jurnalistik.co.id – Pembukaan perdagangan awal pekan ini diperkirakan bergerak konsolidatif. Meskipun demikian, IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan secara terbatas.
Investment Specialist Team PT Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) menilai arah indeks pada periode awal pekan cenderung tertahan, namun tidak menutup peluang kenaikan. Proyeksi kisaran pergerakan berada di rentang 6.300–6.450.
Menurut KISI, perhatian investor saat ini tidak hanya tertuju pada kondisi domestik, tetapi juga pada perkembangan dari Amerika Serikat. Pergerakan pasar saham global disebut dapat dipengaruhi rilis data tenaga kerja AS.
KISI mencatat, rilis Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat untuk Juli 2026 menunjukkan pelemahan yang tidak sesuai ekspektasi. Data tersebut memperlihatkan penurunan (shed) sebanyak 23.000 pekerjaan, jauh di bawah proyeksi konsensus yang mengarah pada kenaikan 80.000.
Selain angka utama NFP, KISI juga menyoroti revisi data. Revisi untuk data Juni disebut turun menjadi 20.000, lebih rendah daripada laporan sebelumnya.
Dalam penyesuaian yang lebih luas, KISI menyebut akumulasi revisi gabungan untuk Mei dan Juni menghasilkan penurunan 103.000 pekerjaan. Angka revisi ini juga dinilai lebih rendah dari laporan sebelumnya.
Situasi tersebut turut menekan sentimen terhadap indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY). Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, DXY terkoreksi 0,36 persen, dan secara mingguan tercatat melemah 0,20 persen.
Di sisi lain, KISI menilai kondisi pasar domestik masih relatif solid. IHSG disebut berada dalam pola ascending channel, yang menggambarkan kecenderungan penguatan dari waktu ke waktu.
Pada perdagangan Jumat pekan lalu, IHSG disebut tetap bertahan di atas garis indikator Exponential Moving Average (EMA) 60. KISI memandang posisi tersebut memberi sinyal positif untuk keberlanjutan tren penguatan dalam horizon menengah.
Berita Terkait
Penguatan yang terjadi di pasar juga dikaitkan dengan pergerakan harga emas. KISI menyebut harga emas melonjak 2,39 persen pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, sehingga berpotensi menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten.
Dalam risetnya, KISI menyoroti emiten yang berkaitan dengan sektor pertambangan emas. Investor dapat mencermati BRMS, PSAB, dan HMSP sebagai contoh saham yang relevan dengan dinamika tersebut.
Meski ada peluang indeks menguat, KISI tetap mengingatkan investor untuk mencermati kondisi perdagangan menjelang periode libur panjang. Dengan mempertimbangkan situasi tersebut, IHSG diproyeksikan bergerak konsolidatif, tetapi ruang penguatannya dibatasi pada rentang 6.300–6.450.
Secara praktis, fokus investor pada awal pekan dapat diarahkan pada kombinasi faktor teknikal domestik dan isyarat dari pasar global. Sementara itu, pergerakan harga emas menjadi variabel yang layak dipantau karena berpotensi memengaruhi sentimen saham-saham terkait.
Dengan proyeksi yang menempatkan IHSG pada area konsolidasi, kehati-hatian tetap diperlukan. Untuk pengambilan keputusan, KISI merekomendasikan agar perhatian diarahkan pada saham-saham yang dipengaruhi pergerakan komoditas, khususnya BRMS, PSAB, dan HMSP.
Dalam konteks rilis tenaga kerja AS yang mengecewakan, perubahan ekspektasi pelaku pasar turut ikut terbaca pada pelemahan US Dollar Index. Pergerakan DXY yang terkoreksi di akhir pekan juga menjadi indikator tambahan bagi arah sentimen global.
Bagi investor, fokus awal pekan dapat diarahkan pada keterkaitan antara indikator makro tersebut dengan kondisi teknikal IHSG. Dengan indeks tetap berada di atas EMA 60, bias penguatan dipertahankan, walau pergerakan masih berpotensi tidak langsung meluas.
KISI juga menekankan bahwa katalis komoditas masih relevan untuk dicermati. Kenaikan harga emas sebesar 2,39 persen berpeluang mendorong minat pada emiten yang terhubung dengan dinamika sektor pertambangan emas seperti BRMS, PSAB, dan HMSP.
Karena indeks diproyeksikan bergerak konsolidatif dalam rentang 6.300–6.450, strategi yang lebih selektif dinilai lebih sesuai. Sentimen dapat berubah apabila data dan reaksi pasar global bergeser, sementara menjelang libur panjang investor perlu mempertimbangkan potensi penurunan aktivitas.












