Pendidikan

Perkembangan Bahasa Anak Bisa Terdukung dari Kebiasaan Rutin Membacakan Buku

×

Perkembangan Bahasa Anak Bisa Terdukung dari Kebiasaan Rutin Membacakan Buku

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bantu Perkembangan Bahasa Anak dengan Rajin Membacakan Buku

jurnalistik.co.id – Kebiasaan sederhana di rumah—meluangkan beberapa menit setiap hari untuk membacakan buku—ternyata bisa berdampak luas pada tumbuh kembang anak. Aktivitas ini bukan hanya kegiatan rutin, tetapi juga cara yang konsisten untuk memberi rangsangan bahasa dan kedekatan emosional.

Dalam pandangan Child Mind Institute, kebiasaan membaca bersama membantu anak belajar mengeja dan membangun kemampuan literasi melalui interaksi yang berlangsung secara teratur. Saat orang tua membacakan teks, anak tidak sekadar mendengar cerita, melainkan ikut terlibat dalam alur bahasa dan makna yang menyertainya.

Membangun fondasi bahasa sejak usia dini

Kemampuan berbahasa anak mulai berkembang sejak mereka lahir. Semakin sering anak menerima paparan terhadap kosakata serta pola kalimat, semakin kuat fondasi bahasa yang terbentuk.

Neuropsikolog Laura Phillips, PsyD, ABPdN, menekankan bahwa paparan terhadap kata-kata merupakan hal krusial untuk membantu membangun jalur bahasa di otak anak usia dini, bahkan sebelum anak mampu berkomunikasi secara lisan. Menurut Laura, buku memperkenalkan kosakata dan susunan kalimat yang tidak selalu ditemui anak dalam percakapan sehari-hari.

Dari penelitian yang dikutip Child Mind Institute, anak yang rutin dibacakan buku setiap hari dapat mendengar setidaknya 290.000 kata lebih banyak sebelum masuk taman kanak-kanak dibandingkan anak yang jarang dibacakan buku. Angka ini memperlihatkan bahwa konsistensi waktu membaca bersama dapat memperkaya masukan bahasa yang diterima anak.

Melatih emosi dan belajar berempati lewat cerita

Manfaat membaca bersama tidak berhenti pada kemampuan akademik. Cerita dalam buku memberi ruang aman bagi anak untuk mengenali emosi yang pernah maupun yang belum pernah mereka rasakan.

Lewat tokoh-tokoh cerita, anak dapat belajar memahami berbagai lapisan perasaan seperti marah, sedih, takut, maupun bahagia. Pada saat yang sama, orang tua memperoleh kesempatan untuk mengajak anak berdiskusi mengenai apa yang sedang dirasakan serta cara menghadapi situasi tersebut.

Laura juga menyebut bahwa buku dapat menjadi jembatan untuk membicarakan hal yang sedang dialami anak tanpa harus mengajukan pertanyaan secara langsung. “Membaca buku dengan tema yang relevan bisa memunculkan percakapan bermakna tentang apa yang sedang terjadi dalam hidup mereka,” tutur Laura.

Memperkuat kedekatan antara orang tua dan anak

Selain menjadi aktivitas literasi, membaca bersama pada dasarnya merupakan waktu berkualitas untuk mempererat hubungan orang tua dan anak. Beberapa menit tanpa distraksi setiap hari dapat membentuk suasana hangat yang konsisten.

Pengalaman saat anak duduk di pelukan orang tua, mendengar suara yang akrab, dan memegang buku secara bersama juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Kontak fisik saat dipeluk orangtua ketika membaca dinilai membantu mengaktifkan neuron di otak, sehingga anak menjadi lebih siap menerima rangsangan bahasa dan kognitif dari pengalaman.

Membentuk kebiasaan membaca yang bertahan hingga besar

Kunci lain yang ditekankan adalah konsistensi. Dalam membangun kebiasaan membaca, pola yang terjaga dari hari ke hari sering kali lebih berpengaruh dibandingkan lamanya waktu membaca dalam satu sesi.

Dengan rutinitas singkat namun teratur, anak belajar bahwa membaca adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang datang sesekali. Ketika anak merasakan keterulangan yang nyaman, minat terhadap aktivitas literasi berpeluang tumbuh dan bertahan hingga mereka lebih besar.

Pada akhirnya, membaca bersama dapat dipandang sebagai investasi kecil yang menghasilkan manfaat nyata: memperkaya masukan bahasa, membantu anak mengenali emosi, memperkuat ikatan dengan orang tua, serta membentuk kebiasaan yang konsisten. Dengan memulai dari beberapa menit setiap hari, orang tua sudah bisa menanamkan fondasi yang akan mendukung tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.