jurnalistik.co.id – Kedekatan Chelsea dengan jejak akademi Manchester City terlihat bukan sekadar dari satu atau dua nama, melainkan dari peta rekrutmen yang mulai membentuk keseimbangan baru untuk musim depan. Dalam beberapa bulan terakhir, klub London itu semakin sering menunjuk pemain-pemain muda dari sistem yang sama dengan “Etihad”.
Gambaran paling gamblang datang dari Morgan Rogers. Pemain itu baru didatangkan sebagai rekrutan termahal klub senilai ÂŁ117m, sekaligus menjadi contoh perjalanan panjang dari akademi City. Rogers bergabung dengan Manchester City dari West Brom pada 2019, bertahan hingga 2023, lalu pindah ke Middlesbrough dengan nilai ÂŁ1m sebelum akhirnya kembali mencuri perhatian bersama Chelsea.
Rogers bukan sosok asing bagi Chelsea dalam konteks akademi. Enam tahun lalu, ia mencetak gol saat City mengalahkan tim Under-18 The Blues dalam momen yang kemudian menjadi “petunjuk masa depan” ketika kedua sekolah sepak bola itu bertemu di level usia. Pada musim tersebut, Chelsea juga pernah bertemu City di final Piala Pemuda FA 2020—mereka kalah, tetapi tetap melihat kualitas yang muncul dari sisi lawan.
Selain Rogers, Chelsea juga menumpuk pemain jebolan akademi City di skuatnya. Cole Palmer, yang juga berangkat dari struktur muda City, tampil mengancam gawang dalam kemenangan City 3-2 di St George’s Park—dengan Liam Delap memimpin lini. Di sisi lain, kedatangan pemain-pemain lain yang dibawa ke orbit Xabi Alonso membuat pola tersebut semakin terlihat: Romeo Lavia, Jamie Gittens, dan Tosin Adarabioyo ikut menghuni rencana skuad.
Jika dihitung bersama Rogers, Palmer, dan Delap, keenam nama itu hampir menyumbang total ÂŁ300m biaya transfer yang dibayarkan Chelsea sejak 2023. Namun, kontrasnya juga jelas: Alonso hanya diperkirakan memiliki sekitar tiga pemain permanen senior yang benar-benar berasal dari akademi Cobham, yaitu Levi Colwill (yang juga tampil dalam kekalahan melawan City), kapten Reece James, serta bek Josh Acheampong.
Di tengah komposisi itu, ada pula status yang masih bergerak. Trevoh Chalobah tetap menjadi pemain Chelsea, tetapi berada dalam pembicaraan tingkat lanjut untuk pindah ke klub Serie A, Como. Dengan demikian, “jalur Cobham” dan “jalur City” tidak hanya bertarung pada level perekrutan, melainkan juga pada keputusan daftar pemain yang dipertahankan atau dijual.
Salah satu alasan minat Chelsea pada pemain yang dibesarkan City adalah keberhasilan Palmer. Ia pindah di antara dua klub pada 2023 senilai £40m plus tambahan £2,5m, lalu berkembang menjadi salah satu performer menonjol di Premier League. Seorang mantan insider menyampaikan bahwa siapa pun yang berasal dari City “knows what good looks like”, sebuah keyakinan yang menggambarkan standar yang diyakini terbentuk sejak masa muda.
Faktor penting lainnya datang dari Joe Shields. Ia pernah bekerja di departemen rekrutmen akademi City, dan kini terlibat dalam perekrutan baik level youth maupun senior di Stamford Bridge. Pola rekrutmen berbasis koneksi internal juga terlihat di klub-klub lain: Manchester United memiliki senior leader Omar Berrada dan Jason Wilcox, yang juga pernah berkaitan dengan lingkungan eks-Man City.
Di luar sisi teknis, ada dorongan akuntansi yang membuat klub cenderung menjual pemain hasil binaan akademi. Biaya dari pemain yang dikembangkan internal dapat dicatat sebagai “pure profit” untuk tujuan pembukuan berdasarkan aturan belanja Premier League dan UEFA. Chelsea sendiri memberi contoh melalui penjualan Tyrique George ke Everton pada musim panas ini.
Namun, keputusan transfer lintas akademi tidak datang dari ruang kosong. Pep Guardiola sebelumnya mengakui betapa sulit memberi kesempatan kepada lulusan akademi di tim yang terus bersaing memperebutkan trofi besar. Pada masa tertentu, Rogers dinilai belum siap untuk level tim utama, sementara Palmer dan Jadon Sancho justru sempat memperoleh kontrak dan peran skuad, tetapi memilih melanjutkan pengembangan mereka di tempat lain. Pada Chelsea, pemain akademi juga sempat harus dilepas—baik saat kepemilikan Roman Abramovich maupun setelahnya di bawah Todd Boehly dan Clearlake Capital sejak 2022—untuk menyeimbangkan pengeluaran besar pada rekrutan baru.
Berita Terkait
Karena itu, Chelsea seperti mencari jawaban dari “keseharian” City: cara menyiapkan pemain muda agar memiliki rumah yang pas untuk berkembang. Klub juga mempekerjakan sejumlah staf eks-City, termasuk Calum McFarlane sebagai pelatih tim utama dan Glenn van der Kraan yang baru dipromosikan menjadi direktur akademi. Selain itu, pernah ada periode singkat untuk Tom Glick sebagai presiden bisnis, sementara Enzo Maresca—bersama beberapa staf kepelatihan lain—sebelumnya bekerja di Etihad. Maresca kemudian kembali ke City, tetapi jejaknya tetap menempel pada jejaring yang dibangun.
