Bisnis & Ekonomi

Transaksi Tipis, IHSG Nyaris Datar di Sesi I

×

Transaksi Tipis, IHSG Nyaris Datar di Sesi I

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Transaksi Tipis, IHSG Nyaris Stagnan - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Sesi I pada Senin (5/10/2026) di teritori positif. Pergerakan yang relatif tenang tercermin dari kenaikan tipis sekitar 0,03% hingga level 6.038.

Aktivitas transaksi pada fase awal hari ini juga cenderung terbatas. Sepanjang perdagangan pagi–siang, nilai transaksi tercatat “hanya” Rp5,08 triliun dengan total 21,08 miliar saham yang diperdagangkan.

Di tengah perubahan yang tipis, beberapa sektor mampu menjaga arah indeks tetap berada di zona hijau. Saham properti, konsumen non-primer, serta transportasi menjadi penopang utama pada Sesi I.

Saham properti mencatat kenaikan 0,99%, sedangkan segmen konsumen non-primer ikut menguat 0,86%. Sementara itu, transportasi bertambah 0,78% pada periode yang sama.

Dari jajaran saham berkapitalisasi besar, pergerakan LQ45 turut memberi kontribusi pada penguatan indeks komposit. Setidaknya ada sejumlah emiten yang menguat lebih menonjol dibanding yang lain.

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menguat 3,49% dalam perdagangan Sesi I. Kinerja SCMA menjadi salah satu sinyal bahwa minat pelaku pasar masih ada, meski pergerakan IHSG tidak terlalu agresif.

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) juga mencatat kenaikan 2,41%. Selanjutnya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) bertambah 2,16%, melengkapi daftar penggerak indeks pada fase awal hari ini.

Di sisi eksternal, sentimen pasar masih dipengaruhi dinamika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield UST 10Y disebut menanjak ke level atas 5,25%, sehingga perhatian investor terhadap aset berbasis dolar AS tetap tinggi.

Ketidakpastian politik dan fiskal di negara-negara maju turut menambah ketidaknyamanan bagi pasar. Kondisi ini membuat permintaan terhadap aset berdenominasi dolar AS terus menjadi faktor yang “menghantui” pergerakan saham Indonesia.

Selain itu, penguatan pasar domestik juga menghadapi keterbatasan pendorong dari data ekonomi terbaru. Disebutkan bahwa sejumlah indikator ekonomi Indonesia belum sepenuhnya mampu mendorong koreksi yang lebih kuat pada pasar keuangan.

Seiring berjalannya waktu, beberapa indikator juga menunjukkan sinyal prospek pertumbuhan mulai kehilangan momentum. Dampak negatif dari konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang disebut ikut memengaruhi gambaran tersebut.

Dengan kondisi tersebut, IHSG pada Sesi I terlihat lebih seperti bergerak mengikuti arus sentimen ketimbang membentuk tren baru yang tegas. Penguatan yang hanya mendekati flat juga menggambarkan kehati-hatian pasar dalam menilai arah berikutnya.

Meski akhirnya ditutup menguat tipis, pola pergerakan tersebut menunjukkan pasar lebih memilih strategi selektif. Kenaikan yang tidak terlalu jauh dari flat membuat pelaku pasar tetap menahan diri, terutama saat menilai apakah laju penguatan bisa berlanjut ke fase berikutnya.

Di saat arus transaksi pada Sesi I terlihat terbatas, penguatan justru lebih terasa pada saham-saham yang mampu menarik perhatian pada sektor tertentu. Lonjakan yang lebih menonjol pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar menjadi semacam “jangkar” psikologis, sekaligus menegaskan adanya rotasi minat meski indeks utama tidak bergerak agresif.

Pergerakan IHSG yang cenderung mengikuti sentimen juga dipengaruhi kondisi eksternal yang masih dominan. Saat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat disebut berada di atas 5,25% pada tenor 10 tahun, minat terhadap instrumen berdenominasi dolar tetap menjadi faktor yang membatasi ruang gerak pasar domestik.

Di sisi lain, ketidaknyamanan dari aspek politik dan fiskal di negara-negara maju, ditambah sentimen terkait konflik di Timur Tengah, ikut memperlebar rasa waspada investor. Dengan beberapa indikator ekonomi domestik yang dinilai belum cukup kuat mendorong koreksi lebih tegas, kombinasi faktor tersebut membuat pasar cenderung menunggu konfirmasi sebelum membangun tren yang lebih jelas.