Bisnis & Ekonomi

IPO untuk Melunasi Utang: Strategi Cerdas atau Peringatan bagi Investor?

×

IPO untuk Melunasi Utang: Strategi Cerdas atau Peringatan bagi Investor?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dana IPO untuk Lunasi Utang, Strategi Cerdas atau Sinyal Bahaya bagi Investor?

jurnalistik.co.id – Penggunaan dana penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) untuk membayar utang kerap membuat sebagian investor ragu terhadap prospek emiten baru. Namun, dalam kondisi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang sedang meningkat, langkah tersebut juga bisa dibaca sebagai upaya memperbaiki struktur keuangan di masa mendatang.

Secara umum, perusahaan melakukan IPO untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. Salah satu kebutuhan yang sering muncul adalah pembayaran utang yang sudah ada, sehingga dana hasil emisi dialihkan untuk mengurangi beban kewajiban.

Reza Priyambada, Director PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, menjelaskan bahwa pembayaran utang melalui IPO dapat menjadi cara agar perusahaan tidak lagi bergantung pada utang lama. “Bisa jadi dengan IPO saham maka si perusahaan tidak perlu berutang lagi untuk menutupi utang lamanya. Apalagi dana untuk menutupi utang tersebut dari dana IPO, alias menutup utang pakai dana orang lain,” ujarnya kepada Kompas.com pada Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, rencana pelunasan utang menggunakan dana IPO memang cenderung kurang disukai investor. Aksinya dianggap tidak memberi nilai tambah bila dibandingkan dengan penggunaan dana untuk ekspansi, pembukaan usaha baru, penyertaan pada bisnis lain, atau aktivitas yang dinilai menghasilkan pendapatan lebih langsung.

Meski demikian, Reza menekankan adanya sisi positif yang perlu dilihat. Ketika sebagian atau seluruh utang berkurang, ruang operasional dan manajemen bisa terbuka untuk fokus pada pengembangan usaha. “Sehingga ada ruang bagi perusahaan untuk memperbaiki kinerjanya,” imbuh dia. Dengan berkurangnya fokus pada pengurangan utang semata, perusahaan juga dapat mengupayakan perbaikan rasio keuangan, yang pada akhirnya dapat tercermin pada penilaian (valuasi) berbasis kinerja.

Struktur utang jadi kunci yang harus dibaca investor

Di luar tujuan pembayaran, investor perlu menelaah struktur utang yang akan direstrukturisasi. Hal yang perlu dicermati meliputi tenor utang serta mekanisme penentuan bunga. Reza menegaskan, bila utang memiliki karakter jangka pendek dan fixed rate, perusahaan memiliki kepastian mengenai besaran serta waktu pembayaran.

Namun, jika utang bersifat floating rate, perusahaan perlu melakukan penyesuaian ketika ada perubahan suku bunga pinjaman yang terimbas pergerakan suku bunga acuan. “Jadi, langkah IPO saham ini bisa jadi untuk restrukturisasi utang bisa jadi tidak tergantung rencana manajemen,” terangnya.

Dengan demikian, pembayaran utang menggunakan dana IPO tidak otomatis berarti mengubah seluruh risiko keuangan secara seragam. Investor tetap perlu menilai seberapa jelas perusahaan merancang skema pengelolaan kewajiban dan bagaimana pembayaran tersebut dipengaruhi lingkungan suku bunga.

Bayar utang saat bunga tinggi, alasan utamanya

Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Andreas Kristo Saragih, menyatakan bahwa ketika BI rate berada pada level yang tinggi, perusahaan memang sebaiknya segera melakukan pembayaran utang. Ia mengaitkan hal itu dengan karakter biaya pembiayaan yang dapat meningkat bila perusahaan menempuh skema refinancing.

Andreas mencontohkan situasi di musim pencatatan saham perdana yang akan dimulai pada Juli. Dalam konteks tersebut, fenomena penggunaan dana IPO untuk membayar utang dinilai muncul bersamaan dengan kebutuhan perusahaan mengamankan biaya pendanaan. “Kalau bisa ada kemampuan untuk bayar utang, karena refinancing pun pasti suku bunganya akan lebih tinggi,” katanya dalam Media Day.

Di sisi lain, ia melihat adanya potensi efisiensi biaya pendanaan melalui skema IPO. “Pasti kan lebih murah cost of fund -nya dengan issue new shares,” ucapnya. Andreas kemudian menilai langkah tersebut secara umum positif. “Saya rasa positif IPO-nya,” tambahnya.

Sejumlah calon emiten yang akan segera melantai di bursa juga tercatat memprioritaskan pembayaran utang dari dana hasil IPO. Mereka adalah PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS), serta PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI).

Dari sisi kebijakan moneter, suku bunga acuan BI saat ini berada pada level 5,75 persen. Sejak Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bps). Dalam kondisi ini, pilihan emiten untuk mengalokasikan dana IPO bagi pembayaran utang menjadi salah satu strategi yang menarik perhatian pasar.