sejak awal 2025, termasuk penyelesaian transfer Palestra dan Rogers, serta menorehkan tawaran £64m untuk Alex Scott dari Bournemouth yang ditolak.
Sebelum kedatangan lanjutan, Chelsea disebut memiliki 38 pemain senior terdaftar. Dastan Satpaev juga direncanakan bergabung pada Agustus dari FC Kairat. Dengan komposisi setebal itu, jalan yang dinilai paling realistis adalah penjualan lagi—dan beberapa nama disebut masuk daftar yang bisa dilepas.
Di antara pemain yang disebut tersedia untuk transfer adalah Benoit Badiashile, Axel Disasi, Trevoh Chalobah, dan Marc Guiu. Sementara itu, Mamadou Sarr diperkirakan akan dilepas melalui skema pinjaman ke klub lain di Premier League. Sebagian besar skuad lain juga disebut bisa menjadi opsi jika harga tepat, meski ada kelompok yang dinilai tidak tersentuh: Moises Caicedo, Estevao Willian, Cole Palmer, Joao Pedro, Levi Colwill, serta beberapa talenta muda berperingkat tinggi seperti Josh Acheampong.
Berita Terkait
Chelsea juga belum berhasil lolos ke kompetisi Eropa. Analisis musim-musim sukses tanpa berlaga di Eropa—termasuk kampanye juara Leicester City pada 2015–16, kemenangan Liga Premier Chelsea yang diraih Antonio Conte setahun setelahnya, serta catatan lolos Liga Champions Newcastle United 2024–25 dan Manchester United musim lalu—menunjukkan bahwa hanya sekitar 13 atau 14 pemain yang biasanya melampaui 1.500 menit bermain di semua kompetisi. Kondisi ini ikut menambah ukuran tantangan yang dihadapi, terlebih FIFA juga bergerak untuk melarang apa yang disebut “bomb squads” pada musim ini.
Apakah Garnacho bagian dari “pertukaran” Rogers?
Poin kunci dari skema yang disusun Chelsea dan Villa adalah apakah transfer tersebut dapat diklasifikasikan sebagai “swap deal” dalam kacamata UEFA. Salah satu klausul regulasi UEFA soal “player exchange transactions” menyatakan bahwa transaksi pertukaran pemain yang terjadi dua arah antara dua klub, dan diselesaikan dalam periode 45 hari, akan dipandang sebagai pertukaran.
Jika dua klub melakukan perpindahan pemain di jendela yang sama setelah lewat 45 hari, transaksi tersebut masih dapat dianggap sebagai swap apabila ada elemen dalam kontrak yang mengaitkannya. Sebagai ilustrasi, Tottenham dan Brighton pernah memindahkan bek tengah Jan Paul van Hecke dan Luka Vuskovic lewat dua kesepakatan terpisah pada musim panas ini, meski jaraknya dari ambang batas pengawasan UEFA dinilai tidak dekat.
Namun, Chelsea dan Villa adalah klub-klub yang perlu menukarkan efektif untuk mematuhi regulasi rasio biaya skuad UEFA, sekaligus menyesuaikan dengan perjanjian 2025 mereka. Dalam kasus Rogers, nilai transfer £117m dikatakan berpotensi memberi Aston Villa keuntungan akuntansi yang besar—sekitar £80m–£90m—setelah dikurangi sell-on dari Middlesbrough, biaya agen, dan sisa nilai buku dari penandatanganan Rogers pada 2024.
Jika Chelsea menjual Garnacho kepada Villa sebagai bagian dari transaksi yang sama, UEFA bisa menilai itu sebagai swap deal. Bahkan bila Garnacho pindah pada deadline day 1 September, rentang waktu kurang dari 45 hari membuat argumen bahwa transaksi tidak terhubung menjadi lebih sulit.
Di sinilah skema pinjaman berperan. Dalam kasus Garnacho, pinjaman dengan kewajiban untuk membeli masih bisa dipandang sebagai bagian dari swap deal jika “pembelian” itu telah disepakati dalam 45 hari setelah transfer Rogers. Sebaliknya, pinjaman dengan opsi membeli tidak diperlakukan sebagai swap deal. Sementara kewajiban pembelian bersyarat—misalnya bergantung pada jumlah penampilan, gol, atau pemicu seperti lolos ke kompetisi Eropa—dapat ditafsirkan dua arah, bergantung pada seberapa besar kemungkinan Garnacho akhirnya benar-benar pindah permanen.
Football finance expert Kieran Maguire menilai UEFA bergerak lebih dulu untuk mencegah pertukaran pemain yang terlalu mudah disusun. Ia menyatakan, “Uefa are one step ahead of the curve here to prevent such convenient player swaps or what are deemed player swaps, where both clubs end up booking a profit and complying with the Uefa rules,” lalu menambahkan, “The Premier League rules are much more lax, so that’s why I think it’s important to to determine whether or not this is deemed to be a sale. Because if so, it has implications for Villa’s SCR compliance with Uefa.”
Apa keuntungan Villa dari transaksi ini?
Secara sederhana, Villa mendapat kendali. Skema pinjaman dapat menekan beban biaya Villa pada musim ini, sekaligus mengurangi komitmen jangka panjang terhadap seorang winger yang dinilai sempat “menjanjikan” namun pada akhirnya tidak meningkatkan reputasinya di Stamford Bridge. Dalam kacamata Maguire, pasar pinjaman memang penting bagi Villa, karena kewajiban dalam kontrak harus terpenuhi agar kesepakatan permanen dapat dicairkan.
Villa sendiri dikatakan pernah memakai pola serupa dan berhasil, termasuk saat merekrut Marcus Rashford dengan status pinjaman dari Manchester United sebelum memutuskan tidak meneruskan ke pembelian permanen. Maguire menekankan, “If it is linked to the number of matches he starts then, to a certain extent, Villa are in control under those circumstances,” sembari mengingatkan, “The rules are the rules. Some people say: ‘Well, that’s a loophole.’ Some people will say: ‘Well, it’s they’re as written and you have to treat them accordingly.’”
Pelajaran dari Elliott, Osula, dan Ramsey
Riwayat Villa dalam menyusun pinjaman bersyarat juga menjadi konteks penting. Harvey Elliott bergabung ke Villa dengan skema pinjaman musim panas lalu, tetapi ada kewajiban membeli jika sang gelandang mencapai 10 penampilan Liga Premier. Pada Oktober, manajer Unai Emery memutuskan tidak ingin membayar £35m untuk Elliott, sehingga pemain berakhir “menggantung” dan menutup musim dengan hanya sembilan penampilan di seluruh kompetisi.
Di dalam permainan, ada anggapan bahwa keputusan itu bisa mengurangi minat pemain lain untuk menerima pola pinjaman serupa. Hal itu berpotensi membuat mereka kehilangan satu tahun perkembangan karier.
Untuk Will Osula, Villa dikatakan hampir menyelesaikan transfer musim panas lalu, tetapi gagal menuntaskannya karena kendala regulasi UEFA. Villa menjual gelandang Jacob Ramsey ke Newcastle untuk £40m agar patuh pada regulasi keuangan Premier League dan UEFA, namun langkah tersebut tidak membuka jalan bagi Osula karena UEFA akan menganggap perpindahan itu sebagai swap deal.












