jurnalistik.co.id – Rupiah memulai perdagangan awal pekan, Senin (21/9/2026), dengan tekanan jual yang membuat posisinya melemah. Kurs rupiah tercatat turun 0,29% menjadi Rp17.793 per US$.
Pergerakan tersebut terjadi seiring penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury. Ketika pasar menilai prospek suku bunga AS, arus dana di pasar obligasi ikut mendorong mata uang dolar tampil lebih kuat di awal sesi.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent yang terkoreksi turut memberi sinyal yang relatif menguntungkan bagi mata uang Asia. Brent turun 2,09% ke level US$101,63 per barel, namun dampak tersebut belum cukup untuk menahan laju pelemahan rupiah.
Di kawasan Asia, dolar Taiwan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,19%. Setelah itu, mata uang lain seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Singapura, yuan China, serta yuan offshore juga ikut menguat.
Pola yang sama tidak sepenuhnya terlihat pada rupiah. Pada saat bersamaan, rupiah bergerak searah dengan pelemahan peso Filipina, menggambarkan bahwa sentimen yang mendukung mata uang Asia belum merata dan masih terpengaruh oleh dominasi dolar AS.
Menjelang tengah pagi, rupiah kemudian bersikap lebih defensif. Nilainya berangsur membaik dengan memangkas sebagian penurunan, sehingga kurs tercatat melemah tipis 0,2% menjadi Rp17.777 per US$ pada pukul 09:15 WIB.
Berita Terkait
Meski ruang pergerakan sempat terbuka karena minyak yang turun, dorongan dari dolar dan pasar obligasi global tetap menjadi faktor penekan utama. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali terapresiasi ke 100,2, sehingga penguatan mata uang Asia cenderung terbatas.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bergerak kembali mendekati level 5%. Kondisi ini berkaitan dengan keputusan Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,75–4%, yang kemudian memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter.
Dengan imbal hasil yang kembali mendekati area kunci tersebut, dolar mendapat dukungan tambahan dari arus investasi berbasis imbal hasil. Alhasil, meskipun Brent melemah dan memberi penopang bagi mata uang berisiko, rupiah masih harus berhadapan dengan tekanan dari faktor global yang lebih dominan.
Secara ringkas, dinamika awal pekan ini menunjukkan keseimbangan yang belum sepenuhnya berpihak pada rupiah. Sentimen dari turunnya Brent memang membantu meredakan pelemahan, tetapi penguatan dolar AS yang ditopang imbal hasil US Treasury tetap membuat rupiah bergerak dalam rentang pelemahan, meski kemudian mampu mengurangi penurunannya pada pukul 09:15 WIB.
Perubahan arah rupiah di paruh awal sesi menunjukkan bahwa pergerakan tidak hanya ditentukan oleh satu sinyal. Saat minyak melemah dan memberi dorongan yang biasanya mendukung mata uang berisiko, efeknya justru harus bersaing dengan penguatan dolar AS yang disokong penilaian pasar atas jalur kebijakan suku bunga.
Dominasi dolar juga terlihat dari respons lintas mata uang di Asia. Meski beberapa mata uang seperti dolar Taiwan dan ringgit ikut menguat, arah tersebut tidak otomatis diterjemahkan ke rupiah. Indikasinya, sentimen yang mendukung mata uang Asia belum cukup merata sehingga pelemahan rupiah tetap berlangsung dalam fase awal perdagangan.
Dari sisi pasar keuangan global, penguatan dolar bertumpu pada kombinasi arus berbasis imbal hasil dan ekspektasi suku bunga yang berubah setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya 25 bps ke kisaran 3,75–4%. Dengan indeks dolar berada di area 100,2 dan imbal hasil 10 tahun mendekati 5%, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi faktor utama, meski kemudian terkoreksi sebagian pada pukul 09:15 WIB.












