jurnalistik.co.id – Video seorang atlet Hyrox di Beijing yang menyelesaikan lomba setelah mengalami insiden kebersihan di tengah pertandingan memicu perdebatan luas. Sebagian menyoroti aspek kesehatan dan sanitasi, sementara yang lain memuji keteguhan atlet tersebut untuk tetap melanjutkan race.
Cuplikan perempuan yang bertanding pada kompetisi kebugaran indoor dengan kaki yang kotor itu viral dan cepat menyulut pro-kontra. Di saat yang sama, sejumlah pihak juga menilai penyelenggara seharusnya tidak membiarkan atlet tersebut terus berjalan melalui area yang dianggap terkontaminasi.
Hyrox menyatakan pihaknya melakukan operasi pembersihan besar setelah lomba pada Sabtu. Langkah yang disebut termasuk sanitasi peralatan dan penggantian bagian karpet tertentu.
Perusahaan kebugaran asal Jerman itu mengakui adanya “legitimate concerns”, namun meminta agar frustrasi tidak diarahkan kepada atletnya. Hyrox juga tidak mengungkap identitas atlet tersebut sejak awal.
Meski demikian, nama atlet itu kemudian beredar di internet. Setelah itu, atlet yang tidak disebutkan identitasnya lebih dulu bahkan menerima ancaman kekerasan.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada awal Senin, Hyrox menegaskan, “There is no place in our community for threats of violence or encouragement to harm an athlete,”. Pernyataan itu juga menyebut, “Any person identified as engaging in this behaviour – whether through comments, direct messages or social media – will be permanently banned from all Hyrox events,”.
Sementara itu, beberapa peserta di ajang yang sama dilaporkan meminta permohonan maaf dan pengembalian dana. Mereka beralasan bahwa mereka terpaksa bersentuhan dengan peralatan yang dianggap terkontaminasi selama perlombaan, sebagaimana diberitakan media Tiongkok.
Dalam setiap lomba Hyrox, peserta bergantian menjalani lari sejauh satu kilometer dan melakukan rangkaian latihan kebugaran. Latihan yang dimaksud mencakup sled push, burpee jumps, indoor rowing, serta lunges sambil membawa sandbag.
Hyrox disebut makin populer sejak kompetisi tersebut didirikan pada 2017 di Hamburg, Jerman. Olahraga ini kini digelar di berbagai negara, dan tampil perdana di daratan Tiongkok pada akhir 2024.
Berita Terkait
Dalam konteks lomba Beijing akhir pekan lalu, muncul pertanyaan mengapa petugas tidak melakukan intervensi ketika atlet tersebut mengalami insiden. Alasannya, Hyrox memiliki penalti untuk tindakan seperti meludah dan membuang sampah.
Erica Dodge, seorang perawat yang berbasis di Amerika Serikat, menuliskan pandangannya di Instagram. Ia menyatakan, “From a basic health and sanitation standpoint, the athlete should have been stopped immediately, and any contaminated areas should have been closed off and properly cleaned before other athletes were allowed through,”.
Joe Ho—peserta yang juga ikut lomba Hyrox Beijing pada akhir pekan—mengkritik respons Hyrox. Ia juga menyerukan agar organisasi “take responsibility when its own procedures fail”.
Dalam unggahannya, Joe Ho menulis, “If the organisation accepts that something went wrong, why not offer affected participants refunds, credits, or some meaningful form of compensation?”.
Di sisi lain, sebagian tokoh komunitas kebugaran menilai insiden serupa tidak sepenuhnya asing pada cabang olahraga daya tahan. Ada komentar yang membandingkan pengalaman atlet endurance dengan kondisi di maraton, termasuk pendapat bahwa peserta yang sudah berlatih lama tidak mudah menyerah begitu saja. Salah satu komentar di Facebook berbunyi, “They’ve trained too long and too hard to give up just like that.”
Perbandingan juga merujuk pada kejadian terkenal di olahraga lari jarak jauh. Pada 2005, pelari maraton Inggris Paula Radcliffe pernah berhenti di titik 22 mil selama London Marathon untuk melegakan diri di pinggir jalan, terlihat oleh kamera, sebelum akhirnya tetap memenangkan lomba.
Tahun ini, pelari maraton asal Tiongkok Li Meizhen juga menjadi sorotan setelah melewati garis finis Hengshui Lake Marathon dengan darah menstruasi di kakinya. Kasus-kasus tersebut sering dipakai sebagai contoh bahwa dorongan menyelesaikan kompetisi bisa tetap muncul meski terjadi situasi yang tidak diinginkan.
Hyrox juga dinilai berkembang cepat di Tiongkok. Menurut Xinhua, lembaga berita milik negara tersebut, lebih dari 500 gym afiliasi menyediakan pelatihan khusus Hyrox. Seiring tren tersebut, fasilitas latihan di berbagai kota dilaporkan ikut memanfaatkan meningkatnya minat masyarakat.
Besarnya antusiasme terhadap lomba Beijing juga memengaruhi format penyelenggaraan. Organizers menambahkan satu hari sehingga acara berubah menjadi ajang empat hari untuk memberi ruang bagi lebih banyak peserta.
Laporan tambahan disebut berasal dari Laura Bicker di Beijing. Perdebatan yang muncul setelah insiden kebersihan tersebut kini menjadi sorotan baru tentang bagaimana standar prosedur dan penanganan risiko sanitasi diterapkan dalam kompetisi Hyrox, sekaligus tentang bagaimana komunitas merespons atlet yang menghadapi kejadian tak terduga saat bertanding.












