Bisnis & Ekonomi

Minyak Dunia Menyentuh Titik Terendah 4 Bulan, Dipicu Optimisme Negosiasi AS-Iran dan Pulihnya Selat Hormuz

×

Minyak Dunia Menyentuh Titik Terendah 4 Bulan, Dipicu Optimisme Negosiasi AS-Iran dan Pulihnya Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Minyak Dunia Turun ke Level Terendah 4 Bulan, Ini Penyebabnya

jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia melemah lagi pada perdagangan Rabu (1/7/2026) waktu setempat atau Kamis pagi WIB, dan membuat harga minyak menyentuh level terendah sejak Maret. Penurunan ini terjadi ketika optimisme pasar menguat terkait pembicaraan AS dan Iran.

Di pasar global, minyak mentah Brent turun 1,38 dollar AS atau 1,89 persen menjadi 71,57 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 92 sen atau 1,32 persen menjadi 68,58 dollar AS per barrel.

Dengan penurunan tersebut, kedua acuan ditutup pada level terendah dalam empat bulan. Pergerakan harga menunjukkan sentimen pasar yang membaik setelah adanya sinyal lebih positif dari arah negosiasi.

Negosiasi AS–Iran di Qatar jadi pemicu

Optimisme pasar menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perundingan dengan Iran yang berlangsung di Qatar berjalan dengan baik. Pernyataan Trump ikut meredakan kekhawatiran pelaku pasar mengenai potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Analis Saxo Bank Ole Hansen menilai arah pembicaraan saat ini dipandang positif. “Negosiasi yang saat ini berlangsung di Qatar dipandang positif dan hal itu membuat harga terus melemah. Ada kemungkinan kita masih akan melihat harga yang lebih rendah,” ujar Ole Hansen.

Trump juga menyampaikan bahwa hubungan AS dengan Iran berjalan sangat baik, serta pertemuan terbaru di Qatar memberikan hasil yang positif. Sinyal tersebut kemudian dibaca pasar sebagai peluang pemangkasan risiko gangguan rantai pasok energi.

Pelayaran di Selat Hormuz mulai lancar

Selain optimisme dari negosiasi, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang kembali bergerak lancar turut menopang penurunan harga. Menurut pihak yang mengetahui jalannya pembicaraan langsung serta seorang pejabat Iran, kedua negara membahas aspek teknis di Doha untuk mencapai kesepakatan mengenai kelancaran pelayaran.

Pembahasan tersebut juga diarahkan untuk mengamankan gencatan senjata yang lebih permanen. Meski begitu, AS dan Iran disebut masih memiliki perbedaan pandangan terkait isi kesepakatan sementara yang tengah dibahas.

Di saat yang sama, dalam sepekan terakhir kedua pihak sempat saling melancarkan serangan militer. Kondisi tersebut tetap memberi sinyal bahwa negosiasi berjalan dengan dinamika, meski pasar saat ini lebih menekankan perbaikan arus pengiriman.

Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan meningkatnya optimisme pasar sejalan dengan kembali pulihnya volume pengiriman minyak melalui selat tersebut. “Semakin banyak minyak yang kembali melintasi Selat Hormuz sehingga optimisme meningkat. Pasar memberi sinyal bahwa setelah situasi ini berlalu, produksi minyak dunia kemungkinan akan mencapai rekor baru,” ujar Phil Flynn.

Wakil Presiden AS JD Vance juga menyatakan arus pengiriman minyak melalui jalur tersebut telah kembali ke tingkat sebelum perang, meski ia tidak merinci angka. Pernyataan ini menjadi salah satu rujukan yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap normalisasi distribusi energi.

Tekanan harga dari penurunan kuartalan dan proyeksi OPEC+

Sepanjang kuartal kedua tahun ini, harga Brent tercatat turun sekitar 45 dollar AS per barrel sejak perang AS–Iran mencuat pada akhir Februari. Ini sekaligus menjadi penurunan kuartalan terbesar sejak krisis keuangan global pada 2008.

Untuk WTI, harga minyak mentah berjangka AS turun sekitar 31 per barrel, sekaligus mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak 2020. Pada periode itu, pandemi Covid-19 menghancurkan permintaan minyak global.

Di sisi pasokan, prospek kembali meningkatnya produksi juga menjadi faktor yang menekan harga. Negara-negara produsen yang tergabung dalam OPEC+ diperkirakan akan kembali menyepakati peningkatan target produksi mulai Agustus pada pertemuan yang berlangsung pada Minggu mendatang.

Dengan kombinasi sentimen yang membaik dari negosiasi serta rute pengiriman yang lebih lancar, pasar cenderung melihat risiko gangguan pasokan bisa mereda. Namun, proyeksi peningkatan produksi dan perbedaan pandangan antara AS dan Iran tetap menjadi variabel yang berpotensi memengaruhi arah harga minyak ke depan.