jurnalistik.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (22/9/2026). Indeks melepas 1,11% dan berada di 6.313.
Sesi perdagangan sempat menunjukkan arah yang lebih baik di awal, ketika IHSG dibuka di zona hijau. Namun, laju indeks kemudian berangsur tertahan hingga menyentuh level terendah di 6.302.
Aktivitas jual mendominasi transaksi sepanjang sesi. Volume yang berpindah tangan mencapai 13,66 miliar saham dengan nilai transaksi Rp5,13 triliun, sementara frekuensi perdagangan sebanyak 877 ribu kali.
Tekanan pada indeks muncul di tengah sentimen yang membuat investor menaruh perhatian pada kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Pelaku pasar menanti arah suku bunga yang akan ditetapkan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang hasilnya diumumkan besok.
Konsensus ekonom dan analis yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan BI Rate tetap berada di level 5,75% pada RDG bulan ini. Proyeksi tersebut menjadi salah satu rujukan yang memengaruhi cara investor memosisikan portofolio menjelang pengumuman.
Pengaruh agenda suku bunga dan sentimen global
Di saat yang sama, dinamika dari sejumlah bank sentral negara utama juga memberi warna pada ekspektasi pasar. Federal Reserve (The Fed) mengambil langkah hawkish dengan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4%.
Berita Terkait
Pelaku pasar juga mencermati European Central Bank (ECB) yang mengerek suku bunga 25 bps menjadi 2,5%. Selain itu, BoJ (Bank of Japan) menempuh langkah serupa, sehingga perhatian terhadap perbedaan arah kebijakan menjadi lebih intens.
Menjelang rilis keputusan BI, saham-saham perbankan turut terimbas oleh tekanan yang dialami IHSG. Saham bank besar bahkan melemah hingga lebih dari 3%, seiring pasar mempertimbangkan implikasi dari penetapan BI Rate yang dinantikan besok.
Dengan kombinasi penantian atas keputusan RDG dan keberlanjutan sentimen suku bunga dari luar negeri, pergerakan pasar pada sesi ini tetap cenderung ditekan. Investor berada dalam posisi menunggu, sementara transaksi menunjukkan dominasi aksi jual dan IHSG melanjutkan pelemahan dari pembukaan yang sempat mengarah ke zona hijau.
Meski indeks sempat membukukan pergerakan positif, perubahan sentimen terjadi relatif cepat. Setelah kenaikan awal, pelaku pasar memilih menurunkan eksposur risiko dan lebih fokus pada sinyal kebijakan, terutama karena keputusan suku bunga BI akan diumumkan melalui RDG. Perubahan respons tersebut tercermin dari pola pergerakan yang kemudian cenderung konsisten bergerak melemah hingga mendekati level terendah sesi.
Dominasi transaksi dari aktivitas jual juga memperlihatkan kecenderungan pasar yang menunggu kejelasan. Nilai transaksi yang mencapai Rp5,13 triliun dengan perpindahan 13,66 miliar saham memperlihatkan bahwa meskipun volume cukup besar, arah transaksi tidak mendukung pemulihan indeks. Pada saat frekuensi perdagangan sebanyak 877 ribu kali, dinamika tersebut menggambarkan selektivitas pelaku pasar: transaksi tetap berjalan, tetapi lebih banyak diarahkan untuk menekan tekanan beli saat IHSG bergerak turun.
Di tengah penantian terhadap besok, perkiraan BI Rate 5,75% yang disampaikan konsensus menjadi titik acuan yang memengaruhi cara investor menilai posisi asetnya. Imbasnya tidak hanya terasa pada arah IHSG, tetapi juga pada sektor-sektor yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga. Karena itu, ketika pasar mulai mengaitkan konsekuensi RDG dengan kondisi portofolio, saham perbankan ikut tertekan hingga melemah lebih dari 3%.
Sementara itu, langkah hawkish dari sejumlah bank sentral di luar negeri turut memperkuat suasana kehati-hatian. The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 3,75–4%, ECB menaikkan 25 bps menjadi 2,5%, dan BoJ menempuh langkah serupa, sehingga perbedaan arah kebijakan yang terus dipantau menambah tekanan pada ekspektasi pasar. Dengan kombinasi faktor domestik yang menunggu keputusan BI dan referensi kebijakan global yang cenderung ketat, pasar pada sesi ini tetap bergerak dalam mode menanti konfirmasi.












