Daerah

BMKG: Bediding Mulai Terasa di Jawa Tengah, Ini Ciri Normal Musim Kemarau

×

BMKG: Bediding Mulai Terasa di Jawa Tengah, Ini Ciri Normal Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Fenomena Bediding Mulai Terasa di Jawa Tengah, BMKG: Kondisi Normal pada Musim Kemarau

jurnalistik.co.id – Suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini disebut bediding, yaitu karakteristik cuaca yang lazim muncul saat musim kemarau dan bukan pertanda cuaca ekstrem.

Prakirawan On Duty Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Haris Syahid, menjelaskan bahwa bediding terjadi karena kombinasi faktor meteorologis yang muncul bersamaan pada musim kemarau. Ia menekankan bahwa fenomena tersebut merupakan kondisi normal yang biasanya muncul hampir setiap tahun.

“Fenomena bediding merupakan kondisi normal yang terjadi saat musim kemarau. Masyarakat tidak perlu khawatir karena ini bukan merupakan cuaca ekstrem, melainkan karakteristik musim kemarau yang memang terjadi hampir setiap tahun,” kata Haris Syahid dalam keterangan yang disampaikan pada Sabtu (4/7/2026).

Menurut Haris, salah satu penyebab utama bediding adalah berkurangnya tutupan awan saat musim kemarau. Saat langit cenderung cerah pada siang hari, panas matahari lebih mudah diserap oleh permukaan bumi.

Namun ketika malam tiba, panas yang tersimpan tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer secara lebih cepat. Minimnya awan yang berfungsi menahan radiasi panas membuat penurunan suhu terasa lebih signifikan dibandingkan pada masa musim hujan.

Di sisi lain, Jawa Tengah saat ini mulai dipengaruhi angin timuran (trade wind) yang bertiup dari Benua Australia. Massa udara dari arah tersebut bersifat lebih kering sekaligus relatif lebih dingin, sehingga turut mendorong penurunan rasa sejuk hingga dingin di sebagian besar wilayah selatan Indonesia, termasuk Jawa Tengah.

“Pengaruh angin timuran menjadi salah satu faktor yang membuat udara terasa lebih sejuk hingga dingin, terutama pada malam dan dini hari,” ujar Haris.

BMKG juga menyampaikan bahwa rendahnya kelembapan udara selama musim kemarau memengaruhi sensasi di tubuh. Proses penguapan keringat dari permukaan kulit berlangsung lebih cepat ketika udara cenderung kering, sehingga rasa dingin terasa lebih kuat meskipun penurunannya tidak selalu bersifat ekstrem.

Fenomena bediding, lanjut Haris, umumnya lebih terasa di wilayah dataran tinggi, lereng pegunungan, hingga kawasan terbuka. Perbedaan kondisi permukaan dan paparan udara membuat respons suhu yang dirasakan masyarakat tidak selalu sama di setiap tempat.

Berdasarkan analisis BMKG, suhu udara di wilayah dataran tinggi Jawa Tengah dapat berkisar antara 18 hingga 22 derajat Celsius. Sementara itu, wilayah dataran rendah dan perkotaan berada pada kisaran 23 hingga 27 derajat Celsius.

Haris menyebut perbedaan tersebut dipengaruhi kondisi topografi dan karakteristik masing-masing wilayah. Dengan demikian, meski sama-sama berada dalam fase kemarau, tingkat rasa dingin yang muncul pada malam hingga dini hari bisa berbeda antararea.

Di tengah meningkatnya perhatian publik, Haris mengingatkan agar bediding tidak disikapi berlebihan. “Bediding merupakan fenomena yang dikenal masyarakat Jawa sejak lama dan selalu muncul ketika musim kemarau mencapai fase kering. Jadi masyarakat cukup waspada terhadap perubahan suhu, namun tidak perlu panik karena kondisi ini masih tergolong normal,” katanya.

BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh selama bediding berlangsung. Langkah yang dianjurkan meliputi penggunaan pakaian yang lebih hangat pada malam dan pagi hari, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi.

Selain itu, Haris juga menyarankan penggunaan masker ketika kualitas udara menurun akibat kondisi kering. Anjuran ini dimaksudkan untuk membantu mengurangi paparan langsung pada udara yang terasa lebih tidak nyaman.

BMKG memperkirakan bediding masih akan berlangsung selama periode musim kemarau. Fenomena tersebut juga berpotensi semakin terasa ketika memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus.

Karena itu, masyarakat diminta terus memantau informasi cuaca resmi yang dikeluarkan BMKG sebagai acuan saat beraktivitas sehari-hari. Dengan memahami bahwa bediding merupakan bagian normal dari musim kemarau, masyarakat dapat menyesuaikan pola kegiatan tanpa perlu merespons secara berlebihan.