jurnalistik.co.id – Gelombang boikot produk Amerika Serikat di Kanada tidak hanya mengubah preferensi belanja, tetapi juga memaksa ritel pangan mengencangkan aturan label asal serta menata ulang rantai pasokan. Perubahan ini terasa di toko kelontong hingga supermarket, terutama di wilayah Ontario.
Di Greater Toronto Area, pemilik jaringan Vince’s Market, Giancarlo Trimarchi, turun langsung ke media sosial untuk meyakinkan pelanggan bahwa sebagian besar produk segar di tokonya berasal dari Kanada. Langkah itu muncul setelah toko mereka dibanjiri email dan komentar yang memprotes keberadaan barang AS di rak.
Trimarchi menilai situasi yang kini terjadi jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. “Situasinya jauh lebih agresif kali ini dibandingkan tahun lalu,” kata Trimarchi, dikutip Reuters, Minggu (20/9/2026).
Dengan tekanan tersebut, empat gerai Vince’s Market menargetkan hingga 90% produk lokal. Mereka juga melakukan penggantian pasokan, termasuk memasok stroberi dari Quebec untuk menggantikan suplai dari AS.
Perombakan ini terjadi di tengah perang dagang yang dipicu kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Boikot yang sebelumnya sudah muncul kini menguat setelah perundingan perdagangan menemui jalan buntu, sementara Trump juga mengeluarkan perintah untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi “Lake America”.
Di sisi pelaku usaha, transisi pemasok membawa konsekuensi langsung pada biaya operasional. Trimarchi menyebut perubahan sumber pasokan turut mendorong penyesuaian anggaran, termasuk pemangkasan belanja iklan.
Ia merangkum pergeseran dilema belanja yang selama ini dipertimbangkan. “Dulu kami selalu dihadapkan pada pilihan menyeimbangkan antara kualitas versus harga. Sekarang, pilihannya adalah kualitas versus harga versus negara asal produk,” ujar Trimarchi.
Momentum boikot juga merambat ke peritel besar. Loblaw Cos, peritel makanan terbesar di Kanada, kembali memasang papan bergambar daun maple di area produk segar untuk menegaskan asal barang. Perusahaan itu turut menggunakan label khusus “T” guna mengidentifikasi produk yang terdampak tarif.
Berita Terkait
Metro juga menyatakan akan memprioritaskan produk lokal sebagai respons atas perubahan selera konsumen. Komitmen semacam ini, pada akhirnya, mempertegas posisi asal negara dalam keputusan pembelian.
Gary Sands, Wakil Presiden Senior Kebijakan Publik dan Advokasi Federasi Peritel Independen Kanada, menggambarkan dampak sosial yang lebih luas. “Telah terjadi perubahan permanen dalam jiwa masyarakat Kanada,” kata Gary Sands.
Data pemerintah menunjukkan indikator nyata di tingkat perdagangan. Impor sayuran Kanada dari AS turun menjadi 62,6% pada Juli, dibandingkan 69% pada periode yang sama 2023. Meski begitu, lebih dari separuh impor buah Kanada masih berasal dari AS, namun konsumen makin selektif berdasarkan negara asal dan kepemilikan perusahaan.
Bagi sebagian pembeli, boikot menjadi bentuk penolakan terhadap kebijakan Washington. John Ambard, insinyur perangkat lunak berusia 27 tahun di Toronto, mengaku selalu memeriksa label serta mencari informasi mengenai kepemilikan perusahaan sebelum membeli produk.
Ia menyatakan kemarahannya dengan sangat gamblang. “Saya merasa sangat marah dengan Amerika atas apa yang terjadi saat ini. Sikap mereka sama sekali bukan tindakan seorang teman,” katanya.
Di tengah perubahan itu, Kanada juga berupaya mencari pemasok dari negara lain. Upaya diversifikasi disebut mencakup Spanyol, Brasil, dan Honduras, sebagai alternatif untuk mengurangi dominasi pasokan dari AS.
Pemerintah pun ikut bergerak melalui program dukungan produksi domestik. Mereka mengalokasikan C$3 miliar atau sekitar Rp33,7 triliun selama 10 tahun untuk memperluas pembangunan rumah kaca dan meningkatkan produksi di dalam negeri.
Sementara itu, para pemilik toko melihat perubahan rantai pasokan sebagai peluang jangka panjang. Gordon Dean menilai rantai pasok baru yang lebih terdiversifikasi dapat mengurangi ketergantungan Kanada terhadap AS.
Secara keseluruhan, boikot yang awalnya berangkat dari penolakan atas produk AS kini berujung pada pengetatan informasi asal, perubahan rute suplai, dan penyesuaian biaya operasional. Pada waktu yang bersamaan, keputusan konsumen dan respons industri tampak saling memperkuat hingga membentuk pola belanja baru.












