jurnalistik.co.id – Momen hangat Lamine Yamal bersama sang adik, Keyne, memberi sorotan berbeda dari sekadar permainan di lapangan. Interaksi kakak-adik itu menunjukkan bahwa dukungan keluarga tidak hanya hadir sebagai latar, tetapi juga ikut membentuk cara seorang anak menghadapi tekanan.
Setelah membantu Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026, nama Yamal kembali ramai dibicarakan. Kali ini, perhatian datang dari momen ketika pemain berusia 19 tahun itu bercanda dan memeluk adik laki-lakinya, Keyne, di tengah perayaan kemenangan.
Video keduanya yang beredar di media sosial kemudian memancing beragam komentar. Banyak penonton menilai kedekatan kakak-adik tersebut hangat dan memperlihatkan sisi Yamal di luar hijau rumput.
Kedekatan Yamal dengan keluarganya disebut bukan sesuatu yang baru. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menegaskan bahwa keluarga memiliki peran besar dalam perjalanan hidup dan kariernya.
Menjelang semifinal Piala Dunia 2026, Yamal menyampaikan pandangannya tentang tekanan. Ia mengatakan bahwa tekanan terbesar bukanlah bermain di pertandingan besar, melainkan perjuangan yang pernah dilalui orangtuanya.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari Reuters pada Sabtu (20/7/2026), Yamal menyatakan, “Saya tidak pernah memberi tekanan kepada diri sendiri. Ibu saya melahirkan saya saat berusia 16 tahun, itu baru tekanan yang sesungguhnya,”.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman keluarga dapat menjadi kerangka dalam memaknai beban. Bukan semata soal rutinitas, melainkan tentang hubungan yang membuat seseorang merasa dipahami dan tidak berdiri sendiri.
Dalam konteks perkembangan anak, kedekatan semacam ini juga sejalan dengan pandangan psikologi perkembangan. Nancy Darling, PhD, Profesor Psikologi di Oberlin College, menyoroti bahwa faktor paling menentukan adalah rasa dicintai tanpa syarat.
Berita Terkait
Darling mengatakan, “Faktor terpenting yang menentukan hasil positif pada perkembangan anak adalah kasih sayang tanpa syarat,”. Menurutnya, ketika anak merasa dicintai dan diterima apa adanya, mereka cenderung memiliki rasa aman untuk mencoba hal-hal baru.
Rasa aman tersebut juga membuka ruang bagi anak untuk belajar dari kegagalan. Anak dapat menghadapi tantangan tanpa takut kehilangan dukungan dari orang-orang terdekat.
Konsep ini berkaitan dengan secure attachment atau ikatan emosional yang aman. Dalam rujukan yang dilaporkan National Institutes of Health (NIH), secure attachment membantu anak merasa memiliki “tempat yang aman” untuk kembali ketika menghadapi tekanan.
Dengan adanya “tempat yang aman” itu, anak terdorong untuk lebih berani mengeksplorasi lingkungan. Pada saat yang sama, mereka juga belajar membangun kepercayaan diri sekaligus mengelola emosi dengan lebih baik.
Jika dikaitkan dengan gambaran kedekatan Yamal dan Keyne, momen bercanda dan pelukan di tengah perayaan kemenangan dapat dibaca sebagai penanda hubungan yang menenangkan. Di level publik, ia memang terlihat sederhana, namun secara nilai, ia menunjukkan bahwa dukungan keluarga bisa menjadi penyangga saat seseorang berada dalam situasi yang penuh sorotan.
Pada akhirnya, cerita yang muncul dari lapangan itu kembali mengarah pada hal yang sama: kesehatan mental anak tidak dibentuk oleh satu faktor tunggal. Dukungan emosional yang hadir secara konsisten, termasuk rasa aman dari ikatan keluarga, menjadi fondasi yang membantu anak tetap kuat ketika menghadapi tekanan.
Dalam narasi yang muncul dari momen tersebut, yang menonjol bukan hanya kedekatan kakak-adik, tetapi juga cara dukungan keluarga menjadi semacam “sandaran” ketika sorotan datang bersamaan dengan tuntutan performa. Sikap Yamal yang merangkul Keyne tampak melengkapi cerita tentang bagaimana dirinya memandang tekanan dari dekat.
Jika merujuk pada garis besar yang sama, kasih sayang tanpa syarat dan secure attachment membantu anak membentuk cara merespons situasi sulit. Dengan rasa aman sebagai tempat kembali, individu cenderung lebih mudah menata pikiran saat menghadapi ketidakpastian, tetap berani mencoba, dan belajar dari kegagalan tanpa merasa dukungannya akan hilang.
Gambaran itu juga sejalan dengan gagasan bahwa kesehatan mental tidak dirancang oleh satu sumber saja. Yang terlihat dalam kasus Yamal adalah keterhubungan antara pengalaman keluarga, interpretasi terhadap beban, serta penguatan rasa dipahami—sehingga tekanan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang bisa dihadapi, bukan sesuatu yang harus menekan dari dalam.












