Politik & Parlemen

Keriuhan di balik layar menjelang kedatangan PM baru: Starmer berkemas, Burnham menanti

×

Keriuhan di balik layar menjelang kedatangan PM baru: Starmer berkemas, Burnham menanti

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: The massive scramble behind the scenes before the new PM arrives

jurnalistik.co.id – Dalam beberapa pekan ke depan, Andy Burnham tengah menunggu titik perubahan yang akan menggeser seluruh rutinitas politiknya. Publik mungkin hanya melihat jam-jam jelang kedatangan, tetapi di baliknya ada kerja intensif yang tak terlihat.

Burnham akan melangkah ke Downing Street sebagai perdana menteri ke-59 setelah momentum pergantian yang berlangsung dalam suasana “limbo land”. Keadaan ini digambarkan sebagai transisi informal: pejabat yang secara teknis memegang kekuasaan belum memiliki otoritas penuh, sementara pihak yang punya otoritas besar belum benar-benar memiliki daya politik.

Pada sore hari ini, ia beristirahat sambil menyaksikan pertandingan rugby league timnya, Leigh Leopards, menghadapi Warrington Warriors. Keesokan malam, ia akan begadang bersama keluarganya untuk menonton laga timnas Inggris melawan Meksiko.

Namun jeda itu hanya sementara. Setiap langkah Burnham di ruang publik sedang diperhatikan secara sangat rinci, seolah upaya kecil pun bisa menjadi petunjuk arah pemerintahan berikutnya. Karena perdana menteri yang akan datang belum pernah bertarung dalam pemilihan umum nasional, belum ada manifesto yang benar-benar tegas dari panggung kebijakan yang akan ia bawa.

Sejak kembali menjadi anggota parlemen, ia hanya menyampaikan satu pidato besar, memberikan satu wawancara radio, serta menjawab pertanyaan publik di media sosial. Cara ini membuat politisi terasa lebih dekat karena audiens bisa mendorong isu langsung—bukan wartawan yang menentukan percakapan.

Tetapi akses semacam itu juga berarti politisi memiliki kuasa untuk memilih topik atau pertanyaan yang ingin dijawab. Di pemerintahan, pejabat kemudian digambarkan “rushing around picking up every little hint and tidbit on areas that might affect their department”, mengikuti setiap isyarat kecil yang mungkin berdampak pada kerja unit mereka.

Dalam pendekatan politik yang lebih luas, kesan Burnham sudah terlihat bertahun-tahun. Pada pidato Senin pekan lalu, ia memaparkan gagasan yang akan diwujudkan, termasuk rencana “No 10 North” di Manchester, di mana ia menyebut ingin menghabiskan sebagian minggu di sana.

Pada hari Kamis, ia mengulang rencana memberikan pemotongan pajak untuk pub, serta perusahaan kecil independen di bidang rekreasi dan ritel. Pembiayaannya, menurut penjelasannya, berasal dari pungutan terhadap gudang raksasa yang dioperasikan perusahaan daring besar seperti Amazon.

Burnham telah memberi sinyal bahwa ia secara umum akan berpegang pada manifesto Partai Buruh tahun 2024, tetapi menyatakan ada “room for manoeuvre” dalam urusan perpajakan. Ia juga ingin memperluas kendali publik atas utilitas—sebagian di antaranya diketahui telah bergerak dalam tahap yang sedang berlangsung.

Di Whitehall, setiap dorongan—sekecil apa pun—langsung ditangkap dan dipertimbangkan. Di luar apa yang disampaikan kepada publik, masa “limbo” ini ternyata sama sibuknya, bahkan lebih hiruk-pikuk, dalam urusan politik maupun urusan praktis.

Minggu ini, Burnham menghabiskan waktu untuk pertemuan dengan anggota parlemen dan sebuah sesi krusial bersama serikat-serikat buruh yang berpengaruh. Di dalam Partai Buruh sendiri ada semacam “talent contest”: Andy Burnham digambarkan seperti “Simon Cowell”, sementara calon menteri yang ingin masuk kabinet seperti audisi untuk mendapatkan tempat.

Salah satu anggota parlemen menggambarkannya dengan bahasa yang berwarna, “greatest show of arselickmanship you have ever seen”, termasuk bunyi penuturannya bahwa di sana ada “a bunfight for jobs, a bunfight for Cabinet and a bunfight for political space”.

Meski demikian, Burnham sendiri tidak diharapkan mengumumkan timnya sebelum ia hampir saja melewati pintu No 10 yang mengilap dan gelap. Kepada rekan-rekannya, ia menyebut akan menentukan arah rencana terlebih dahulu sebelum memutuskan siapa yang akan memegang posisi tertentu.

Dengan kata lain, para kandidat masih harus menunggu. Pada periode ini, Burnham “holds all the cards”, namun proses serah-terima resmi tetap sudah mulai dalam bentuk “access talks”.