Ikatan akademi tersebut bahkan merembet ke relasi lintas klub. James McAtee dan CJ Egan-Riley, yang sama-sama bermain di final Piala Pemuda FA 2020, pernah menjadi target Strasbourg, klub Prancis yang dimiliki oleh BlueCo—perusahaan induk Chelsea. Chelsea juga sempat tertarik pada mantan pemain akademi City, Michael Olise, sebelum ia pindah ke Bayern Munich, serta pernah mengeksplorasi kesepakatan untuk bek Nico O’Reilly.
Pengaruh City yang dibicarakan juga menyentuh kedalaman prestasi akademi. Chelsea menyelesaikan musim tanpa trofi dan berada di posisi ke-10 klasemen Premier League, tetapi tim-tim akademi mereka tetap meraih titel liga dan piala. Kualitas talenta yang muncul disebut bergerak bersama Shields dan Van der Kraan, dengan jalur kesinambungan dari Jack Francis yang berperan sebagai pathways director dan memasuki tahun ke-16 bersama klub.
Jejak Cobham sendiri pernah mencapai puncak yang sulit ditandingi. Neil Bath dan Jim Fraser sebelumnya memimpin akademi dengan sistem yang mampu memenangkan lima Piala Pemuda FA secara beruntun, termasuk tiga kemenangan beruntun atas City, untuk menyamai catatan panjang yang pernah dipegang Manchester United melalui “Busby Babes” pada era 1950-an. Chelsea juga menjadi satu-satunya klub Inggris yang meraih UEFA Youth League pada 2015 dan 2016.
Meski begitu, Chelsea pernah dihantam transfer ban pada 2019 akibat pelanggaran terkait perekrutan pemain muda. Saat ini mereka juga menjalani pembatasan untuk mendaftarkan pemain akademi menyusul pelanggaran historis yang berasal dari era Abramovich. Larangan pertama itu justru membuka peluang bagi Tammy Abraham, Mason Mount, Fikayo Tomori, Callum Hudson-Odoi, Ruben Loftus-Cheek, Andreas Christensen, dan Reece James untuk akhirnya membangun tempat di tim utama di bawah Frank Lampard.
Di saat Cobham menata ulang jalurnya, City tumbuh cepat di bawah kepemilikan Abu Dhabi dan berinvestasi berat dalam pengembangan usia muda—sebuah area yang disebut bebas dari pembatasan pengeluaran finansial. Dominasi dua akademi bahkan sempat melahirkan kesepakatan informal untuk tidak saling merekrut pemain satu sama lain pada level usia, agar gaji dan biaya transfer di level muda tidak membengkak. Kesepakatan itu kemudian berakhir.
Setelah Brexit membuat rekrutmen pemain luar negeri di bawah 18 tahun menjadi tidak mungkin, gelombang investasi pada akademi juga datang dari Manchester United, Liverpool, dan Arsenal. Salah satu contoh yang menonjol adalah ketika Liverpool mendatangkan Rio Ngumoha—yang kini menjadi bagian dari tim muda Inggris—dari Chelsea pada 2024, yang kemudian berujung pada pembatasan bagi para youth scout klub rival untuk menghadiri pertandingan.
Ketika Chelsea berada di bawah kepemilikan baru, Bath tengah mengembangkan strategi yang lebih segar. Namun, setelah Fraser meninggalkan klub karena perselisihan dengan figur senior, Bath ikut pergi dan staf City bergerak masuk ke posisi-posisi senior di akademi. Perubahan tersebut mengejutkan banyak pihak dalam sepak bola akademi, di mana cerita tentang rivalitas sengit, konfrontasi panas di balik layar, serta perayaan intens setelah kemenangan di level kelompok umur masih sering beredar.
Rivalitas “utara versus selatan” kemudian mengental selama satu dekade terakhir. Pada 2025, Delap menjawab pertanyaan mengenai rivalitas itu dengan kalimat, “We hated each other in games.” Ia menambahkan, “But everyone’s man enough now that, off the pitch, we can be friends. I used to play against Levi [Colwill] every year. It was a great battle. There are too many matches to remember, but we [City] beat them in the Youth Cup final [in 2”.
Selain dari sisi pemain, kesan itu juga muncul dari manajerial. Gareth Taylor, manajer tim putri Liverpool, menghabiskan sembilan tahun di akademi City dan mengingat kontribusi Rodolfo Borrell—mantan pelatih Barcelona—dalam membentuk filosofi kepelatihan yang terinspirasi Johan Cruyff dan Guardiola. Ia menggambarkan Delap dengan “real edge”, Rogers sebagai “really good and really humble”, sementara Palmer ia sebut “used to run rings around opponents” dan “never get nervous”.
Taylor juga merangkum pendekatan yang dibangun sejak usia dini melalui, “We designed a really clear playing style. From under-11s and under-12s all the way up to the under-23s, you could see really clear alignment in the way we played, our identity and our style.” Dengan fondasi seperti itu, “revolusi” bergaya City disebut memberikan dampak pada tim senior maupun tim muda di Stamford Bridge. Kini Chelsea, dengan Alonso yang datang, berharap pendekatan yang sama membawa lebih banyak hasil.












