Bisnis & Ekonomi

Harga Kebutuhan Pokok Tetap, Inflasi Oktober Diprediksi Melambat namun Masih Tinggi

×

Harga Kebutuhan Pokok Tetap, Inflasi Oktober Diprediksi Melambat namun Masih Tinggi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Sembako Stabil, Inflasi Oktober Diramal Melambat - Market

jurnalistik.co.id – Laju inflasi Indonesia pada Oktober diproyeksikan melambat dibanding periode sebelumnya, meski masih berada pada level yang tinggi. Publik akan menunggu rilis resmi data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan diumumkan pada awal pekan depan.

Menurut konsensus Bloomberg yang disusun dari 14 ekonom dan analis, inflasi Oktober diperkirakan sebesar 0,27% secara bulanan (month-to-month/mtm). Proyeksi ini menunjukkan arah perlambatan ketimbang capaian September.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, inflasi Oktober akan sedikit lebih rendah dibanding inflasi September yang tercatat 0,3% mtm. Dengan kata lain, tekanan harga diperkirakan mereda namun belum benar-benar hilang.

Rilis BPS pada awal pekan depan menjadi penentu apakah pergerakan harga sesuai ekspektasi para ekonom yang dihimpun dalam konsensus. Bagi pelaku pasar dan pengambil kebijakan, angka yang keluar akan menjadi rujukan untuk menilai ruang penyesuaian kebijakan ke depan.

Di sisi lain, catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan harga sejumlah kebutuhan pokok tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Indikasi ini mengarah pada stabilitas di beberapa komoditas pangan utama menjelang penghitungan inflasi Oktober.

Mayoritas komoditas pangan yang dipantau tercatat cenderung bertahan di level relatif sama. Kenaikan, ketika terjadi, tidak menyebar merata ke seluruh wilayah, sehingga variasinya lebih bersifat regional.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah beras. Harga beras terpantau stabil di sebagian besar daerah, sehingga kontribusi kenaikan harga dari komoditas ini diperkirakan tidak dominan secara nasional.

Meski demikian, kenaikan harga beras tetap tercatat di sejumlah provinsi tertentu. Berdasarkan catatan PIHPS, kenaikan terjadi di enam provinsi, yaitu Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Banten, Kalimantan Utara, dan Papua.

Di Jawa Timur, harga beras tercatat naik sebesar 1,84%. Sementara itu, Sulawesi Selatan mengalami kenaikan 1,38%, dan Jambi naik 1,27%.

Untuk wilayah lain, Banten mencatat kenaikan sebesar 0,31%, Kalimantan Utara naik 0,29%, serta Papua naik 0,28%. Pola ini menggambarkan bahwa kenaikan harga beras bersifat terbatas pada area tertentu, bukan fenomena menyeluruh.

Dengan kondisi tersebut, gambaran umum yang muncul adalah inflasi Oktober kemungkinan melambat karena tekanan dari kebutuhan pokok tidak menguat secara luas. Namun, proyeksi 0,27% mtm tetap menegaskan bahwa dinamika harga masih berada di level yang perlu dicermati.

Ke depan, pembacaan terhadap rilis BPS juga akan memperjelas apakah stabilitas harga kebutuhan pokok benar-benar konsisten di seluruh komponen inflasi. Publik akan menunggu data resmi untuk memastikan tingkat inflasi Oktober sesuai dengan konsensus yang melibatkan 14 ekonom dan analis.

Secara keseluruhan, perkiraan inflasi Oktober yang bergerak menurun dari 0,3% mtm menjadi 0,27% mtm memperlihatkan adanya sinyal pelemahan tekanan harga. Namun, angka proyeksi yang masih positif menandakan proses normalisasi berjalan bertahap, bukan perubahan yang instan.

Menjelang pengumuman resmi, proyeksi konsensus Bloomberg menjadi semacam kompas awal bagi ekspektasi publik. Angka 0,27% mtm yang diperkirakan lebih rendah dari September memberi gambaran bahwa pelemahan tekanan harga sedang terjadi, meski arah akhirnya tetap bergantung pada data yang akan dirilis BPS.

Dari sudut pandang indikator harian, catatan PIHPS yang tidak menunjukkan kenaikan tajam pada kebutuhan pokok memperkuat narasi bahwa dorongan inflasi Oktober tidak menguat merata. Ketika kenaikan komoditas tidak menyebar luas, dampaknya cenderung lebih terkonsentrasi pada kelompok wilayah tertentu, sehingga total laju inflasi ikut bergerak lebih landai.

Untuk beras, situasinya juga mencerminkan pola tersebut. Harga beras disebut relatif stabil di sebagian besar daerah, namun kenaikan tetap muncul di enam provinsi: Jawa Timur (+1,84%), Sulawesi Selatan (+1,38%), Jambi (+1,27%), Banten (+0,31%), Kalimantan Utara (+0,29%), serta Papua (+0,28%). Selisih besaran kenaikan ini menunjukkan bahwa kontribusi perubahan harga beras bersifat terbatas secara geografis, bukan fenomena yang dominan secara nasional.