jurnalistik.co.id – Arus dana asing dari pasar saham Indonesia masih berlanjut sepanjang 2026, dengan nilai net sell mencapai Rp 88,02 triliun. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 34,14% secara year to date (YTD).
Pergerakan tersebut kembali tercermin dari transaksi harian yang masih menunjukkan tekanan dari pihak luar. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencatat investor asing membukukan net sell sebesar Rp 548,44 miliar pada perdagangan Rabu (1/7/2026).
Dengan angka harian itu, akumulasi net sell asing sejak awal tahun menyentuh Rp 88,02 triliun. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa minat investor terhadap aset di pasar domestik belum membaik secara konsisten.
Dari sisi teknikal, IHSG disebut sudah mengalami rebound. Namun, menurut Nafan, rebound tersebut belum menunjukkan penguatan yang meyakinkan, meski pola wave (b) dan wave (b) alt. telah terdeteksi.
Untuk membaca dinamika pasar, Nafan merujuk pada indikator Stochastics K-D dan Relative Strength Index (RSI). Ia menyampaikan kedua indikator tersebut menunjukkan sinyal negatif yang didukung penurunan volume transaksi.
Pasar juga diperkirakan bergerak dengan kecenderungan variatif dan berpotensi terkonsolidasi setelah sempat rebound 0,92% pada perdagangan Rabu. Fokus perhatian diarahkan pada apakah tekanan jual bisa mereda dan aktivitas perdagangan kembali menguat.
Sentimen domestik: inflasi, defisit, dan tekanan eksternal Beberapa data ekonomi awal Juli 2026 dinilai memberikan tekanan yang cukup signifikan pada fundamental pasar domestik. Salah satunya adalah Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia yang pada Juni turun menjadi 46,9, dari level 50 pada bulan sebelumnya.
Penurunan tersebut mengindikasikan aktivitas manufaktur kembali masuk zona kontraksi. Selain itu, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,34% secara year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di 3,08% YoY.
Angka inflasi itu juga melampaui konsensus pasar sebesar 3,2%. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dollar AS, yang disebut sebagai yang pertama sejak April 2020.
Pada saat bersamaan, nilai tukar rupiah masih mengalami depresiasi sebesar 0,25% menjadi Rp 17.952 per dollar AS. Nafan mengaitkan kondisi ini dengan tren penguatan dollar AS secara global serta berlanjutnya arus modal keluar dari pasar domestik.
Ia menambahkan bahwa pola tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati (prudent). Dalam situasi seperti ini, pergerakan IHSG kerap dipengaruhi oleh gabungan sentimen makro dan respons pelaku pasar terhadap arah arus modal.
Penilaian Fitch dan dampaknya pada persepsi pasar Selain indikator domestik, sentimen juga datang dari pandangan lembaga pemeringkat. Fitch Ratings menyampaikan bahwa risiko terhadap kepercayaan investor terhadap Indonesia meningkat, meskipun fundamental ekonomi nasional secara umum masih dinilai cukup kuat.
Dengan kombinasi faktor tersebut, pasar menghadapi tantangan ganda: tekanan dari luar yang tercermin pada net sell asing, serta ruang penyesuaian yang dipengaruhi data ekonomi terbaru. IHSG yang sempat rebound karenanya belum otomatis mengubah arah sentimen secara keseluruhan.
Dalam konteks saat ini, perhatian investor akan tertuju pada kelanjutan arus dana asing dan sinyal lanjutan dari indikator teknikal. Apabila volume transaksi tetap menurun dan sinyal negatif masih bertahan, konsolidasi berpotensi menjadi fase yang dominan sebelum ada perubahan arah yang lebih meyakinkan.
Perpaduan antara arus modal keluar yang masih tercatat melalui net sell asing, serta pelemahan rupiah, membuat pelaku pasar membaca ulang arah jangka pendek IHSG. Sikap prudent itu tercermin pada respon yang cenderung menunggu konfirmasi sebelum kembali meningkatkan partisipasi di bursa.
Jika sinyal teknikal yang melemah—ditopang oleh penurunan volume—tidak segera berbalik, maka pergerakan yang muncul lebih berpeluang membentuk konsolidasi ketimbang penguatan yang berkelanjutan. Sebaliknya, perbaikan pada tekanan jual dan dinamika transaksi harian akan menjadi penentu apakah rebound dapat berkembang menjadi tren.












