Bisnis & Ekonomi

SILO Menambah Utang Rp8,8 Triliun untuk Akuisisi 14 Rumah Sakit

×

SILO Menambah Utang Rp8,8 Triliun untuk Akuisisi 14 Rumah Sakit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: SILO Ngutang Rp8,8 T Buat Akuisisi 14 RS, Beban Keuangan Melebar - Market

jurnalistik.co.id – PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menyampaikan rencana akuisisi terhadap 14 perusahaan pemilik portofolio rumah sakit. Langkah ini dilakukan dengan target pemegang portofolio tersebut berasal dari First Real Estate Investment Trust (First REIT).

Dalam pengumuman yang disampaikan melalui keterbukaan informasi, SILO menyebut nilai akuisisi untuk 14 rumah sakit yang ikut dioperasikan mencapai Rp6,91 triliun. Nilai tersebut menggambarkan total transaksi yang terkait dengan portofolio rumah sakit yang menjadi sasaran.

Perusahaan juga menginformasikan bahwa rencana akuisisi tersebut akan menambah utang bank SILO sekitar Rp8,88 triliun. Dengan demikian, struktur pendanaan atas transaksi akuisisi dikaitkan dengan penambahan liabilitas perbankan.

Transaksi akuisisi dirancang dalam dua tahap pelaksanaan. Pada tahap pertama, SILO akan mengakuisisi delapan perusahaan, sedangkan tahap kedua melibatkan enam perusahaan.

Pelaksanaan pada tahap kedua disebut dilakukan melalui mekanisme opsi jual. SILO menempatkan kedua tahap tersebut sebagai bagian dari skema yang terhubung, bukan rangkaian yang berdiri sendiri.

Dalam keterbukaan informasi, SILO menegaskan bahwa transaksi tahap pertama dan tahap kedua merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. Karena itu, nilai seluruh 14 transaksi diperhitungkan secara agregat untuk memenuhi ketentuan transaksi material dan persetujuan pemegang saham.

Dengan pendekatan agregasi nilai, perusahaan menempatkan bahwa persetujuan pemegang saham dan ketentuan transaksi material dihitung berdasarkan keseluruhan rencana akuisisi 14 rumah sakit. Kerangka ini juga menjelaskan mengapa pembagian tahapan tidak mengubah basis perhitungan nilai transaksi yang utuh.

SILO juga menyampaikan bahwa aset yang menjadi sasaran transaksi tidak berbentuk rumah sakit baru yang dibangun. Artinya, rencana akuisisi diarahkan pada portofolio yang telah ada, dengan perubahan keterlibatan melalui pengambilalihan atas perusahaan pemilik portofolio tersebut.

Pengumuman tersebut menempatkan rencana akuisisi sebagai langkah korporasi yang melibatkan portofolio rumah sakit dari First REIT, dengan total nilai transaksi sebesar Rp6,91 triliun. Di sisi lain, pembiayaan rencana itu dikaitkan dengan penambahan utang bank sekitar Rp8,88 triliun.

Dalam pelaksanaannya, SILO membagi implementasi menjadi dua tahap: delapan perusahaan pada tahap pertama dan enam perusahaan pada tahap kedua. Mekanisme opsi jual pada tahap kedua mempertegas bahwa tahapan lanjutan mengikuti skema yang telah ditentukan dalam rencana transaksi.

Secara keseluruhan, perusahaan menekankan keterkaitan antar tahap melalui perhitungan agregat nilai untuk memenuhi ketentuan transaksi material serta persetujuan pemegang saham. Dengan skema tersebut, rencana akuisisi tetap diperlakukan sebagai satu rencana menyeluruh untuk 14 perusahaan yang memiliki portofolio rumah sakit yang akan turut dioperasikan.

Rencana ini menunjukkan bahwa SILO menempatkan akuisisi sebagai langkah ekspansi berbasis kepemilikan atas perusahaan pemegang portofolio, bukan sekadar penambahan entitas operasional baru. Dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan tersebut, keterlibatan SILO diarahkan pada rumah sakit yang sudah berjalan dalam portofolio yang ditargetkan.

Dalam dokumen keterbukaan informasi, perusahaan juga mengaitkan besaran transaksi dengan pertimbangan kelayakan korporasi. Nilai Rp6,91 triliun diposisikan sebagai total yang mencakup 14 rumah sakit dalam cakupan portofolio, sehingga perhitungan tidak dipisahkan hanya berdasarkan pembagian fase eksekusi.

Dari sisi pendanaan, SILO menyatakan adanya penambahan utang bank sekitar Rp8,88 triliun untuk mendukung transaksi. Karena pembiayaan diarahkan pada rencana akuisisi yang terhubung, perusahaan memperlakukan struktur biaya dan liabilitas perbankan sebagai bagian dari paket transaksi secara menyeluruh.

Pembagian tahap yang melibatkan delapan perusahaan lalu enam perusahaan tetap ditempatkan dalam satu desain yang sama. Tahap kedua yang menggunakan mekanisme opsi jual ditegaskan sebagai kelanjutan yang mengikuti kerangka tahap pertama, sehingga tidak mengubah cara perusahaan menilai ketentuan transaksi material maupun kebutuhan persetujuan pemegang saham.