Bisnis & Ekonomi

Jaguar Land Rover Umumkan Program PHK Sukarela untuk Penghematan

×

Jaguar Land Rover Umumkan Program PHK Sukarela untuk Penghematan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jaguar Land Rover confirms plans for voluntary job cuts

jurnalistik.co.id – Jaguar Land Rover (JLR) mengonfirmasi pembukaan program pemutusan hubungan kerja (PHK) sukarela, setahun setelah serangan siber membuat produksi perusahaan berhenti lebih dari sebulan.

Perusahaan menyatakan membutuhkan penghematan sekitar £1,7 miliar dalam dua tahun ke depan agar bisa beradaptasi dengan “kondisi pasar global yang terus berkembang”. Langkah ini diumumkan ketika JLR tengah menata ulang efisiensi dan ketahanan operasionalnya di tengah dinamika industri otomotif.

JLR juga menyebut keputusan pemangkasan tenaga kerja dilakukan untuk “menyederhanakan” organisasi sekaligus “meningkatkan efisiensi” dan membangun “ketahanan yang lebih besar”. Perusahaan menekankan prosesnya dilakukan melalui skema sukarela.

Sejumlah laporan sebelumnya menyebut potensi hilangnya hingga 4.000 pekerjaan akibat dampak tarif dan penurunan penjualan, sebagaimana diberitakan The Times pada Sabtu. Namun, JLR menegaskan kepada BBC bahwa pihaknya belum mengonfirmasi angka tersebut.

Dalam pernyataan kepada media, juru bicara JLR menyampaikan: “Hari ini, kami memberi tahu kolega kami dan mitra serikat pekerja bahwa JLR membuka program pemutusan hubungan kerja sukarela yang menawarkan kepada anggota tim bergaji dan manajemen kesempatan untuk meninggalkan perusahaan.”

Juru bicara tersebut menambahkan, “Kami akan membagikan informasi lebih lanjut kepada kolega kami terlebih dahulu.”

Dari sisi serikat pekerja, Unite menyatakan kekhawatirannya sejak lama. Sekretaris Jenderal Unite, Sharon Graham, menyebut situasi yang dihadapi industri otomotif seperti “badai sempurna” yang selama ini mengintai.

Graham mengatakan, “Death by a thousand cuts telah berlangsung di bawah hidung pemerintah-pemerintah yang bergantian.” Ia juga menambahkan bahwa pada akhir pekan terjadi pembahasan “intensif” untuk upaya meringankan dampak kehilangan pekerjaan.

Graham menyebut dirinya bersama Menteri Bisnis, Jonathan Reynolds, akan bertemu dengan CEO JLR, PB Balaji, pada minggu depan. Serikat berharap pertemuan tersebut menghasilkan langkah mitigasi yang lebih baik bagi pekerja.

Pejabat nasional Unite, Des Quinn, menilai kondisi di perusahaan sangat menekan. “Ini adalah waktu yang sangat mengkhawatirkan dan penuh stres bagi pekerja JLR,” ujarnya, sekaligus menyatakan Unite bekerja tanpa henti untuk mencapai hasil terbaik.

Pemerintah Inggris juga menyoroti dukungannya bagi industri otomotif. Seorang juru bicara pemerintah menyebut telah ada tindakan signifikan, termasuk penurunan tagihan listrik bagi produsen serta dukungan keuangan untuk proses manufaktur dan penjualan kendaraan emisi nol.

Reynolds juga disebut sempat berbicara dengan wali kota West Midlands, Richard Parker, mengenai upaya mendukung bisnis dan para pekerja. Pembicaraan tersebut menunjukkan perhatian pemerintah tidak hanya pada aspek investasi, tetapi juga keberlanjutan tenaga kerja di wilayah tersebut.

JLR menegaskan, dalam tiga tahun terakhir perusahaan telah memperkuat merek-mereknya dan mempersiapkan produksi kendaraan generasi berikutnya. Perusahaan menilai penataan strategi ini penting untuk menghadapi perubahan permintaan pasar.

Meski demikian, angka yang kini beredar berbeda dengan pernyataan sebelumnya. Pada Juli, JLR menyatakan pihaknya memperkirakan kurang dari 300 orang akan meninggalkan perusahaan melalui rencana penghematan biaya yang diumumkan saat itu.

Secara lokasi, JLR memiliki kantor pusat global di Whitley, Coventry. Perusahaan juga menjalankan fasilitas produksi di Solihull dan Wolverhampton, serta Halewood di Merseyside.

Perusahaan mempekerjakan sekitar 30.000 orang di operasi Inggris, dengan kira-kira 10.000 pekerja lainnya bekerja di pabrik dan operasi di luar negeri. Dengan skala tersebut, program sukarela berpotensi menjadi isu besar bagi ekonomi lokal dan rantai industri terkait.

Serangan siber pada September 2025 menjadi salah satu pemicu gangguan yang pernah dialami JLR. Saat itu, semua manufaktur JLR ditutup selama beberapa pekan, hingga tidak ada satu pun kendaraan yang keluar dari lini produksi.

Gangguan tersebut menyebabkan penurunan produksi total perusahaan sebesar 27%. JLR juga digambarkan sebagai salah satu pemberi kerja terbesar di West Midlands, sehingga dampaknya meluas pada ekosistem wilayah.

Secara keseluruhan, biaya serangan siber dan hilangnya produksi setelah kejadian diperkirakan mencapai £1,9 miliar. Pada Juni, perusahaan juga mengumumkan rencana pemangkasan biaya sekitar £1,7 miliar dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari upaya pemulihan pascainsiden.

JLR menyebut penghematan akan dilakukan melalui pemotongan di area seperti bahan, garansi, dan biaya tetap. Dengan demikian, program sukarela yang kini dibuka diposisikan sebagai bagian dari langkah lebih luas untuk menjaga stabilitas perusahaan dan memulihkan kinerja.