jurnalistik.co.id – Bank sentral Korea Selatan, Bank of Korea (BOK), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 2,5% dalam rapat kebijakan pada Kamis (28/5). Meski tidak mengubah tingkat bunga, BOK justru memberi sinyal kebijakan yang sangat ketat atau hawkish di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas keuangan.
Sinyal itu muncul di saat bank sentral menilai tekanan harga dan risiko pasar masih perlu dicermati. Dalam pernyataannya, kekhawatiran tersebut dikaitkan dengan lonjakan harga minyak dunia serta melesatnya sektor industri semikonduktor. Dua faktor itu menjadi latar penting dari keputusan BOK untuk tetap menahan suku bunga, sekaligus menunjukkan bahwa arah kebijakan ke depan belum tentu lebih longgar.
Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara yang tidak bulat. Artinya, meski mayoritas memilih menahan suku bunga, tidak semua anggota dewan gubernur berada pada pandangan yang sama mengenai langkah paling tepat untuk periode berikutnya.
Penahanan suku bunga kali ini juga memperpanjang tren kebijakan yang sudah berlangsung sejak Juli tahun lalu. Sebelumnya, BOK sempat memangkas suku bunga sebanyak empat kali dalam periode Oktober 2024 hingga Mei 2025. Dengan keputusan terbaru ini, bank sentral menunjukkan sikap menunggu dan menilai perkembangan data lebih lanjut sebelum mengambil langkah berikutnya.
Indikasi hawkish dari dewan gubernur
Yang membuat keputusan ini semakin menarik adalah sinyal dari internal dewan gubernur. Dua anggota secara terbuka mendesak adanya kenaikan suku bunga. Selain itu, panduan ke depan menunjukkan ada dua anggota yang melihat risiko suku bunga acuan bisa melonjak hingga ke level 3,25% dalam kurun waktu enam bulan mendatang.
Prospek tersebut mengirim pesan bahwa ruang untuk pengetatan masih terbuka jika kondisi inflasi dan stabilitas keuangan dianggap makin menuntut respons yang lebih tegas. BOK tidak memberikan sinyal bahwa siklus pelonggaran telah selesai, tetapi nada yang muncul jelas lebih berhati-hati dibandingkan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan lanjutan.
Pasar sebelumnya sudah cukup memperkirakan keputusan penahanan ini. Dari 23 ekonom yang disurvei Bloomberg, 22 di antaranya memprediksi BOK akan mempertahankan suku bunga. Hanya satu ekonom yang memproyeksikan adanya kenaikan 25 basis poin pada rapat tersebut.
Dengan begitu, keputusan BOK tidak mengejutkan secara arah, tetapi tetap penting karena disertai nada kebijakan yang lebih keras. Suku bunga tetap di 2,5%, namun pesan yang disampaikan bank sentral menunjukkan bahwa risiko inflasi dan stabilitas keuangan belum bisa diabaikan.
Di tengah tekanan harga energi global dan menguatnya sektor semikonduktor, sikap BOK kini terlihat lebih mengedepankan kewaspadaan. Bagi pelaku pasar, kombinasi penahanan suku bunga dan sinyal hawkish ini menegaskan bahwa bank sentral Korea Selatan belum ingin memberi ruang terlalu dini bagi pelonggaran kondisi moneter.
Keputusan tersebut juga menandai bahwa arah kebijakan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, stabilitas sistem keuangan, serta bagaimana lonjakan harga minyak dan dinamika industri semikonduktor memengaruhi perekonomian Korea Selatan dalam beberapa bulan mendatang.
Meski keputusan mempertahankan suku bunga tampak selaras dengan ekspektasi pasar, nada kebijakan yang muncul jauh lebih penting untuk dibaca. BOK terlihat ingin menjaga fleksibilitas sambil menunggu arah harga dan kondisi keuangan bergerak lebih jelas. Karena itu, kebijakan tidak sepenuhnya bisa dianggap netral, melainkan masih menyimpan kemungkinan penyesuaian jika tekanan yang ada tidak mereda.
Dalam konteks ini, pasar akan memantau dengan saksama apakah tekanan inflasi tetap bertahan atau justru mulai mereda setelah faktor-faktor yang disebut bank sentral, termasuk harga minyak dan penguatan industri semikonduktor, berkembang lebih lanjut. Selama sinyal-sinyal tersebut belum memberikan kepastian yang meyakinkan, BOK tampaknya akan tetap berhati-hati dan belum terburu-buru mengubah sikap kebijakannya.












