jurnalistik.co.id – Peneliti Universitas Airlangga (Unair) menyatakan kadar Bisphenol A (BPA) pada air minum dari galon guna ulang berbahan polikarbonat tetap berada di bawah batas aman.
Ketua peneliti Unair, Dr. Sudarmaji, menjelaskan bahwa perhatian publik terhadap BPA muncul karena zat tersebut berpotensi berpindah dari kemasan ke air minum. Meski begitu, hasil penelitian yang dianalisisnya menunjukkan tingkat BPA pada sampel air masih dalam ambang yang dinilai aman.
“Berdasarkan hasil penelitian kami, masyarakat tidak perlu merasa panik. Seluruh sampel air minum yang kami analisis memiliki kadar BPA yang masih berada di bawah batas aman,” kata Sudarmaji dalam keterangannya, Jumat (14/8/2026).
Menurut Sudarmaji, penilaian dilakukan menggunakan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Dari kajian itu, risiko paparan BPA pada sampel yang diteliti untuk kelompok non-karsinogenik maupun karsinogenik masih masuk kategori aman.
Penelitian tersebut, kata Sudarmaji, menggunakan sampel air minum yang berasal dari galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC). Dengan dasar itu, ia menekankan bahwa temuan utama penelitian tidak menunjukkan adanya kondisi yang membuat masyarakat perlu panik.
Proses BPA di dalam tubuh
Sudarmaji menambahkan bahwa BPA yang masuk ke dalam tubuh tidak cenderung menetap secara permanen. Ia menyebut zat tersebut diproses oleh hati menjadi bentuk yang lebih mudah larut dalam air dalam waktu relatif singkat.
“Jadi BPA tidak cenderung menumpuk secara permanen di dalam tubuh,” katanya.
Setelah proses tersebut, BPA yang telah mengalami perubahan lebih lanjut dikeluarkan melalui urin, feses, dan keringat. Dengan penjelasan tersebut, Sudarmaji menggarisbawahi bahwa mekanisme pemrosesan tubuh berperan dalam mencegah penumpukan yang menetap.
Berita Terkait
Meski demikian, ia tetap mengingatkan pentingnya memperhatikan cara penyimpanan dan distribusi galon guna ulang sesuai standar keamanan pangan. Perhatian pada aspek penanganan ini disebut perlu karena kondisi lingkungan selama pemakaian dan peredaran dapat memengaruhi perpindahan zat dari bahan kemasan ke air.
Pengaruh suhu dan sinar matahari
Sudarmaji menyatakan paparan sinar matahari langsung dan suhu tinggi dapat meningkatkan peluang migrasi BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam air. Ia menilai, faktor eksternal seperti panas mempercepat perubahan pada material sehingga proses perpindahan dapat berlangsung lebih besar.
“Secara ilmiah, pajanan sinar matahari langsung maupun suhu tinggi dapat mempercepat degradasi polikarbonat sehingga migrasi BPA ke dalam air menjadi lebih besar,” katanya.
Ia menjelaskan, galon yang disimpan terlalu lama di gudang bersuhu tinggi atau berada di dalam kendaraan pengangkut tanpa perlindungan dari panas matahari secara teoritis berpotensi mengalami peningkatan migrasi dibandingkan galon yang disimpan pada suhu ruang.
Karena itu, pengendalian suhu selama proses penyimpanan dan distribusi disebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga mutu air minum. Dengan pengelolaan yang tepat, risiko yang dibahas dalam penelitian tetap merujuk pada hasil analisis yang dinilai aman.
Sudarmaji menegaskan bahwa kondisi-kondisi yang dapat mempercepat migrasi tersebut tidak mengubah hasil utama penelitian. Ia menyatakan kadar BPA pada sampel yang diteliti tetap berada di bawah batas aman, sementara analisis risiko kesehatan juga masih dalam kategori aman.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar BPA masih berada di bawah batas aman dan analisis risiko kesehatan juga masih dalam kategori aman. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap perlu menerapkan prinsip kehati-hatian,” katanya.
Mengingat perpindahan BPA dapat meningkat saat kemasan mengalami pemanasan atau terpapar sinar matahari, peneliti memandang pengelolaan selama pemakaian menjadi bagian penting. Galon sebaiknya disimpan dan diedarkan dengan pengaturan lingkungan yang tidak membuatnya berada pada kondisi panas berlebih maupun terkena paparan langsung.
Meski begitu, temuan utama penelitian tetap mengacu pada hasil pengukuran dan penilaian risiko yang menunjukkan kategori aman. Karena itu, anjuran kehati-hatian diposisikan sebagai langkah pencegahan dalam menjaga kualitas air, bukan sebagai indikasi adanya risiko berbahaya pada sampel yang diteliti.