Sekilas, prosesnya mirip seperti sebelum pemilihan umum: tim yang datang diberi izin oleh perdana menteri petahana untuk memulai percakapan dengan birokrasi sipil mengenai apa yang mereka ingin lakukan. Cabinet Secretary Antonia Romeo—pejabat tertinggi pemerintahan—menjalankan proses tersebut, sementara Burnham sendiri memimpin pembicaraan.

Di sekelilingnya ada sejumlah figur kunci, termasuk chief of staff (mantan menteri kabinet dan teman sekamar lama, James Purnell) serta Lou Haigh, anggota parlemen yang diketahui kritis dalam kampanyenya dan pernah melayani dalam kabinet Starmer.

Fokus perbincangan sejauh ini menyentuh devolusi, kondisi keuangan negara yang “grisly”, serta ancaman keamanan yang dihadapi Inggris. Pembicaraan masih akan berlanjut pada minggu-minggu berikutnya.

Di samping diskusi tingkat tinggi tentang rencana dan kebijakan, ada pula persiapan untuk hari besar ketika perubahan resmi benar-benar terjadi. Seorang mantan staf No 10 mengingat momen datang lebih pagi, kemudian “shuffled through weird corridors, taken into a room, choosing logins and signing our lives away”.

Bagaimana tim Burnham akan mengatur momen ketika ia berjalan menuju podium untuk menyapa negara? Pertanyaan semacam itu menjadi bagian dari kerja yang sangat praktis, bukan hanya simbolik.

Di balik ruangan yang lebih “terang” bagi publik, tim Keir Starmer sempat mempertimbangkan apakah perlu membawa kerumunan pendukung untuk melambaikan tangan dan bersorak saat kedatangan di Downing Street. Mereka khawatir, perayaan itu akan terlihat “too gauche”.

Pada akhirnya, mereka memilih sebuah citra yang diyakini bisa “strong and patriotic”. Ada rencana menggunakan Union Jack brollies sebagai antisipasi jika hujan turun, sementara pendukung akan melambaikan bendera.

Itu akan menjadi pengenalan resmi pertama Burnham kepada negara sebagai perdana menteri—sebuah gambar yang akan dilihat oleh jutaan orang, dan pidato yang kelak akan dikutip berulang kali. Pada hari itu, bagian paling nyata bukan hanya pesan, melainkan cara pesan itu “ditampilkan”.

Di dalam gedung, staf layanan sipil permanen juga akan menyadari bahwa mereka sedang mengatakan selamat tinggal pada satu tim sekaligus menyambut tim lain. Proses transisi tidak selalu berjalan lurus.

Seorang mantan pejabat mengingat adanya kejengkelan dari seorang perdana menteri yang pergi, ketika terjadi “office spruce-up”—dinding-dinding dicat segar, padahal penggantinya akan segera datang. Narasi ini menggambarkan bahwa para perdana menteri mungkin akan “terbiasa” dengan aroma renovasi, sebagaimana seorang anggota keluarga kerja yang menyesuaikan diri pada perubahan suasana.

Ketika Theresa May menjabat, renovasi kamar mandi pria di luar kantornya baru selesai beberapa saat sebelum waktunya berakhir. Para pejabat berhenti “copying departing political staff into important emails” ketika kekuasaan mengalir pergi, dan sebaliknya mereka mempersiapkan meja kerja agar memberi kesan baik kepada pimpinan baru.

Pada hari pergantian itu, ada perpaduan yang aneh antara sesuatu yang sangat serius dan hal yang tampak sepele. Dari sesi briefing keamanan yang berat hingga pertanyaan sederhana tentang meja seperti apa yang diinginkan perdana menteri dan di mana ia akan duduk.

Lalu, dalam rentang singkat, ada ratusan keputusan—mulai dari yang besar hingga yang kecil—yang harus diselesaikan untuk pemimpin baru dan chief of staff barunya. Salah satu lelucon yang muncul menyebut James Purnell akan “weirdly dragged into having to worry about the toilet paper as well as when he is going to write his letters to the nuclear submarine commander”.

Bahkan sebelum ritme pemerintahan benar-benar stabil, ada tugas yang paling bernuansa kelam dan hampir selalu dikerjakan segera oleh perdana menteri baru: menulis empat surat untuk komandan empat kapal selam nuklir Inggris. Surat-surat ini disebut sebagai surat “last resort”, berisi instruksi apa yang harus dilakukan bila pemerintah Inggris hancur akibat serangan nuklir.

Dari yang paling berat hingga yang paling dasar, serangkaian pilihan akan mengiringi Andy Burnham seketika ia melewati pintu Downing Street. Perlu diingat, ia sebenarnya berharap punya waktu lebih lama untuk bersiap.

Para sekutu utama sempat berharap Keir Starmer bisa bertahan hingga bulan September, memberi ruang bagi persiapan. Tetapi harapan akan jeda beberapa bulan itu gagal, sementara pencapaian Burnham terhadap tujuan terbesarnya—menjadi pemimpin Partai Buruh dan kemudian perdana menteri—bergerak terlalu cepat.

Ambisi ini telah dibangun lebih dari 15 tahun. Pada akhirnya, tersisa hanya “15 days to go”.