jurnalistik.co.id – Otoritas kesehatan Inggris melaporkan jumlah kasus salmonella yang dikaitkan dengan telur impor terus meningkat mendekati angka 500. Update terbaru menyebut totalnya mencapai 474 kasus, dengan dua kematian yang tercatat saat penyelidikan masih berlangsung.
Pada laporan sebelumnya, UK Health Security Agency (UKHSA) menyebut 207 kasus pada pekan lalu. Angka tersebut kemudian naik menjadi 259, dan tambahan dua klaster baru membuat total akumulasi menjadi 474 kasus.
Hingga saat ini, para ahli menyatakan seluruh kasus yang masuk ke klaster ini melibatkan bakteri yang hampir identik secara genetis. Kondisi itu memberi sinyal kuat adanya sumber makanan yang sama, meski proses penelusuran masih berjalan.
Berdasarkan informasi yang sudah terhimpun, sejumlah pihak berpendapat orang lebih mungkin jatuh sakit setelah makan di luar rumah, ketimbang setelah memasak telur sendiri di rumah. Penyebab pastinya belum diumumkan secara final, tetapi temuan awal mengarah pada telur impor.
Dalam wabah yang sedang diselidiki, peneliti mengelompokkan infeksi ke beberapa klaster genetik yang hampir setara. Klaster tersebut disebut sebagai t5.9411, t0.24068, dan t5.9765.
UKHSA mencatat 259 kasus terkonfirmasi yang terkait klaster t5.9411, termasuk satu kematian. Untuk klaster t5.9765, terdapat 38 kasus terkonfirmasi dengan satu kematian. Sementara itu, klaster t0.24068 mencatat 177 kasus terkonfirmasi.
Mayoritas kasus muncul dalam beberapa minggu hingga bulan terakhir, namun penyelidikan juga merujuk pada kejadian yang bermula dari Agustus 2025. Sebagian besar temuan berada di wilayah Inggris, terutama England, dengan banyak kasus di London serta Yorkshire and Humber.
Selain itu, laporan juga menyebut adanya sejumlah kasus di Skotlandia, Wales, dan Northern Ireland. Meskipun demikian, proporsi terbesar tetap terkonsentrasi di England.
Lebih dari sepertiga dari mereka yang terdampak di Inggris memerlukan perawatan rumah sakit. Kelompok usia yang terkena pun beragam, termasuk bayi serta pasien dengan usia tertinggi dilaporkan mencapai 92 tahun.
Sebagian besar penderita pada umumnya dapat pulih tanpa perlu perawatan medis khusus. Namun, kelompok yang lebih rentan dinilai memiliki risiko penyakit yang lebih berat, terutama lansia, bayi, dan orang dengan sistem kekebalan yang melemah.
Berita Terkait
Temuan di level Eropa juga turut disorot. Kasus salmonella terkait wabah ini disebut muncul di Austria (2), Belgia (15), Denmark (1), Prancis (4), Jerman (6), dan Belanda (106).
Dalam investigasi di Belanda, peneliti menyimpulkan kemungkinan ada kaitan dengan daging ayam, bukan telur. Informasi tersebut menunjukkan bahwa pola keterkaitan dapat berbeda antarnegara, meski tetap berada dalam konteks bakteri yang serupa.
Salmonella sendiri dapat ditemukan pada sejumlah sumber pangan, termasuk unggas atau daging mentah maupun yang kurang matang, serta telur. Karena itu, pencegahan diarahkan pada cara penyiapan makanan yang benar dan kewaspadaan higienitas.
Prof Ian Young dari Food Standards Agency menyampaikan bahwa pihaknya terus bekerja sama dengan UKHSA dan mitra lain untuk menyelidiki kasus-kasus tersebut. Ia juga menegaskan bahwa penyebab pasti wabah belum teridentifikasi, tetapi penyelidikan sejauh ini menemukan tautan ke telur impor, serta tidak ada bukti bahwa telur yang diproduksi di Inggris ikut terpengaruh.
UKHSA menyatakan akan terus menindaklanjuti kasus-kasus yang muncul dan menyelidiki sumber-sumber umum lain bila informasi tambahan terungkap. Pernyataan tersebut menandai bahwa proses evaluasi belum berhenti pada temuan awal.
Terkait gejala, laporan menyebut keluhan seperti kram perut, diare, muntah, atau demam. Gejala biasanya berkembang antara 12 hingga 72 jam setelah seseorang terinfeksi.
Bagi yang merasa khawatir, UKHSA menyarankan untuk menghubungi dokter umum (GP) atau layanan di luar jam kerja terlebih dahulu. Penanganan sejak awal dinilai penting, khususnya bagi kelompok berisiko.
Untuk langkah pencegahan, otoritas merekomendasikan persiapan dan pemasakan makanan hingga benar-benar matang. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan setelah menggunakan toilet dan sebelum menangani makanan juga ditekankan sebagai bagian dari pencegahan infeksi.
Otoritas juga menyebut telur tetap aman untuk dibeli dan dikonsumsi apabila memiliki cap British Lion atau diproduksi di bawah skema Laid in Britain. Skema British Lion mengharuskan pemasok mematuhi kode ketat yang mencakup pengujian serta vaksinasi pada ayam petelur terhadap salmonella.
Sampai investigasi berlanjut, fokus utama tetap pada penelusuran sumber makanan yang menjadi pemicu kemunculan klaster infeksi ini. Dengan bertambahnya dua klaster baru, otoritas menempatkan penguatan penyelidikan sebagai prioritas untuk memastikan penyebab dapat dipastikan dan pencegahan dapat ditingkatkan.












